Berkenalan Dengan Si Cantik Angkor Wat

Sekitar pukul delapan malam, Mekong Express berhenti di pemberhentian terakhirnya, Terminal Bus Siem Reap. Setelah bus benar-benar berhenti, saya celingak-celinguk mencari jemputan gratis yang dijanjikan guesthouse tempat kami menginap. Tidak ada satupun penjemput yang membawa papan bertuliskan “Efi”.

Tetapi mata saya tertuju pada seorang pria yang membawa papan nama “Happy Guesthouse”, saya yakin dia yang seharusnya menjemput saya, ya, kalau tidak juga enggak masalah, saya dan Pipit bisa saja ikut menebeng dengan orang yang namanya tertulis di papan nama tersebut. Toh, tujuan kami sama.

Baca rangakaian perjalanan kami di Indochina sebelumnya di sini.

 Eh,,tetapi ternyata setelah saya tanya-tanya kepada Duan, pengemudi tuk-tuk, memang dia merupakan utusan guesthouse untuk menjemput kami berdua. Lalu kenapa saya tidak ngeh dari awal? Karena Duan menulis “Yasuri” dan dia menganggap itu sebagai nama saya. Padahal penggalan akhir nama saya adalah “yasari”. Hahaha kecele deh dia.

Duan cukup informatif. Dialah orang pertama yang memberikan kami saran untuk pergi sebelum matahari terbit ke Angkor Wat keesokan harinya. Sesampai di Happy Guesthouse saya langsung jatuh hati dengan atmosfernya, pengelola meletakan restoran dan barnya di depan guesthouse. Dengan alunan musik yang enak didengar saya merasa disambut dengan hangat di Siem Reap.

Ternyata Duan bukan merupakan satu-satunya staf Happy yang ramah, seluruhnya ramah. Nga, staf sekaligus keponakan dari pemilik guesthouse, menyambut kami. Sambil mengantarkan kami ke kamar dia memberikan info ini itu tentang Siem Reap.

Sebenarnya saya lelah akibat 12 jam perjalanan, tetapi kamar tempat kami menginap sangat panas. Kipas angin yang kekuatannya sudah maksimal tidak terlalu membantu mendinginkan ruangan. Saya putuskan untuk turun ke restoran, memesan sebotol cola dingin. Segaaar! Alasan lain saya turun ke resto adalah mendapatkan sinyal wifi yang hanya ada di area ini dan juga mencari teman ngobrol baru.

“Besok mau ke Angkor Wat?” tanya seorang pria berkaca mata yang duduk di seberang meja saya. Saya jawab dengan anggukan. Dia yang mengaku bernama Maarten ini ternyata juga akan mengunjungi Angkor Wat keesokan hari, namun berhubung sendirian dia mencari turis lain yang mau berbagi sewa tuk-tuk. Saya iyakan, lumayan biaya sewa tuk-tuk seharga 15 USD (as per 2012) bisa dibagi tiga.

Tampang Maarten terlihat seperti seorang nerd. Kesan itu diperkuat dengan suara halus dan kalimatnya yang tertata rapi. Sambil berfokus pada laptopnya, pria asal Belanda ini cerita kalau dia sudah 8,5 bulan berkelana keliling dunia. Dia menunjukan peta perjalanannya, benar saja dia hampir selesai bertualang satu putaran bumi. Bikin iri!

“Mampir ke Indonesia enggak?” tanya saya. Dengan memasang senyum lebar Maarten menggelengkan kepalanya. Keterlaluan! Teriak saya. Padahal sebelum kembali ke Belanda dia akan mampir sebentar di Malaysia yang hanya 1,5 jam dari Indonesia. “I can’t, I am running out of money,” kata dia. Aduuh,,si Maarten ini pengen saya cekik, bisa-bisanya melewati Indonesia begitu saja.

Someday I will. What should I do in Indonesia? to conquer you all over again?” selorohnya.

Keesokan harinya kami bersiap pergi sebelum pajar menyingsing. Rupanya berjalan-jalan dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali ternyata cukup menyenangkan, seperti berada dalam fast track untuk mengenal satu sama lain. Terkadang tanpa sadar kita akan refleks menganggap teman perjalanan baru seperti teman yang sudah kita kenal sedari dulu.

Bahkan Pipit berani memarahi Maarten saat tahu Maarten tidak akan menapakan kakinya di Indonesia. Mengomeli anak orang yang baru dikenal beberapa jam tentunya tidak akan mudah kalau kita tidak merasa “dekat”. Maarten pun sempat sedikit menghardik ketika saya terlihat tidak menangkap omongannya. “Are you following me?” tanyanya dengan nada kesal sebelum kembali mengulang lagi pernyataanya.

angkor wat
Dua tahun setelah foto ini diambil, Maarten datang ke Indonesia.

Sedikit tentang Maarten, ternyata dia punya kebiasaan unik. Setiap melihat pejalan dia akan langsung menginformasikan kepada saya dari mana mereka berasal. “He is from Germany, I overheard when he explained to the tour guide that he was born in west but raised in east,” ceritanya sambil menunjuk pria yang sedang berjalan dengan pemandu. “They are from Belgium, that guy from Spain, those men are from Belanda,” cerocosnya. “Pentingnya buat saya apa?” tanya saya. Sambil menaikan bahunya Maarten menjawab “I am just telling you.

Percakapan kami terputus saat terperangah melihat semburat merah matahari pagi yang menjadi latar belakang Angkor Wat. Speechless. Saya selalu kagum dengan pembuat candi masa itu. Ide dan pembuatan candi di abad 8 setelah masehi tentunya bukan perkara mudah, bahkan kalau dibuat di zaman modern sekarang ini pun tidak bisa dianggap enteng.

sunrise di angkor wat
terkesiap sejenak

Sebelum beranjak ke candi berikutnya, kami bertiga memilih untuk sarapan. Kami mengikuti langkah Anna, pekerja di salah satu warung tenda, masuk ke kedainya. Di kanan-kiri warung Anna ada beberapa warung lain yang memiliki nama seru-seru seperti Harry Potter, Lady Gaga, sampai Rambo.

Sebenarnya Rambolah yang pertama mengajak kami ke tendanya. Saat kami baru sampai di Angkor Wat, Rambo menghampiri kami “Hello good morning. My name is Rambo, you can have breakfast at my tent over there after walking arround the temple. Don’t worry I will not sell anything to you right now, just come to my tent after. You are very lucky because there are not so much sky and you can see the sun rises. Enjoy your time and don’t forget my name is Rambo.” Pria muda itu dengan lancar menjalankan SOP penyambutan turis yang belum sempat sarapan untuk mampir ke tempatnya.

Memiliki kompleks candi semegah Angkor Wat memang menjadi berkah bagi penduduk sekitar. Bagi yang memiliki dana lebih mereka bisa membuat penginapan yang tampaknya akan jarang sepi. Kalau modal tidak terlalu kuat, membuka kedai makanan seperti yang dilakukan Anna, Rambo, Lady Gaga, dan Harry Potter lakukan bisa menjadi pilihan. Atau, menjual cinderamata seperti gelang, kalung, atau buku bisa menjadi opsi lain.

Saya dan Maarten tertarik membeli buku berjudul Ancient Angkor. Di sampul belakang buku tertera harga 27 USD, namun si penjual menawarkan 10 USD. Ini jebakan, sebenarnya Maarten berani bertanya harga buku tersebut karena sebelumnya si penjual bilang harganya 2 USD, ternyata harga tersebut untuk buku lain. Awalnya kami tidak mau beli, namun orang Khmer itu pejuang yang gigih, akhirnya Maarten menukarkan USD 5 dengan satu buku.

Insting bisnis pedagang ini memang kuat saudara-saudara. Dia bisa mengendus ketertarikan saya, dipaksanya saya untuk beli. “Why should I buy it, if I can borrow it from him,” kata saya sambil menujuk Maarten. Dengan sigap Maarten menyodorkan bukunya dan menyuruh saya membaca. “I am making a small business here, help me buy one. Your friend bought it from my friend but I didnt sell any,” kata si Jay-Z, gaya berpakaiannya mirip rapper agar mudah mengingat saya bikin nama panggilan untuknya.

Alasan Maarten membeli buku itu adalah untuk memudahkannya untuk berkeliling kompleks keesokan harinya, “I need this so I don’t need to have a tour guide tomorrow,” jelasnya. Sementara saya beragumen, “Well, I don’t have much time here so I will find out more from this book.

Semua alasan pembenaran tersebut berubah menjadi cacian saat kami berjalan ke candi lain. Salah satu penjual menjajakan buku yang sama seharga 1 USD. Saya dan Maarten menggerutu sementara Pipit cekikan geli. “It is ok guys, they are poor, you helped them,” kata Pipit. Saya manyun.

Kejengkelan saya sedikit berkurang saat memasuki candi Bayon. Candi yang cukup besar dengan struktur bangunan yang cukup berbahaya. Di mana-mana saya melihat ada peringatan agar pengunjung tidak bersender sembarangan. Bukan apa-apa, Bayon masih direstorasi di sebagian tempat, lagipula candi tersebut sudah dimakan umur wajar kalau rapuh.

Candi-candi lain pun banyak yang sedang direstorasi, pemerintah Kamboja mendapat bantuan dari negara-negara asing untuk memperbaiki candi-candi yang ditetapkan UNICEF sebagai warisan budaya dunia ini.

Berdasarkan buku yang saya beli, seluruh candi yang ada di kompleks Angkor Wat sempat bergantian menjadi tempat ibadah kaum Budha dan Hindu. Setiap candi dibangun untuk menghormati raja yang memimpin di masanya. Banyak sekali candi yang ada di seluruh kompleks, bila mau mengitari seluruhnya dibutuhkan waktu sekitar 3-5 hari.

Hari itu, kami bertiga hanya ambil paket satu hari dan mengunjungi lima candi terdekat dari pintu utama. Saya dan Pipit membayar 20 USD untuk sekali masuk, sementara Maarten membeli tiket terusan tiga hari seharga USD 40.

Saya melakukan kesalahan dengan memakai celana pendek dan tidak membawa kain panjang. Walhasil saat bertemu biksu saya harus ngumpet, mereka sih tampak biasa saja, tetapi saya merasa menjadi orang jahat karena tidak menghormati candi yang masih sering mereka pakai untuk beribadah.

Kalau Bayon terlihat hebat dengan relief muka budha yang menghadap ke empat arah mata angin, Ta Phrom menawarkan keeksotisan lain. Tree Hugger, begitu saya menamakan Ta Phrom. Indah sekaligus mistis melihat candi berumur ratusan tahun dililit oleh pohon-pohon tua. Candi yang pernah menjadi lokasi pengambilan gambar Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie ini adalah favorit saya.

Di sini saya dan Maarten cekikikan melihat rombongan turis Jepang yang unik. Topi lebar penghalau sinar matahari, kacamata hitam agar tidak silau, masker penampik debu, dan sarung tangan menjadi perlengkapan wajib mereka. Mereka tertutup dari kepala sampai kaki. Memangnya mereka sebegitu ringkih ya?

Karena kaki sudah mulai lelah, saya dan Maarten memutuskan untuk ke tempat Duan menunggu kami. Tapi, loh, kok, Pipit enggak ada. Maarten panik. Sambil meluruskan kaki di atas tuk-tuk, Maarten bilang kami harus kembali ke Ta Phrom bila dalam sepuluh menit Pipit tidak datang.

Don’t you worry. She will be fine, she was the one who read map in Vietnam, so she wont get lost,” ujar saya. Bukannya tidak khawatir, tetapi saya rasanya, kok, tidak sanggup masuk ke dalam, kaki saya sudah kelelahan lagian panas sekali Siem Reap hari itu. Aku tak sanggup.

backpacking siam reap
Keletihan karena terlalu banyak berjalan

Tetapi Maarten mana mau mengerti, dia berhasil menyeret saya kembali ke dalam untuk mencari Pipit. Dan, tahukah saudara-saudara dimana Pipit berada? Dia sedang duduk santai di pintu masuk Ta Phrom. Ternyata dia tidak mendengar Duan yang mengatakan akan menunggu kami di pintu keluar yang berada di sisi lain.

Pipit ditemukan, namun masalah lain timbul, kami harus kembali ke tempat Duan menunggu. Siksaan buat kaki saya yang sudah tak bertenaga. Saya hanya ingin pulang dan memijat kaki di kamar guesthouse.


tulisan ini disadur dari blog probadi saya di sini.

Iklan

10 Replies to “Berkenalan Dengan Si Cantik Angkor Wat”

  1. Harus kuat berjalan memang kalau mau jelajah Angkor itu ya. Saya sempat ke sana sekali dan persediaan air memang kudu banyak. Panas banget! Lebih panas dari Jawa. Sepertinya ada dua matahari di sana, hehe. Tapi memang indah banget kompleks itu. Kalau mau ditelaah mungkin harus berbulan-bulan seseorang tinggal di sana. Ah saya menunggu kesempatan lagi untuk ke Kamboja, semoga bisa segera, amin.
    Buku itu terakhir harganya sudah 8 USD… tapi memang isinya bagus. Semacam self-guide buat menjelajah Angkor dan penjelasannya menimbulkan rasa penasaran untuk mencari di buku-buku lainnya. Arkeologi Kamboja memang sangat kaya.

    1. emang beneran keren ya kompleks Angkor Wat itu. saking kerennya temen saya yang baru ke Thailand setelah mengunjungi Kamboja bilang “standar kecantikan kuil gw udah terlampau tinggi gara2 Angkor Wat, kuil2 di Thailand jadi keliatan gak ada apa-apanya.” hihihi

      Katanya pagoda di Bagan, Myanmar, juga keren, loh, Mas. sudah ke sana belum?

      .:Efi:.

      1. Bagan mah belum Mbak, haha.
        Iya saya setuju deh, kalau sudah ke Kamboja, yang di Thailand jadi kebanting banget, haha. Di Kamboja ada eksotisnya gitu… apalagi yang di tempatnya Tomb Raider hehe.

  2. Angkor itu memang luar biasa banget. Inget pas pertama kali berdiri didepannya di bulan paling panas (april) waaah rasanya lupa panasnya hihi… abis itu balik lagi balik lagi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s