Hai Perempuan Sejagad Raya! Selamat Menentukan Pilihan

Salah satu esensi dari sebuah perantauan adalah banyaknya pelajaran yang bisa saya kantongi. Saya pun yakin pelajaran-pelajaran yang berhasil saya comot diperjalanan itu akan berguna dalam menentukan pilihan yang baik untuk diri sendiri. Tidak hanya itu, hal tersebut juga bakal bermanfaat untuk menghargai pilihan orang lain.

Sampai sekarang setidaknya ada beberapa hal penting yang akan selalu saya ingat dan jadikan pegangan. Pendidikan jalanan yang saya dapatkan dari para wanita-wanita yang hidupnya jauh dari hingar bingar Hari Perempuan Internasional. Meskipun tanpa adanya perayaan, mereka sudah menjalankan hidupnya sesuai keinginan mereka.

Perbedaan Perempuan dan Laki-Laki Hanya Sebatas Alat Kelamin

Suatu hari saya pernah mengeluh karena selalu kena omel teman perjalanan karena tidak bisa memegang clurit dengan benar untuk memotong rumput. Kecepatan saya memotong jauh tertinggal dari yang lainnya. Berkali-kali saya mencoba mengayunkan tangan seperti arahan, tetap saja rumput-rumput tersebut tetap berdiri.

Hari berakhir, sebuah pesan singkat saya kirimkan kepada seorang teman. Curhat. Berusaha berempati, teman mengirimkan balasan, namun komentarnya membuat saya mengernyitkan dahi.

“Kamu kan, perempuan. Kok, disuruh potong rumput!”

Jawaban si teman, membuat saya gagal menjadi seorang manusia. Memotong rumput itu urusan sepele. Semua orang bisa melakukannya, kalau mau. Enggak ada hubungannya sama sekali sama jenis kelamin yang kita miliki.

Saya percaya hal tersebut karena salah satu rekan bekerja adalah seorang perempuan yang tangguhnya luar biasa. Panggil dia Joobi, perempuan India yang terpaut usia dua tahun lebih tua dari saya, bisa bekerja memotong rumput dua jam tanpa berhenti. Bahkan, dia sanggup memanggul potongan rumput yang beratnya sampai puluhan kilo di atas kepalanya.

Bisa karena biasa.

Suatu kali di Thailand, saya sempat terperangah saat perempuan ikut bekerja membangun rumah bersama buruh pria. Saya terlampau terbiasa melihat pekerja konstruksi adalah pria-pria berotot. Makanya saya sempat meragukan kemampuan perempuan yang sama-sama ngaduk adonan buat memplester tembok.

Memang sih pekerjaan itu menguras tenaga. Saya sudah buktikan sendiri saat harus mengaduk adonan, duh untuk mengangkat sekopnya pun tidak enteng. Saya coba ikut memplester tembok, baru kerja sejam pergelangan tangan sudah kelelahan, sementara para perempuan pekerja konstruksi terlihat biasa saja.

Mereka, lagi-lagi bisa karena biasa.

Karena menyetir traktor bisa dilakukan siapa saja

Perempuan Adalah Tuan Atas Tubuhnya Sendiri

Sebuah percakapan ringan dengan seorang perempuan yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih rumah teman saya memberikan sebuah pelajaran penting dalam hidup saya. Obrolan yang awalnya tak tentu arah, karena saya tidak bisa berbahasa Spanyol, berubah menjadi menarik saat si lawan bicara mengaku kalau dirinya sudah steril. Dia tidak bisa memiliki anak LAGI di masa depan.

Saya terbelalak. Informasi yang sulit saya terima karena dua hal; satu, saya baru pertama kali bertemu dengan orang yang memutuskan untuk mensterilkan dirinya. Dua, usia si lawan bicara baru 27 tahun.

Sebutlah namanya Paula, ia berkisah niat tersebut datang saat anak pertamanya berusia satu tahun. Saat itu, ia sudah berpisah dengan ayah dari anaknya dan menjadi orang tua tunggal. Berpikir ingin memberikan yang terbaik untuk anak satu-satunya maka ia memutuskan untuk tidak hamil lagi. Memiliki seorang anak bukan perkara mudah bagi Paula mengingat dia hanya pekerja serabutan yang berpenghasilan tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan. Mungkin akan berbeda kalau pasangannya masih ada dan bersedia untuk ikut membesarkan anaknya.

“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya satu-satunya. Saya mau memberikan pendidikan yang bagus untuknya agar nanti dia memiliki kehidupan yang lebih baik,” tutur Paula.

Sebelum tindakan sterilisasi dilakukan, dokter menyarankan Paula untuk berkonsultasi dengan psikiater. Paula tidak sakit mental dan dia menyadari betul konsekuensi yang akan dia miliki di kemudian hari, tidak ada lagi anak yang akan terlahir dari rahimnya. Alasan logis dan rasional Paula “mau dikasih makan apa anak saya nanti? sekarang saja saya hidup sulit.”  memuluskan niatannya untuk sterilisasi.

Setahun setelah tindakan tersebut, Paula kembali rujuk dengan ayah dari anaknya. Si pria marah ketika mengetahui kondisi pasangannya. Jawaban Paula membuat saya ingin mengangkatnya tinggi-tinggi. “Saya tidak butuh kamu untuk menentukan apa yang harus saya lakukan terhadap tubuh saya sendiri. Kalau kamu masih ingin bersama silakan, kalau tidak ya, tidak akan jadi masalah!”

Memilih untuk mensterilkan diri, menurut saya, adalah tindakan yang sangat ekstrim. Tapi balik lagi ke kondisi si pelaku kalau mereka merasa tidak akan sanggup membesarkan anak ya, tindakan mereka untuk steril merupakan cara termudah mengindar dari masalah.

Saya belum menemukan data seberapa banyak wanita Kolombia yang melakukan sterilasasi dengan berbagai macam alasannya. Tindakan sterilisasi sendiri sudah dilegalkan di negara ini sejak 2006. Ya, perempuan memiliki hak penuh atas tubuhnya sendiri. Eh, tapi sebenarnya ada sejarah kelam juga sih kenapa para perempuan mau sterilisasi. Saya enggak bakal bahas sekarang deh, takut salah bikin simpulan.

Cerita yang sama juga terjadi di Venezuela. Krisis ekonomi yang tak berujung membuat mereka yang masih hidup kesulitan mendapatkan sumber makanan. Oleh karenanya, kehadiran manusia baru akan menambah beban di pundak para calon orang tua. Sila klik tautan di bawah.

Perempuan Bukan Pengekor Laki-laki

Omongan politisi Polandia di atas bikin kuping perih dan hati sakit, deh. Ya karena kenyataannya perempuan tidak melulu seperti apa yang dia bilang. Bodoh, badan kecil, lemah dan segala macam kekurangan fisik dan intelektual, mah, bisa dimiliki siapa saja.

Sudah pasti saya tidak percaya dengan teori bapak politisi. Toh, tidak sedikit saya melihat perempuan luar biasa dalam urusan pekerjaan. Salah satu contoh nyatanya adalah si ibu menteri yang dulu resign sekarang balik lagi ikut kerja bareng sama Pak Jokowi. Dia menjadi seorang yang mumpuni ya karena emang dia punya kualitas.

Contoh yang paling dekat dengan saya adalah seorang teman yang kini bekerja di kantor pusat sebuah perusahaan multinasional. Awalnya dia bekerja di Jakarta, namun kemudian dimutasi ke Perancis untuk mengomandani divisi yang baru dibuat. Suami si teman pun terima saja saat harus pindah negara kediaman. Mereka berdua percaya, siapapun bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik, saat tawaran datang maka tak ada salahnya untuk mengambil kesempatan itu. Realistis aja, deh.

***

Iya sih kalau ngomongin soal urusan perempuan dan laki-laki enggak akan ada akhirnya. Setiap orang pasti punya pendapatnya masing-masing. Berkali-kali melakukan gerakan untuk meneriakan kesetaraan antara posisi perempuan dan laki-laki belum berhasil menunjukan hasilnya sampai sekarang. Di mana-mana posisi perempuan masih dinomorduakan. Tapi kan bukan berarti kita tidak bisa mengangkat posisi kita sendiri.

Selama kita bisa beraktualisasi dalam bidang apapun ya, lakukanlah. Jangan membatasi diri sendiri. Saat kita punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas kita ya, lanjutkanlah. Misal ingin lanjut sekolah lagi tetapi ragu karena si pria pasangan kita punya jenjang pendidikan lebih rendah dibanding kita. Ya, itu sih pilihan dan nasib kalian sendiri punya pemikiran seperti itu.

Setiap orang bertindak untuk kepentingannya sendiri, jadi kalau ada yang bertindak agak nyeleneh tetapi tidak merugikan kita, sih, hargailah. Seorang teman pernah berkomentar bahwa orang yang melakukan aborsi tidak memiliki hati nurani. Komentar tersebut terucap ketika ia mengetahui tengah mengandung anak pertamanya dan dia bilang sudah jatuh cinta pada si jabang bayi.

Mungkin bagi si teman, memiliki pasangan yang cukup mapan dan tidak memiliki kekhawatiran finansial, berapapun anak yang akan mereka punya tidak akan jadi masalah. Tapi, bagaimana dengan mereka yang memiliki kondisi seperti perempuan di Kolombia dan Venezuela di atas? Perlakuan terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghargai keputusan mereka tanpa menghakimi. Bukankah setiap manusia ingin dihargai dan diapresiasi terlepas apapun jenis kelamin mereka?

Iklan

3 Replies to “Hai Perempuan Sejagad Raya! Selamat Menentukan Pilihan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s