#CelotehTukangJalan: Bongkar Muat Tas

Seberapa ribet sih kalian soal urusan packing? Butuh berapa hari sebelum keberangkatan untuk memulai mengepak barang yang harus dibawa? Barang apa saja yang harus dipastikan setiap bepergian?

Memang ya, urusan packing itu bukan perkara mudah. Bagi sebagian orang rasanya ingin membawa satu lemari penuh berisi pakaian, apa lagi para pejalan cewek biasanya kan, ribetSaya sendiri sempat kelimpungan saat memulai perantauan pertama kemarin yang berakhir di Australia.

Perjalanan yang diniatkan hanya dua belas bulan, malah baru tuntas setelah delapan belas bulan. Untungnya selama itu, beban barang bawaan tidak banyak berubah. Malah, tas saya sepertinya lebih lowong karena banyak pakaian yang saya buang di tengah perjalanan.

Sepulangnya dari perantauan pertama kemarin, meskipun tidak banyak kemajuan signifikan, saya bisa lebih ciamik dalam memilah apa saja yang harus dibawa.

Baca juga cerita Nita | Dita | Ria

Yang Harus Selalu Ada

Peralatan mandi serta handuk (setidaknya yang berukuran kecil) wajib dibawa. Sewaktu masih sering dapat penugasan luar kota dari kantor, saya jarang bawa perintilan macam ini karena selalu pikir akan disediakan oleh penginapan. Beruntungnya saya waktu itu selalu menginap di hotel berbintang dengan standar kelayakan yang baik. Tetapi setelah mendengar gosip kalau handuk hotel itu bisa jadi tidak dicuci dengan benar, saya pun geli sendiri.

Oleh karena itu, sekarang saya selalu membawa handuk sendiri. Saya pilih yang ukurannya kecil saja demi menghemat ruang. Sedangkan peralatan mandi saya cuma bawa sabun batangan dan shampoo dalam kemasan kecil. Sikat dan pasta gigi ukuran kecil pun tersimpan rapi di pouch.

Kamera pun selalu saya bawa. Untungnya jenis kamera yang saya punya sebatas pocket jadi enggak disibukan dengan perintilan ini itu.

Perjalanan Durasi Pendek

Yang saya maksud di sini adalah perjalanan dengan durasi kurang lebih dua minggu. Selain peralatan mandi dan handuk, biasanya saya menyiapkan pakaian yang bisa dipakai sampai empat hari plus pakaian tidur.

Kalau tempat tujuan tergolong panas bin bikin gerah, biasanya saya akan membawa tiga potong atasan, satu celana pendek, dan celana panjang, satu daster, celana sport pendek (bisa untuk tidur juga berenang), dan kaos tipis untuk tidur. Untuk alas kaki saya hanya bawa sendal gunung.

celana sport pendek bisa untuk berenang dan tidur

Bagaimana kalau di tempat yang bikin semriwing?

Jumlah atasan yang akan dibawa tetap sama, namun lebih didominasi dengan pakaian lengan panjang biar lebih hangat. Selain itu, saya juga bakal bawa wool stocking yang emang bikin hangat. Jaket pun sudah pasti ada di dalam tas. Kalau memang daerah tujuan memang dingin banget pasti saya bawa thermal undercloth biar makin hangat. Nah, untuk kali ini saya bawa satu sepatu dan tiga pasang kaos kaki.

Oh iya, saya juga bawa kain bali. Biarpun tipis tapi banyak manfaatnya. Bisa dijadikan syal biar tambah hangat. Beralih fungsi menjadi handuk pun mantab. Menjadi masker mata saat menumpang bus malam pun tak jadi soal. Bahkan bisa dijadikan penghalau sinar matahari kalau diperlukan.

Kain bali tinggal dililitkan di sekitar leher untuk menghalau dingin.

Kenapa perhitungannya cuma sampai empat hari? Ya karena baju bisa sering-sering di cuci. Untuk perjalanan durasi pendek ini saya cuma butuh satu daypack.

1936756_10208852997540196_1796106246267832928_n (1)

kadang ingin sekali punya kantong Doraemon supaya tidak usah packing

Perjalanan Durasi Panjang

Nah, yang satu ini nih kadang jadi PR. Gara-gara mau jalan lama rasanya ingin sekali bawa banyak tetek bengek. Selalu aja berpikir “siapa tahu nanti butuh?” Padahal mah kenyataannya enggak melulu demikian. Saya saja sampai rela membuang banyak “sampah” dari dalam tas. Ya, karena memang tidak butuh.

Mau tidak mau, perjalanan durasi panjang bakal memaksa kita untuk membawa kebutuhan ekstra. Suka tidak suka, kita akan membawa pakaian yang cocok untuk daerah dominan panas dan dingin. Sepatu dan sendal pasti akan dibawa juga. Jaket tebal dan tipis pasti dibawa. Gara-gara perhitungan ini juga mikir “siapa tahu nanti butuh”, saat merantau pertama kemarin saya bawa beban sampai 17 kg. Duh, berat. Gara-gara kebanyakan gendong backpack saya sampai turun berat badan.

Selain kebutuhan sandang, saya pun membekali diri dengan kopi identitas diri seperti passpor, KTP, sampai akte lahir (enggak tahu rasanya penting dibawa). Laptop dan hard disk tambahan pun harus saya bawa. Ya, siapa tahu saya bosen kan, bisa nonton.

Berhubung saat perjalanan panjang kita tidak tahu bakal seperti apa kondisi yang akan dihadapi, maka saya selalu membawa barang-barang yang statusnya penting tidak penting.

Apa saja?

Sleeping bag. Selain berfungsi menghangatkan, benda satu ini pun bermanfaat sebagai seprai. Setidaknya bebas deh dari rasa was-was apakah seprai yang kita tiduri sudah dicuci bersih atau belum. Eh, tapi harus lihat-lihat situasi juga, beberapa hostel melarang penggunaan sleeping bag. Hal itu dikarenakan mereka khawatir akan kebersihan sleeping bag yang dipakai pelanggannya. Takut ada serangga atau kutu.

Meskipun jarang kongkow-kongkow saya selalu membawa satu-dua pakaian semi formal. Ya, siapa tahu bisa dapat undangan untuk pergi kemana gitu, saya masih bisa tetep tampil kece.

Apalagi ya? Ooh,,, adaptor universal. Yang satu ini, mah, penyelemat banget.Enggak usah repot mikir di negara A model colokan listriknya seperti apa ya?

Buku dan e-book reader juga tak boleh dilupakan.

Yang terakhir nih, saya selalu bawa uang rupiah dengan nominal 1.000-5.000. Meskipun nilainya enggak gede-gede amat, uang ini bisa dijadikan memento buat orang-orang yang ditemui di jalan. Saya pun pernah dapat beberapa mata uang asing. Namun, mereka lenyap gara-gara saya ceroboh menaruh tas kamera, yang juga berfungsi sebagai kantong penyimpan uang, dalam bus yang menuju Melaka dari Kuala Lumpur, Malaysia.

*

Setelah menulis blog ini, kok, saya jadi mikir kalau packing itu enggak ribet ya. Apa karena semua ini hanya teori yang baru terlihat nyata saat diaplikasikan? Soalnya saya belom bisa packing di bawah 10 kg untuk perjalanan jangka panjang. Untuk perantauan yang sekarang ini saja berat backpack saya sampai 13 kg, belum ditambah daypack yang penuh dengan laptop, kamera dan tetek bengek lainnya.

Kalau kalian biasanya bawa apa saja saat melakukan perjalanan?

 

Iklan

6 Replies to “#CelotehTukangJalan: Bongkar Muat Tas”

  1. Gw gak ngerti deh kalo ntar sekeluarga traveling lbh dari seminggu, macam apa bawaannya.. Nginep 2 hari aja heboh ahahaha 😀 Bawa baju formal penting juga itu fiii, mana tau kan ada acara kemana jd gak ribet mikir mau pake baju apa 🙂 Ah iya ya sarung Bali puuun ternyata bisa kepake cemacem.. 😀

    1. Boo sama Mika disuruh bawa tas sendiri, Ta. hahaha

      Beneran ribet ya ternyata kalau ada anak2. waktu itu gw ngeliat artis siapa gitu pergi bareng dua anaknya, kopernya sampe lima biji. Duh maaak.

      lo udah follow travelmadmum belom di IG? mereka pernah loh traveling delapan bulan bertiga (anaknya masih di bawah umur 1 tahun) cuma make 1 backpack. standing applause

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s