Apa Yang Kau Cari Pengelana?

Bagi yang sudah baca bagian profil blog ini pasti tahu kalau saya pernah menyinggung kalau Pipit dan saya pernah melakukan perjalanan impulsif. Kami berdua menyambangi tiga negara; mulai dari Vietnam, berlanjut ke Kamboja, dan diteruskan ke Thailand. Singapura tidak masuk hitungan karena kami sekadar transit. Rangakaian perjalanan tersebut terjadi pada awal tahun 2012.

Baca cerita sebelumnya tentang kami yang mendadak jadi turis di Vietnam.

Pipit dan saya harus berlari-lari menuju bus yang hendak tancap gas. Kami terlambat sekitar 4 menit dari jadwal keberangkatan Mekong Bus Express yang akan membawa kami ke Siem Reap, Kamboja. Meski sempat dapat tatapan “kemana aja, Neng?” dari si petugas kami berhasil duduk manis di kursi 6A dan 6B.

Sebenarnya saya dan Pipit inginnya naik bus malam agar dapat menghemat waktu. Bayangkan 12 jam di dalam bus pada saat hari masih terang, sungguh-sungguh buang waktu. Berhubung perbatasan tidak dibuka 24 jam, mau tidak mau kami naik bus pagi. Yah…lumayanlah dapat lihat pemandangan Vietnam dan Kamboja meskipun hanya dari dalam bus.

Bus berangkat pukul 7 pagi waktu HCMC dan diperkirakan butuh waktu 12 jam perjalanan untuk sampai Siem Reap. Kami membayar 22 USD per orang (as per 2012) untuk memakai jasa Mekong Express. Sebenarnya ada yang lebih murah, sekitar 18 USD, tetapi mengikuti saran pejalan lain yang saya temui di Long Guesthouse, lebih baik memakai Mekong Express karena lebih terjamin dan mereka cukup membantu saat melewati perbatasan. Betul saja saran tersebut terbukti, kondektur bus cukup membantu kami saat memasuki perbatasan. Bahkan, dia juga membantu sepasang warga Ukraina mendapatkan visa turis.

Naik Mekong Express itu seperti ikut tur. Bila kami memasuki provinsi baru, si kondektur pasti akan memberitahukan nama dan keunikan daerah tersebut. Penjelasannya bilingual, loh, bahasa inggris, bahasa vietnam atau kamboja. Menarik.

backpacking naik bus ke kamboja
Mbak pramugari memberikan informasi tentang tempat yang sedang kami lewati.

Perjalanan panjang melintasi perbatasan cukup memberikan waktu bagi saya untuk sedikit beristirahat dan menjalankan hobi yang sudah lama tidak dikerjakan, melamun. Pikiran saya berlarian, mengingat-ingat pengalaman di Vietnam, kangen keluarga di Jakarta, dan ujung-ujungnya berhenti di masalah pekerjaan. Belum akurnya saya dengan urusan kantor menjadi salah satu alasan saya mengambil cuti yang lumayan panjang.

Pernah narasumber saya bilang “kerja untuk hidup bukan hidup untuk kerja. Enjoy your life!” yah, menurut pengamatan saya dia memang pribadi yang sudah akur dengan pekerjaannya. Kalau saya sudah pasti belum, sebab pertanyaan “what am I doing? Who am I working for? What is thing all about?” masih sering datang setiap saya melakukan rutinitas pekerjaan. Berbagai cara coba saya lakukan untuk pertanyaan belum terjawab itu. Karena enggak pernah menemukan jawaban, akhirnya saya pilih jalan-jalan, siapa tahu bisa membantu menjawab kegundahan hati.

Perjalanan dari HCMC ke Bavet (daerah perbatasan Vietnam dengan Kamboja) memakan waktu sekitar 2-3 jam. Waktu luang yang sangat panjang buat saya meliarkan pikiran. Sesampainya di perbatasan, kondektur bus menggiring kami ke bagian imigrasi. Pagi itu kantor imigrasi cukup ramai oleh turis dan juga penduduk lokal.

“Kamu pergi sendirian,” tanya saya kepada seorang perempuan yang usianya seperti akhir 20-an atau awal 30-an. Dijawabnya pertanyaan saya dengan anggukan, lalu dia menjelaskan kalau dirinya hendak ke Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Namanya Mary dan sudah dua tahun hijrah ke Phnom Penh dari negara asalnya Perancis.

Dari mulut Mary-lah saya dan Pipit dan info menarik tentang Kamboja. Sambil sarapan menjelang makan siang, kami berbagi cerita, tetapi yang lebih banyak diberondong pertanyaan adalah Mary. Beruntung Mary adalah teman perjalanan yang informatif, dia bercerita tentang banyak orang Vietnam yang sengaja melancong ke Kamboja demi bermain di kasino-kasino besar yang berada di perbatasan. Bermain di negara tetangga katanya lebih mudah dibanding di negeri sendiri. Saya belum pernah ke lokalisasi perjudian manapun, makanya waktu melihat bangunan besar, yang jumlahnya lebih dari satu, di atas tanah gersang Kamboja, saya cukup terperangah.

Mary juga menceritakan mengenai Kamboja yang masih tergolong “bayi” untuk ukuran sebuah negara. Setelah terlepas dari masa suram di bawah rezim Khmer Merah, Kamboja seperti terlahir kembali. Mereka yang berpengalaman dengan rezim Khmer menjadi pribadi yang agak tertutup dengan segala hal baru. Bukan apa-apa, mereka masih trauma. Mereka-mereka yang baru lahir setelah rezim Khmer runtuh pun bisa dikatakan buta untuk politik, atau bisa jadi mereka pura-pura buta. Anak muda Kamboja apatis, menurut Mary.

Saat itu, Kamboja sedang bersiap untuk melaksanakan pemilu. Sepanjang jalan saya paling banyak melihat plang bertuliskan Cambodian’s People Party. “Pemilu tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap penduduk, mereka masih ketakutan, mereka butuh bantuan untuk mengembangkan potensinya,” jelas Mary.

Karena masih “bayi”, banyak negara yang mengulurkan tangannya untuk “mengurus” negara kecil ini untuk mengembangkan potensinya. Mary merupakan salah satu utusan LSM dari negara asalnya. Menurut Mary bukan perkara mudah untuk bisa masuk ke lingkungan yang masih mengalami trauma masa lalu ditambah mereka tidak memakai bahasa yang sama. Benturan terjadi di sana-sini.

Misi pertama LSM Mary di Kamboja adalah mengajarkan bahasa inggris untuk sebagian orang yang tujuannya agar beberapa orang ini bisa membantu mereka untuk berkomunikasi dengan penduduk lain. Kesulitan lain yang dihadapi adalah kosakata bahasa khmer sangat sedikit, terkadang terdapat kata yang tidak memiliki padanan kata. Jadi, untuk menjelaskan satu kadang terkadang mereka harus menjebarkan definisi lengkap untuk kata tersebut.

Baca juga cerita saya menjadi pengajar bahasa inggris sukarela di Kolombia.

Melelahkan, iya, tetapi Mary mengakui menyukai pekerjaannya. Sambil menaruh satu tangan di dadanya, Mary berujar “meaningfull” untuk mengambarkan pekerjaan yang dilakukannya saat ini.

Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Phnom Penh dan bekerja di tempatnya sekarang, Mary memiliki pekerjaan yang cukup menjanjikan. Mau dilihat dari sisi penghasilan, menarik. Belum lagi pekerjaannya di sebuah maskapai penerbangan terkemuka memberikannya kesempatan untuk terbang ke satu daerah ke daerah lain, mulai dari wilayah Eropa sampai Afrika, Amerika Selatan, dan juga Asia.

Bagi sebagian orang, apa yang dimiliki Mary saat itu adalah sebuah impian. Namun, tidak bagi Mary. Setiap selesai bepergian, ia merasa bersalah karena menjadi “turis” di tempat yang dikunjunginya tanpa memberikan manfaat bagi penduduk sekitar.

I am gratefull for the last five years work experience with the airlines. I had so many experiences, I love the work, I love the people, but I wasn’t really happy to be a tourist in every place I’ve visited. I’ve seen the poor the unlucky one but I did nothing. It wasn’t easy to made up my mind and convince my parents about my will to work in NGO and leave all the things that I’ve got. Now, I get less paid, but I have a meaningfull job, and am really really gratefull with that, because I am doing something for others,” ungkap Mary.

Saya terdiam dan diliputi perasaan iri kepada Mary, wanita yang berhasil menenangkan hatinya dengan mengetahui pekerjaan yang tepat untuknya. Butuh waktu lima tahun buat Mary menemukan jalur menuju ketenangan hati, bagaimana dengan saya? Apakah butuh waktu selama itu? Apa yang harus saya lakukan untuk menemukan jalur yang tepat?

***

Pertemuan singkat kita membuat saya bersemangat mencari jalan menuju ketenangan hati. Dan, ya memang butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuat keputusan seperti Mary. Saya sendiri butuh waktu dua tahun setelah pertemuan tersebut untuk membuat keputusan berhenti bekerja dan memulai perantauan.

Lalu sudahkah saya tenang? Belum, setidaknya sekarang saya benar-benar menjadi boss untuk diri sendiri, maklumlah pengangguran. Hehehe…

Iklan

7 Replies to “Apa Yang Kau Cari Pengelana?”

  1. Jawaban atas pertanyaan itu sepertinya memang memakan waktu lama. Tak jarang lebih dari separuh hidup, hehe. Padahal cuma soal “do what you love and love what you do”, namun ketika berbenturan dengan idealisme diri, kontemplasinya jadi sedikit ribet ya. Tapi kalau saya sendiri sekarang ini mencoba untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan melakukan apa-apa yang bermanfaat. Minimal saya mesti lebih baik esok hari dari titik saya sekarang berada, terus tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bagi saya makna hidup itu adalah terus berkembang dan menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab, ketimbang loncat sana loncat sini tapi pengalaman sangat minim.
    Mary benar-benar sangat inspiratif. Terima kasih sudah berbagi, lho. Hehe. Semoga sukses selalu, hehe…

    1. setuju sekali mas Gara. Teorinya memang gampang sekali “do what you love and love what you do” tetapi saat berbenturan sama faktor2 lainlah yang bikin kita maju mundur untuk nurut sama prinsip di atas.

      Solusinya emang kagak usah ribet kali ya, jalanin aja apa yang ada di depan mata. Dan, berusaha untuk selalu berkembang seperti yang mas bilang.

      Terima kasih juga sudah ikut berkomentar. Sukses juga untuk dirimu ya mas.

      1. Ketika idealisme bertemu realita, banyak yang harus dikompromikan. Tapi jika mampu, tak ada salahnya menjadikan kenyataan sedekat mungkin dengan mimpi, haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s