SEGALA HAL SOAL NEWCASTLE

Kota tempat saya bermukim selama setahun ini sempat menjadi salah satu negara dengan biaya hidup termurah di Inggris dan termasuk yang teraman. Kota ini kecil, namun termasuk yang termodern. Newcastle adalah satu dari tiga kota di Inggris yang memiliki subway, setelah Manchester dan London. Pada tahun 70-an, kota ini memiliki mall paling besar di seluruh Eropa, Eldon.

Soal cuaca, Newcastle memang tidak bersahabat.

Saya tidak pernah melewatkan ramalan cuaca selama tinggal di tempat itu karena kondisi udara bisa berubah dengan sangat cepat. Angin berhembus sangat kencang sepanjang musim gugur. Hujan mengguyur sepanjang musim semi. Sedikit salju yang turun saat musim dingin dan hanya beberapa hari cerah sepanjang musim panas. Pada satu hari, bisa terjadi tiga atau empat anomali cuaca yang berbeda.

Millenium Bridge, landmark kota Newcastle yang melintasi sungai Tyne.

Pada satu hari di musim panas, cuaca bisa sangat panas di pagi hari, berangin dan mendung beberapa jam kemudian, turun hujan es selanjutnya, kemudian berubah lagi dengan cepat. Suhu udara bisa sangat panas beberapa jam sebelumnya, kemudian suhu turun tiba-tiba menjadi sangat dingin. Sulit menentukan pakaian yang harus dipakai. Bisa saja saya menggunakan coat yang tebal dan sepatu boot untuk mengantisipasi hujan dan dingin, namun akhirnya kepanasan dan tidak nyaman karena cuaca tiba-tiba berubah menjadi cerah hingga penghujung hari. Serba salah.

Sebuah sungai membentang menembus kota. Sebuah jembatan dibangun dan menjadi landmark kota. Sebelum Margareth Thatcher menjabat sebagai perdana menteri, Newcastle adalah kota pertambangan batu-bara yang sukses, daerah industrial kapal yang besar, dan pelabuhan transit yang sibuk. Namun sejak perempuan bertangan besi itu memimpin. Tambang-tambang ditutup dan industri kapal dipindah karena alasan rasionalisasi kawasan. Akhirnya banyak penduduk yang kehilangan pekerjaannya dan hingga kini banyak yang membenci Thatcher.

Kota ini pun menjadi kehilangan jati diri. Hanya pada beberapa tahun terakhir, Newcastle mulai mendeklarasikan diri sebagai kota seni, menyusul berdirinya sebuah gedung kesenian yang cukup besar di pinggir sungai Tyne, The Sage dan Laing Art Gallery. Selain itu, ada dua bangunan yang berubah fungsi menjadi art space yaitu Holy Biscuit dan Baltic yang masing-masing sebelumnya adalah pabrik biskuit dan pabrik tepung. Sehingga, begitu banyak seniman yang bermigrasi ke kota tersebut untuk menikmati ekosistem baru itu.

Jalan setapak Leazes Park yang sering saya lewati saat menuju dan pulang kampus.

Meskipun demikian, hingga sekarang masih sangat mudah menemukan pengangguran yang mengemis pekerjaan dan para peminta-minta receh di Newcastle. Masih banyak toko-toko yang tiba-tiba tutup karena bangkrut. Seni sebenarnya tidak begitu menghidupkan perekonomian kota, justru penduduk mendapatkan manfaat ekonomi yang besar dari keberadaan mahasiswa lokal dan asing.

Seiring semakin terkenalnya Newcastle University dan sejumlah universitas swasta lainnya, kota ini diserbu pelajar. Toko-toko yang menjual keperluan mahasiswa bertambah banyak dan tingkat hunian properti meningkat. Kota ini akhirnya dinobatkan juga sebagai kota paling ramah terhadap mahasiswa, terutama pelajar internasional.

Penduduknya sadar bahwa imigran bukanlah sekelompok orang yang patut ditakuti dan dibenci, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dengan baik. Terlepas dari kebijakan pemerintahan baru Inggris yang cukup diskriminatif terhadap imigran.

Gereja tua di depan kampus Newcastle University

Kebijakan yang juga dikecam oleh penduduk Newcastle yang banyak di antaranya mampu menerima perbedaan. Hal ini terlihat dari aksi demonstrasi tandingan yang dilakukan ribuan penduduk kota untuk menentang demonstrasi kebencian yang digalakkan oleh ratusan orang dari kelompok nasionalisme buta, IDL dan partai sayap kiri Eropa, Pegida.

Kota ini juga adalah kota kelahiran si pembuat teh terkenal Earl Grey. Bagi pecinta teh pasti familiar dengan nama itu. Untuk mengingat kontribusinya, sebuah monumen dibangun di tengah kota. Sebuah kastil berdiri di dekat sungai Tyne bernama Castle Keep. Dari atas kastil ini, pengunjung bisa melihat seluruh kota.

Daerah city, bisa dibilang sebagai alun-alunnya Newcastle tempat warga berkumpul dan berbelanja.

Kastil ini dulunya digunakan oleh penduduk dan pemerintah daerah Newcastle sebagai titik pertahanan ketika perang saudara berlangsung. Kota ini dulunya tergabung dengan kekuasaan pemerintah kota Durham. Para bangsawan akan tinggal di Durham, sementara para penduduk pekerja dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan mereka di Newcastle.

Para buruh pun merasa merasa sangat jenuh dan melakukan pemberontakan. Peperangan besar pecah, hingga Newcastle memisahkan diri dari Durham dan membentuk kota baru. Newcastle pun menjadi kota baru yang lebih besar, kuat, dan modern. Newcastle University juga adalah universitas pecahan dari Durham University. Sementara daerah kekuasan Durham saat ini menjadi sangat kecil.

The Sage, art gallery dan salah satu gedung konser yang terletak di pinggir sungai Tyne. Bangunan ini bisa jadi salah satu penanda transformasi Newcastle menjadi kota seni dari sebelumnya kota tambang.

Hal yang tidak bisa dilepaskan dari Newcastle adalah sepak bolanya. Sebuah stadium besar berdiri di tengah kota. Para pecinta liga Inggris pasti sangat mengenalnya, St James park Stadium. Ini adalah adalah salah satu stadium terbesar di Inggris. Klub sepak bola Newcastle meskipun lebih sering masuk papan tengah, namun namanya cukup dikenal oleh pecinta olah raga ini. Terutama karena klub ini menjadi latar cerita film Goal, di mana aktor utamanya yang pesebakbola memulai karirnya di klub kecil di Inggris yaitu Newcastle.

Stadium ini dilengkapi sebuah mushola untuk para pemainnya yang Muslim. Dan ruang ganti yang luas dan nyaman untuk klub Newcastle, namun menyediakan ruang ganti yang kecil dan sederhana bagi tim lawan. Ini adalah salah satu siasat bagi mereka untuk mengintimidasi lawan. Hampir setiap Sabtu dan Minggu ada pertandingan bola. Saat itu terjadi, para penduduk akan keluar dari rumah mereka mengenakan seragam bergaris hitam putih khas Newcastle. Jalanan di sekitar stadion saat jelang dan sesudah pertandingan akan sangat ramai dan macet.

Main Quarter Newcasltle University. Paling indah saat musim panas

Saya hanya sekali menonton pertandingan di stadium itu. Hanya beberapa hari sebelum saya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi saya. Saat itu, tim Newcastle harus melawan Southhamptom yang di atas kertas hanya terpaut satu peringat dengan Newcastle. Kata teman yang pecinta bola, tim Newcastle akan bermain sangat baik bila melawan tim-tim papan atas seperti Manchester, Liverpool, atau Arsenal. Sementara akan bermain sangat buruk ketika melawan tim yang peringkatnya tidak jauh berbeda atau di bawahnya.

Setahun terakhir, pada setiap pertandingan, penonton akan berdiri secara otomatis pada menit ketujuh dan menyanyikan anthem Newcastle United sementara pertandingan tetap berjalan. Ini adalah bentuk penghormatan bagi para fans Newcastle United yang meninggal pada kecelakaan pesawat Malaysian Airlines saat mereka bepergian untuk menonton pertandingan klub idolanya di negara lain.

Millenium Bridge, Baltic (art gallery bekas pabrik tepung), dan Sage dilihat dari atas bukit

Situasi di bangku penonton biasanya akan lebih panas bila Newcastle United melawan Sunderland FC. Klub bola dari kota kecil nan sepi bernama sama, Sunderland. Layaknya Persija dan Persib, dua klub bola dari dua daerah yang berdekatan ini saling membenci. Sehingga, pengamanan akan sangat ketat bila kedua tim harus bertanding.

Newcastle memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Rumah kedua yang nyaman selama berada di Inggris. Sampai jumpa di lain waktu Newcastle.


Tulisan ini juga pernah di-publish di blog pribadi saya di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s