Menyepi di Bali

Pesona bali memang selalu memikat siapapun. Alamnya yang indah berhasil melenakan para pendatang. Tidak hanya itu, budaya Bali yang masih sangat kental terasa membuat pelancong mendapatkan sensasi baru saat bersentuhan dengannya.

Tahun lalu waktu kunjungan saya ke pulau dewata itu berdekatan dengan perayaan Nyepi. Girang. Perayaan nyepi itu akan menjadi pengalaman pertama saya.

Nyepi sendiri merupakan salah satu dari beberapa rangkaian penyambutan tahun baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kalender masyarakat Bali. Seperti yang kita ketahui kalau selama nyepi, penganut Hindu dilarang untuk beraktivitas keduniaan selama 24 jam. Tak boleh makan maupun minum, berbicara pun dibatasi, listrik diharamkan untuk digunakan. Saya yang bukan penganut Hindu pun harus mengikuti aturan tersebut.

Prosesi Melasti

Beberapa hari sebelumnya saya juga menyaksikan prosesi Melasti di Pulau Nusa Penida. Bali sendiri memiliki suasana mistis yang menarik, rasa tersebut semakin terasa saat menyaksikan umat berdoa pada Sang Pencipta di pinggir pantai yang cantik. Tidak hanya itu, iringan alat musik berupa gamelan pun menambah syahdu prosesi ibadah tersebut.

Menurut aturannya, Melasti diadakan 2-4 hari sebelum Nyepi. Ibadah ini selalu dihelat di pinggir pantai. Bila tidak ada pantai, aliran sungai atau danau pun jadi. Air sendiri memiliki arti penting dalam prosesi melasti. Kenapa? karena pada saat ini lah, pelengkapan ibadah yang ada di pura dibersihkan agar kembali suci. Airlah yang bisa mensucikan kotoran yang ada.

prosesi melasti di bali
Pemuka agama memberkati peserta ibadah dengan air suci.
melasti di nusa penida bali
Pemain gamelan bersiap mengiringi proses ibadah melasti.

Prosesi melasti dipimpin oleh seorang pemuka agama. Setelah rangkaian doa dipanjatkan, pemuka agama akan memercikan air suci kepada umat yang datang. Selain itu, para umat pun dibagikan air untuk diminum dan beras untuk ditempelkan di kening.

Pawai Ogoh-Ogoh

Hal lain yang menjadi salah satu ikon perayaan nyepi adalah pawai ogoh-ogoh. Setiap banjar di Bali menyiapkan ogoh-ogoh yang merepresentasikan bhuta kala (sifat jahat) yang kemudian di arak keliling desa. Pawai ogoh-ogoh ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian perayaan ngarupuk dalam upacara tawur.

Inti dari tawur adalah penyucian lingkungan tempat tinggal. Penduduk akan menabuh kentongan dengan harapan bisa mengusir kekuatan jahat yang ada di sekitar mereka. Puncak dari tawur adalah pembakaran ogoh-ogoh yang menjadi simbolisasi pengusiran sifat jahat.

Saya dan seorang teman sengaja melihat pawai ogoh-ogoh di Ubud. Sepanjang perjalanan dari Denpasar ke lokasi tujuan, banyak sekali penampakan bhuta kala. Meskipun agak takut karena bentukan bhuta kala kami tetap menikmati pagelaran budaya ini.

Keesokan harinya kami hanya bisa berdiam diri di rumah. Walaupun agak canggung, tetapi saya pribadi senang dengan ide besar Nyepi, beristirahat. Sama seperti manusia (bhuana alit) , bumi (bhuana agung) pasti kelelahan karena terlalu sering dieksploitasi.  Membiarkan sang bumi beristirahat walau cuma sehari merupakan cara yang baik untuk berterima kasih pada semesta, bukan?

ogoh-ogoh di Ubud, Bali.
Selesai diarak, ogoh-ogoh dibawa ke alun-alun kota.

Oh iya, perayaan Nyepi tahun 2016 jatuh pada 9 Maret. Hari yang sama saat gerhana matahari total terjadi di Indonesia. Saat matahari dan bulan berada dalam satu garis lurus, saya dan teman memberanikan diri keluar rumah buat melihat gerhana.

Kabar menarik saya terima keesokan harinya melalui media sosial. Ada beberapa foto yang disebarluaskan, gambar yang terekam dalam foto-foto tersebut membuat hati saya hangat. Dalam kepercayaan Islam, para penganutnya diperintahkan untuk shalat gerhana. Nah, dalam foto yang saya terima adalah bagaimana para muslimin di Bali tetap dapat berangkat ke tempat ibadah saat perayaan Nyepi. Pecalang tidak ada yang ngomel-ngomel, bahkan para muslim dan hindu saling mengucapkan selamat beribadah kepada satu dan yang lainnya. Indah ya?

Kalau suatu saat nanti punya kesempatan ke(m)Bali lagi, saya mau atur waktu dekat-dekat dengan Nyepi, ah. Menyenangkan. Hehehe…

Btw, selamat hari raya Nyepi bagi yang merayakan.

Iklan

8 Replies to “Menyepi di Bali”

  1. Jadi ingat tahun lalu, saat Gerhana Matahari Total yang bertepatan dengan Nyepi. Ada prosesi pawai Ogoh-ogoh yang jadi “rame” ditentang oleh sebagian masyarakay “beriman” di sini :p

    Padahal kan Palembang gak didominasi satu agama saja. Untung Ogoh-ogohnya gak sampe dibubarkan hehe.

    1. hehehe padahal keberadaan ogoh-ogoh itu juga dilakukan sama orang yang beriman juga ya. lagian yang dateng duluan kan Hindu ya di tanah Sumatera?

      .: Efi :.

  2. Penasaran juga liat dari dekat pawai ogoh-ogohnya meski keliatan serem y mba kata rekan kerja yang di Bali klo Nyepi memang ga boleh kemana2 dan listrik juga dipadamkan bener2 memulihkan keadaan maknanya y mba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s