BERSELANCAR DI GUNUNG SALJU GLENCOE

Saya bertemu beberapa teman yang sama-sama kuliah di Newcastle Univesity di Edinburgh. Kami memang berjanji untuk bertemu di kota ini untuk melanjutkan perjalanan ke gunung bernama Glencoe di ujung Scotland. Kami menyewa sebuah mobil untuk mencapai sebuah resort ski di kaki gunung.

Sebenarnya pemilik sim Indonesia boleh berkendara di Inggris tanpa harus mengurus pembuatan sim internasional. Namun untuk meminjam mobil, kami harus menunjukkan sim internasional dan berhubung teman yang menyetir belum berumur 25 tahun, tempat penyewaan mobil menambah biaya hingga 25 pound per hari. Mungkin mereka berpikir, orang-orang yang berumur di bawah 25 tahun tidak begitu bertanggung jawab sehingga dikenai biaya tambahan. Padahal mah udah baliq… (apaan dah).

Perjalanan menuju Glencoe Mountain sangat indah, terutama di saat musim dingin. Bukit-bukit dan lembah di kiri kanan jalan ditutupi salju putih bersih. Sangat indah. Kami melewati Loch Ness. Danau yang dulu sempat menghebohkan dunia karena seorang jurnalis foto di Inggris menangkap penampakan makluk purba besar seperti dinosaurus berleher panjang sedang berenang. Beberapa orang lainnya juga mengaku pernah melihat makluk yang kemudian disebut Nessi itu. Danau tersebut menjadi sangat terkenal dan banyak dikunjungi turis. Seorang teman saya yang mengaku bisa melihat hal-hal supranatural membenarkan adanya si Nessi ketika kami melewati danau tersebut hahaha

 

Kami sampai di resort tersebut sudah terlalu malam, sehingga langsung tidur.Kami tidak tidur di kamar tapi di microlodge, semacam rumah Hobbit yang berbentuk batang kayu besar yang di dalamnya terdapat beberapa matras untuk tidur. Esok paginya kami tidak mandi karena terlalu dingin, layaknya orang-orang Inggris. Karena cuacanya yang dingin, umumnya orang Inggris tidak mandi setiap hari.Sebagai gantinya mereka menggunakan parfum berbau tajam untuk menyamarkan bau badan mereka. Sampai-sampai membuat saya pusing. Seperti ketika saya menulis tulisan ini di perpus, bule di sebelah saya menggunakan parfum yang membuat saya ingat pada pengharum mobil yang biasanya digunakan bus antarprofinsi. Ingin muntah.*curhat.

Kami langsung membayar tiket Chairlift seharga 10 pound untuk naik ke atas gunung. Tiket tersebut sudah termasuk gratis meminjam papan Sledge. Berhubung saya tidak berbakat dengan olahraga keseimbangan, saya tidak mencoba ski. Untuk meminjam peralatan ski, perlu membayar 25 pound.

Orang-orang yang baru pertama kali bermain ski hanya boleh bermain di ketinggian tertentu. Untuk bisa bermain di daerah yang lebih tinggi dengan kontur wilayah lebih sulit, pengunjung harus bisa menunjukkan lisensi ski. Saya dan seorang teman menghabiskan waktu berjam-jam mendaki sisi gunung yang cukup tinggi untuk meluncur dengan papan sledge dari atas.

Seru sekali, meskipun mendaki bukan pekerjaan gampang karena salju yang diinjak terlalu tebal, sehingga kaki jadi gampang capek ketika berjalan. Saking serunya, saya tidak sadar kalau celana saya robek di bagian selangkangan. Salju di gunung tersebut, bukan salju yang bisa digunakan untuk membuat boneka salju. Tidak sama dengan salju yang turun di kota yang biasanya padat dan gampang dibentuk karena memiliki kandungan air yang tinggi, salju di gunung ini seperti butiran halus yang bisa dengan mudah ditiup semacam debu.

Kami baru turun dari gunung pada siang hari dan melanjutkan perjalanan ke Fort William yang berjarak 30 menit menggunakan mobil dari Glencoe. Ini adalah jembatan rel kereta yang sudah sangat tua dan tidak lagi digunakan untuk jalur kereta komersial. Sebagai gantinya, jembatan ini menjadi bagian dari atraksi museum di bawahnya. Para pengunjung museum bisa datang dan menaiki kereta uap penumpang. Jembatan ini juga pernah digunakan sebagai jalur yang dilewati kereta menuju Hogwarts di film Harry Potter.

Kami kemudian menuju penginapan yang baru. Untuk hari kedua kami menyewa sebuah kamar hostel dengan 8 ranjang. Hostel ini sangat nyaman. Saat kami datang, pengunjungnya tidak terlalu banyak. Sehingga kami bebas menggunakan tempat makan dan ruang rekreasi. Hostel ini juga punya dapur sehingga kami bisa masak makanan dan tidak perlu repot-repot mencari makan di luar. Di dapur itu terdapat bahan makanan gratis yang bisa digunakan, seperti minyak, garam, gula, tepung, cereal, dan lainnya. Si pemilik hostel juga menyiapkan soup gratis. Esoknya kami kembali ke Newcastle dengan perasaan senang. Saya masih suka membayangkan serunya bermain papan Sledge di Glencoe padahal kuliah semester dua sudah mulai hahaha. Mengesankan.


Tulisan ini juga pernah saya tuliskan di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s