Kejarlah Jodoh Sampai Ke Negeri Khmer

“No final kiss to seal anything…”

Setiap saya mendengar sebait lirik lagu yang dinyanyikan si Ratu Galau Dunia Adele di atas, rasanya ingin garuk-garuk tembok. Kenapa? Karena sepertinya lirik itu sengaja mengingatkan diri ini akan kebodohan yang SEHARUSNYA tidak pernah terjadi.

Masih ingat, kan, saat saya dan Pipit merencanakan perjalanan ini, kami punya tujuan masing-masing. Bagi Pipit perjalanan kali ini merupakan komitmen dari niat yang pernah terucap sekaligus ajang pelepasan kegundahan hati akibat masalah hati yang kurang baik.

Kalau saya sendiri apa ya? Hanya ingin pergi saja sepertinya. Tetapi, saya pernah berujar ke Pipit “pokoknya perjalanan kali ini harus punya kenalan baru dan saya harus punya vacation fling! Harus!” Niat itu memang pembuka segalanya. Momen mendapatkan fling pun hampir terjadi di Siem Reap, Kamboja.

Dengan plesiran kita memang berkesempatan untuk bertemu banyak orang baru. Kalau ada yang cocok bisa-bisa yang awalnya berangkat sendirian bisa punya gandengan beberapa hari kemudian. Romansa para pengembara bisa terjadi pada siapapun tanpa terkecuali. Saya dan si Abang pun bertemu gara-gara doi berkelana ke Indonesia. Nah, sekarang saya mau cerita soal roman picisan yang sempat saya alami bertahun-tahun sebelum bertemu si Abang.

***

Setelah keliling-keliling kompleks Angkor Wat bersama Pipit dan Maarten yang saya inginkan adalah mandi air dingin yang paripurna. 15 menit saya habiskan dibawah pancuran air dingin. Heaven! Berhubung sudah janji dengan Maarten untuk makan siang bareng, seusai mandi saya pun turun ke restoran hostel.

Maarten sudah anteng di meja makan sambil menatap netbooknya. Saya duduk di depannya dan mulai menyantap makan siang. Tiba-tiba Maarten bilang “yeah,, we went this morning.” Saya yakin dia tidak berbicara kepada saya, matanya memandang sesuatu di balik pundak saya. Saya ikuti alur tatapannya yang ternyata tertuju pada seorang pria tinggi berpenampilan nerd. Tak ada yang istimewa. Saya lanjutkan makan.

Kenyang makan, saya ikuti Maarten menikmati hasil jepretannya sepanjang tur setengah hari kami sebelumnya. Tetapi, mata saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Otak saya saat itu sudah tidak bekerja dengan baik, Maarten bertanya sesuatu saya jawab hal lain. Daripada aneh-aneh, saya pamit tidur dan juga mengingatkan Maarten untuk mengirimkan sejumlah foto ke e-mail saya.

Kamboja itu sangat panas saudara-saudara. Kipas angin yang berputar di kamar tidak banyak membantu menyejukan ruangan. Terbangun karena kegerahan, saya pun langsung meluncur kembali ke resto. Maarten masih duduk di tempat kami makan siang di depannya duduk si pria nerd yang disapanya tadi siang. Saya duduk di samping Maarten yang lagi-lagi menyantap mie goreng untuk makan malamnya.

Si pria nerd yang ternyata lebih suka dipanggil Jes dibanding nama aslinya Jeremy ini memulai perbincangan mengenai Angkor Wat. Dan pembicaraan pun mulai menjalar kemana-mana, bagaimana Jakarta, apa yang harus dikunjungi di Indonesia, dan makanan apa yang patut disantap selama berkunjung ke Indonesia.

Pembicaraan sempat terganggu saat salah seorang karyawan hostel mengajak Jes ke club malam itu. Dia tolak dengan halus ajakan tersebut. Tidak berhasil mengajak Jes pergi, si karyawan ngeloyor pergi.

Jes: He said he can’t get any girl because he doesn’t have sny money. No money no honey. But, I guess it is because of his attitude.
Maarten: hehehe…if you come with him, he will introduce you as ‘my rich friend from Europe’
Me: yeah,,, he will use you to get the attentions.hahahaha…

Maarten tidak bertahan lama di resto. Makan malam saya belum datang, dia memutuskan untuk istirahat duluan. Tinggallah saya dan Jes berdua. Sampai saat ini, belum rasakan getaran apapun.

Jes suka banget ngobrol, ada saja topik yang keluar dari mulutnya. Jes juga mau mendengarkan keluh kesah mengenai pekerjaan saya. Ada beberapa saran yang dia berikan untuk mengatasi masalah pekerjaan, mulai dari saran pindah kompartemen, menulis sesuatu yang sungguh-sungguh menarik perhatian saya, atau kalau perlu pindah kerja sekalian.

Me: well,,, I don’t know what I want Jes.
Jes: I am older, and don’t know what I want either Efi.

There it was. When he said those words was the moment I had butterfly flying in my stomach. Tiba-tiba saja, senyum Jes terlihat sangat manis, mata hitam yang bersembunyi dibalik kacamata perseginya tampak begitu indah. Saya pun terkesiap menyadari aksen british kental dipadu suara berat pria asal London ini sangat seksi. Yes, ladies..totally sexy!

Sejak momen itu, saya tidak hapal apa saja pembicaraan yang terjadi. Jes sempat menyarankan sejumlah film menarik untuk ditonton bahkan ia merekomendasikan buku yang dianggapnya bisa membantu saya melihat sisi lain business reporting. Tetapi deretan kata yang keluar dari mulutnya itu kabur karena saya sibuk memperhatikan betapa tipis bibirnya.

There was one moment when we laughed over something, we had eye contact. It strucked me! Bit my lips, and I could feel sweats falling on my back. That scene is recorded in my head. I surely will keep it as sweet memory from Siem Reap.

Sambil meneguk long island ice tea saya mengagumi kulit Jes yang bersih. Udara Siem Reap malam itu bertambah gerah karena entah mengapa kerja jantung saya semakin keras. Demi mengontrol emosi, saya habiskan minuman. Jes pun menawarkan saya minuman lain. Tanda-tandanya dia masih mau ngobrol sama saya, nih. Tetapi, karena saking bodohnya saya malah bilang, “it is fine. I am good!”.

LAH!!! Hanya orang bego sedunia yang menolak tawaran minum dari cowok keren yang saya yakin masih berhubungan darah dengan Jude Law karena sama-sama “yumm!”.

Benar saja saudara-saudara, Jes kembali ke tempat duduk dengan SATU kaleng Angkor Beer. Oh Tuhan, mengapa respon saya sangat tidak menguntungkan. Jujur, malam itu saya berasa punya alter ego. Setelah si mulut merespon ucapan Jes, ada sosok tak terlihat yang teriak-teriak di samping saya sambil bilang “Duh, seharusnya bukan begitu, Fi, jawabnya!”.

32

Obrolan berlanjut. Jes cerita kalau dia sempat belajar salsa karena di London sana tarian asal Spanyol itu cukup populer. Saya bilang kalau saya tidak bisa dansa, motorik saya sangat aneh tidak bisa dikontrol. Seharusnya nih, kalau emang mau flirting saya minta dia untuk show me some moves and LEAD me. Tetapi, yah, seperti bisa ditebak saya tidak merespon apa-apa atas pengakuan bahwa dirinya bisa dansa.

He finished his third beer. Beruntung saya tidak ikut-ikutan minum, Angkor Beer katanya cukup berat saya tidak yakin tubuh saya bisa terima minuman itu.

Saya jadi bingung. Jes mengaku dia baru akan bener-bener mabuk kalau sudah minum 10 kaleng, berarti masih aman karena dia baru habis 3. Nah, kan, yang jadi masalah kalau saya mabuk di kaleng pertama. Nanti kalau diapa-apain gimana? Nah, gara-gara enggak ngerti mau ngapain, saya pamit tidur dengan alasan mesti check out jam 2 pagi jadi harus siap-siap.

“Sekarang, kan, baru jam 10 malam! Ngapain buru-buru, begadang juga enggak masalah kayaknya, toh, besoknya bakal tidur seharian di bis!” si alter ego kembali marah-marah.

Suddenly I became clumsy. Droped everything I hold, mumbled words I didn’t even understand. He noticed and said, “nice talking to you Efi,”.

That was it! No kiss on the cheeks like Maarten and I had before or even a handshake. Nothing happened. My vacation fling story end that way. We didnt exchange our e-mail addres, so no way I can contact him.

daniel_radcliffe-1010
Kurang lebihnya penampakan Jes seperti ini. Sumber.

***

Sejumlah respon dari teman yang telah mendengar cerita kebodohan saya malam itu.

Pipit: Tumben. Biasanya selalu minta kontak orang. Coba tanya Maarten mungkin mereka saling bertukar kontak.

Maarten: I dont have his e-mail. You can fly back to Cambodia, he might be somewhere in the coast. Anything to find a nice and handsome brits like him!

G: Kalau gw di posisi lo, enggak tahu deh bentuk bibir gw besokan paginya bakal seperti apa.

K: ahh, getek ngebayangin laki-laki, mah. Ganti topik deh!

C: You didn’t exchange contact? Shame on you!

P: Yah, kalo urusan seperti ini, mah, memang butuh jam terbang, Fi. Hehehehe…


Tulisan ini pernah dipublikasikan di sini.

Iklan

29 Replies to “Kejarlah Jodoh Sampai Ke Negeri Khmer”

    1. betul banget, mencari jodoh juga bentuk lain dari sebuah perjalanan. kita lihat yah semesta ini akan bertindak apa pada masalah perjodohan saya. hehehe

      oh, babang Jes!

  1. Kakak…. heheh ibarat kalimat bijak : jodoh tak lari kemana. siapa tau nemu jes jes lain di perjalanan selanjutnya.

    Aku klo lagi ngelakuin perjalanan juga suka ngayal nemu sahabat hati entah itu di kereta ataupun di bandara 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s