Tentang Menantang Hidup

Sekuat tenaga saya memaksa mata terbuka. Masih dini hari, hampir pukul dua malam. Pipit dan saya sudah siap menunggu jemputan bus malam, siap menuju tujuan perjalanan berikutnya, Phuket, Thailand.

Tuk-tuk jemputan datang, mengantarkan kami ke tempat berkumpul untuk kembali menunggu bus ke perbatasan Poi Pet datang. Kami yang masih berada dalam kondisi di antara tidur dan sadar, duduk di sebuah sudut. Rasa kantuk membuat kami malas berbasa-basi dengan calon penumpang lainnya, seorang pria bule dan dua perempuan Jepang.

#tree #life #sky #blue I tought I took this pict apparently not. Credit to W.

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Dalam diam, kami terus menunggu. Tiba-tiba dia datang. Wanita muda mungil. Tanpa diberi tahu, saya yakin dia orang Jepang, mata dan kulitnya menjelaskan semuanya. Berbeda dengan kami, wajahnya cerah dan dengan ramah menyapa kami. Dia yang bernama Eri sibuk berbicara dengan Pipit, sementara saya sibuk melihat penampilannya.

Tidak salah kalau saya bilang turis Jepang sangatlah fashionable. Di pukul dua dini hari, eyeliner dan maskara sudah terpasang rapi. Semburat blush on pun terlihat, jangan lupakan aksesoris walaupun tidak terlalu banyak.

Selama perjalanan, bukan hanya Eri yang terlihat rapi jali, rata-rata turis Jepang lain seperti dia. Dua perempuan Jepang yang sedang asik mengobrol di depan kami pun rapi. Yang saya maksud rapi adalah mereka berpakaian layaknya mereka sedang berjalan-jalan saat hari terang. “Saya harus cari tahu mengapa mereka berpakaian seperti ini,” saran saya kepada diri sendiri.

Eri masih berusia dua puluhan. Nampaknya tidak berbeda jauh dengan umur saya. Dia mengaku sebagai solo traveler, sudah dua bulan terakhir dia menyusuri China dan India. Target berikutnya adalah kawasan Asia Tenggara. Tertarik dengan pembicaraannya, saya nimbrung “how long are you gonna travel?”. “Four years,” jawab dia.

Tanpa dikomando saya dan Pipit gelagapan. Baru kali ini saya mendengar ada yang mau traveling sampai empat tahun. selama perjalanan kami, paling lama target perjalanan para traveler hanya sampai satu tahun sebelum mereka melanjutkan perjalanan berikutnya.

Why?” selidik saya.

Dengan santai, Eri berkisah kalau dia ingin menantang dirinya sendiri. Ia ingin memaksa dirinya untuk mampu beradaptasi dengan semua kondisi. Dia juga tidak sungkan bila harus tidur di emperan jalan, sebab memang itu yang dia inginkan. Bertahan hidup walaupun kondisi tidak nyaman.

How do you support yourself?” pertanyaan sensitif tapi terlalu sulit untuk tidak diajukan. (Psst,,, setelah tahu tentang program Work and Holiday  (WHV) di Australia saya tidak pernah mengajukan pertanyaan di atas kepada siapapun lagi).

Eri tidak terang menjawab, hanya mengatakan dirinya telah bekerja tiga tahun terakhir dan menyisihkan pendapatannya untuk perjalanannya. Tiga pekerjaan dia jalani sekaligus. Satu pekerjaan penuh dan dua pekerjaan paruh waktu. Demi memenuhi tujuannya, dia rela untuk tidur hanya empat jam seharinya. Mendengar ceritanya saya hanya garuk-garuk kepala, kapan terakhir saya punya determinasi tinggi seperti itu. Eh,,malah kalau diingat-ingat saya tidak pernah alami hal seperti itu.

#tree #life #sky #blue

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

“Hola!” sapa saya. Berkenalanlah kami. Ternyata dia bukan orang Spanyol seperti yang saya kira, Perancis merupakan negara asal dia. Dia memperkenalkan diri sebagai Pablo, traveler on the wheel. Dia sudah berkeliling Amerika Selatan dengan sepedanya selama enam bulan. Kejutan kedua pagi itu.

Pablo mengaku tidak bisa tidak menggunakan “mesin” sebagai alat gerak. Dia tunjukan gambar sepeda rakitannya yang saat itu di simpan di Meksiko. Dia akan kembali untuk mengambilnya sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia. Dia bilang akan ke Indonesia juga tahun ini atau tahun depan. Dia sudah mendaftarkan diri dalam sebuah grup pengelana yang akan menyebrang lautan yang terbentang di antara daratan Amerika Selatan dan Indonesia. “Hah!”. Kejutan lain.

Pablo menunjukan papan luncur yang menjadi teman perjalanannya kali ini. Ia memilih perangkat itu karena ia tidak terlalu lama di Asia dan papan kayu tersebut sudah cukup baginya.

Bagi saya Pablo merupakan tampilan masa depan Eri. Kenapa? Tujuan Eri berjalan-jalan adalah untuk mengasah daya tahan hidupnya agar bisa beradaptasi dengan segala macam keadaan seperti apapun, Pablolah contohnya. Pablo mengaku, kalau tiba-tiba semua harta benda yang ada di dalam tas punggungnya raib dan menyisakan pakaian di badan, ia masih bisa bertahan hidup.

Mencari makna hidup, itu alasan Pablo mengayuh sepedanya ke berbagai pelosok bumi. Sedikit dari pengalaman perjalanannya yang diceritakan, salah satu inti yang berusaha ia sampaikan adalah “people is good”.

Pernah ia meminta bermalam di sebuah rumah penduduk lokal, dia tidak mengerti bahasa setempat namun ia memberanikan diri untuk meminta si empunya rumah untuk menggelar kantung tidurnya di teras. Bukannya mendapatkan teras, justru dia diajak masuk ke dalam rumah, ditunjukan ruang kosong buat dia menggelar perangkat tidurnya, diarahkan ke kamar mandi, bahkan dia mendapat sepiring makan malam yang masih hangat.

#tree #life #sky #blue

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

You can’t live with nobody. There will always be the time when you need to find another person, so you won’t feel lonely. Sharing a plate of your-just-made pasta with someone is way much more better than it eat alone by yourself. People is good,” celoteh Pablo.

***

Pasti kalian sudah sering dengar kutipan “travel is all about the journey not the destination“-perjalanan bukan sekadar destinasi tetapi juga pengalaman. Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. Pertemuan dan percakapan ringan dengan orang asing yang saya temui selama keliling Indochina dengan Pipit pun memberikan kesan tersendiri.

Baik Eri maupun Pablo mengajarkan saya untuk menantang diri sendiri dan lebih terbuka dengan kondisi macam apapun. Pertemuan saya dengan kedua pengelana dari belahan dunia berbeda itu menjadi semacam “bahan bakar” bagi saya untuk mengikuti jejak mereka.


Tulisan ini dipublikasi ulang dari blog pribadi saya di sini.

Iklan

2 Replies to “Tentang Menantang Hidup”

  1. Ya selama masih muda gunakan wkt utk travel. Tp jangan lupa untuk nabung. eri travel 4 taun gt, ntar balik ke jepang kerjanya apa ya? Kan disana kompetitif sekali. Mungkin dia nyoba cari start dengan kerja full time gt. Dia Based nya negara mana ya?

    Wah…suka seneng bayangin kalo bisa traveling lama gt. Plg enak jalan2 gak mikirin duit, sih. Aduhhhh semoga aku menang lotere yaa. Aminnn aminn 😆

    1. saya enggak dapat kabar lanjutan dari Eri, mbak. iya enak ya bisa traveling lama begitu. Eri diuntungkan statusnya sebagai WN Jepang yang punya kerja sama work and holiday dengan beberapa negara jadi memudahkan dia untuk kerja di negara tujuan sambil traveling.

      amiin, semoga dapet durian rontok deh biar bisa jalan-jalan ya mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s