#CelotehTukangJalan: Polandia, Bolivia, dan Somalia Tolong Tunggu Saya

Dulu sekali saat Yahoo!Mesenger berjaya saya sering gonta-ganti status. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian teman-teman yang ada di kontak pertemanan supaya mereke mengontak saya dan mempertanyakan “maksud status lo apaan tuh?”.

Biasanya sih, saya sering pasang kutipan-kutipan orang terkenal gitu biar kece di kotak status. Tapi suatu kali saya menulis “Espańa, Bolivia, Somalia”. Ketiga nama negara itu terdengar cantik di telinga karena berima. Saya sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba menuliskan nama ketiga negara tersebut hingga beberapa hari kemudian saya bilang pada diri sendiri, “those are your must visit country, Fi!

Kalau diingat-ingat status tersebut saya tulis saat baru mulai belajar bahasa spanyol atau sekitar lima tahun yang lalu. Mungkin karena itu ketertarikan bahasa itulah yang membuat saya ngebet pergi ke Spanyol. Harapannya kalau saya ke Spanyol bisa mempraktekan materi kursus yang saya ikuti sebelumnya.

Lain dulu lain sekarang. Ketertarikan saya pada Spanyol berkurang hanya gara-gara negara tersebut ada di Eropa. Dan, ada masanya negara-negara di Eropa menjadi biang kerok atas segala macam kekacauan di dunia ini, contohnya adalah: perang, penjajahan, penghapusan budaya negara lain, dan lain sebagainya.

Lalu enggak mau ke Spanyol? Mau tapi keinginan tersebut tidak sebesar sebelumnya. Niat itu, kan, harus selalu dijaga ya. Lagian saya percaya, kok, prinsip mestakung itu, makanya saya masih membisikan nama-nama negara di atas supaya didengar semesta dan mereka akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Tetapi, saya mengganti Espańa dengan Polandia. Hehehe, tetap berima.

Sebagai informasi saya bukan orang yang senang melakukan riset. Tidak jarang pula saya memutuskan sesuatu secara naif dan impulsif. Enggak cuma sekali alasan saya melakukan sesuatu cuma karena “ya, pengen saja!” atau “enggak tahu, cuma kok kedengerannya asik”. Nah, hal yang samapun berlaku untuk empat tiga negara yang sudah saya sebutkan di atas. Saya tidak punya alasan ajeg yang melandasi keinginan di atas. Yah, berhubung sekarang tema #CelotehTukangJalan adalah tentang destinasi impian saya terpaksa mikir dan cari tahu ketertarikan apa yang saya punya akan negara-negara tersebut.

Jangan lupa mampir ke blog Dita yang ngebeberin lokasi jalan-jalan impian keluarganya. Ria juga ngasih tahu bucket list tempat yang pengen dikunjungi juga negara ideal buat menghabiskan hari tua.

Polandia

Memangnya kalau ke Polandia mau ke mana?

Warsawa

Ada apa di sana?

Mau ke bekas pabriknya oom Schindler

Umm… sepertinya itu di Auschwitz

Begitulah saya, parah sekali kalau soal urusan geografi dan sejarah. Percakapan di atas terjadi saat seorang teman tahu tentang keinginan saya berkunjung ke Polandia. Dia sendiri pernah tinggal di negara tersebut makanya tertarik saat tahu niatan tersebut. Namun, dia langsung tidak yakin saat mengetahui apa yang menjadi alasan dibalik keinginan tersebut.

Sudah nonton film The Schindler’s List? Film berlatar perang dunia kedua dilengkapi dengan pembantaian kaum Yahudi ini membuat saya ingin pergi ke lokasi yang digambarkan film tersebut. Film yang disutradarai Steven Spielberg tersebut bercerita tentang seorang pengusaha Jerman, Oskar Schindler, yang mempekerjakan tahanan Yahudi di pabriknya karena upahnya rendah (familiar banget, yah?). Nah, saat keadaan perang semakin buruk dan para Yahudi banyak dibunuh, Schindler tidak lagi melihat pekerjanya sebagai buruh melainkan manusia yang patut diselamatkan.

Schindler harus menyuap petinggi Nazi untuk tidak membunuh karyawannya. Malah dia semakin gencar mendata nama-nama Yahudi baru untuk dipekerjakan di pabriknya. Makin lama pabrik miliknya bukan sekadar memproduksi perlengkapan perang, tetapi juga tempat berlindung manusia-manusia yang dianggap bersalah hanya karena lahir dari ras tertentu. Saya sih merekomendasikan film ini untuk ditonton. Sebagai informasi, film ini sempat dilarang untuk beredar di Indonesia selama masa pemerintahan Suharto.

Peninggalan sejarah holocaust sebenarnya tersebar di mana-mana, tetapi ya gara-gara film itu bikin saya ingin sekali ke Polandia. Menurut saya patut sekali ada penghargaan untuk Schindler yang telah menyelamatkan banyak nyawa orang tak bersalah. Pertanyaannya sekarang adalah, saya bakalan kuat enggak ya?

Di atas bekas bangunan pabrik Schindler saat ini berdiri sebuah memorial terkait Perang Dunia II. Selain itu ada juga Museum Auschwitz-Birkenau dengan tema sama yang didirikan di atas tempat konsentrasi pembantaian Nazi terhadap kaum Yahudi.

20080711_2049974940_amf_ps
Pintu masuk Auschwitz-Birkenau. Sumber
20080730_1545797422_k_4_ps.jpg
Bagian dalam ruang kremasi Auschwitz-Birkenau. Sumber.
snc00532
Memorial di bekas pabrik Schindler. Sumber.

Bolivia

Saat sedang rajin-rajinnya belajar bahasa Spanyol saya tergila-gila pada seorang aktor asal Meksiko yang guanteng maksimal, Gael Garcia Bernal. Setiap filmnya saya coba untuk tonton. Alasannya biar bisa berlatih mendengarkan bahasa spanyol dari si babang ganteng. Hihihi…

Salah satu film Bernal-lah yang membuat saya ingin pergi ke Bolivia. Film berjudul Tambien La Lluvia yang berlatar pada tahun 2000 dan berdasarkan dua kisah nyata. Film ini bercerita tentang segerombolan pembuat film yang datang ke Bolivia dalam rangka pengambilan gambar film yang bercerita tentang kedatangan Christopher Colombus ke dataran Amerika. Kedatangan pelayar berbendera Spanyol tersebut bertujuan untuk mengambil kekayaan alam daerah tempatan.

Nah, ditengah-tengah masa produksi film tersebut, ternyata kondisi Bolivia saat itu sedang krisis. Pemerintah Bolivia mendapatkan anjuran dari IMF untuk memprivatisasi perusahaan airnya kepada perusahaan asal Perancis. Aksi pemerintah tersebut tentunya ditolak oleh masyarakat setempat karena mereka harus membayar mahal untuk air yang dikeluarkan dari perut bumi tempat mereka tinggal. Dan yang paling parah adalah uang tersebut akan masuk kantong perusahaan asing. Sama saja ya seperti cerita Colombus?

“Sekarang mereka akan ambil air dari tanah kita dan meminta kita untuk memayarnya. Besok-besok mereka akan mematok biaya juga untuk air hujan (tambien la lluvia) yang turun di tanah kita!” ujar salah satu demonstran penentang privatisasi.

Aksi demontrasi tersebut terkenal dengan sebutan 2000 Cochabamba protestSelesai menonton film ini saya makin kesengsem sama Bernal karena dia selalu memilih film dengan tema yang menarik dan dia pun selalu bisa mempertahankan kegantengannya dalam kondisi apapun. 

Lalu apa gara-gara film itu saja saya mau ke Bolivia? Umm… enggak juga. Bolivia merupakan salah satu negara di Amerika Selatan dengan rasio penduduk indigenous tertinggi. Makanya muka penduduk asli negara tersebut terlihat sangat menarik, berbeda dengan negara-negara sekitarnya yang fitur mukanya sudah berakulturasi dengan orang Eropa. Tentunya kebudayaan mereka juga akan sangat menarik untuk diperhatikan.

South American scene
saya juga mau nonton “cholitas” pertandingan gulat wanita khas Bolivia. Sumber.

Ibu kota Bolivia, La Paz, merupakan kota administratif tertinggi di dunia karena berada di ketinggian 4.058 meter di atas permukaan laut. Saya ingin merasakan betapa sulitnya berebutan oksigen di atas pegunungan Andes tersebut. Bahkan katanya Lionel Messi pun dibuat kewalahan saat bertanding sepak bola di kota tersebut.

Kabarnya, sih, pengajuan visa bagi WNI ke Bolivia tidak mudah. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niatan saya untuk bisa pergi ke sana. Saya kan juga ingin punya foto wajib di Salar de Uyuni, dataran garam terluas di dunia. Dan saat musim penghujan datang dataran tersebut akan berubah menjadi cermin raksasa.

Somalia

Saya belum pernoh nonton apa-apa sebelum nama Somalia masuk ke dalam rangakaian nama negara yang masuk dalam daftar wajib dikunjungi. Baru bertahun-tahun setelahnya saya menonton film Captain Philips yang bercerita tentang pembajakan kapal yang dilakukan pembajak Somalia.

Yah, cerita-cerita menyeramkan seperti itulah yang menjadi informasi saya soal Somalia. Sebenarnya sih dulu saya ingin sekali bisa ke Somalia dengan status wartawan perang. Namun, niat tersebut saya hapus sampai benar-benar bersih. Soalnya kalau saya mau menjaga niat untuk menjadi wartawan perang berarti secara tidak langsung saya mendukung adanya perang biar bisa terus berkarya.

NO WAY! Let’s make love not war!

Memang, sih, pengetahuan saya soal Somalia cuma berdasarkan apa yang dikatakan media massa. Meskipun ada tugas media adalah memberikan berita yang sebenar-benarnya tetapi mereka tidak lepas dari framing ide yang ingin disampaikan kepada khalayak. Bisa jadi Somalia tidak sebegitu bahaya bagi wisatawan, tetapi untuk saat ini Somalia tetap saya hapus sementara dari negara wajib dikunjungi.

Siapa sih yang tahu akan masa depan? Tidak ada. Saya juga tidak tahu kapan rencana-rencana di atas akan terlaksana tetapi setidaknya semesta sudah mendengar cerita saya, semoga saja dia mau berkonspirasi untuk mewujudkannya.

Iklan

5 Replies to “#CelotehTukangJalan: Polandia, Bolivia, dan Somalia Tolong Tunggu Saya”

  1. Aaamiiinnn.. Ya ampun Fii itu Salar de Uyuni juga gw suka abis liat fotonya pertama kali dulu. Bolivia deket Kolombia gak sih? Haha tetiba buta peta.. 😀 Mumpung ada di satu benua yg sama Fiii, ajaklah abang ke sana.. 😀

    1. cantik ya, Ta. Satu benua sih Bolivia dan Kolombia tapi gak deket-deket amat. Si doi udah pernah ke sana, dia ogah kalau diajakin balik lagi. gw cari babang baru aja buat traveling bareng. jiahahaha

  2. Gw langsung kepo tentang Warsawa. Baru denger nama tempat ini..kemanaa ajaa yak. Keren bingit background sejarahnya. Kayaknya bakal masuk list tmpt yg jg ingin gw kunjungi nie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s