Seri Anak Rantau: Terjebak Sepi di Denmark

Mari kita anggap saja kalau sama-sama tahu bagaimana saya dan Pipit bisa merantau sampai sekarang. Hah, belom tau? Baiklah saya kasih tahu sedikit saja ya, kalau saya merantau awalnya karena ikut program work and holiday di Australia sementara Pipit karena mendapatkan beasiswa di Inggris.

Selain dua cara di atas banyak sekali cara untuk merantau khususnya ke luar negeri misal; menikah dengan Warga Negara Asing (WNA) dan diboyong ke negara pasangan, kerja di perusahaan asing, ikut penugasan orang tua, dan lain sebagainya. Nah, kalau menjadi Local Staff  (LS) di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang tersebar di seluruh pelosok bumi sudah tahu belom?

Seperti kebanyakan lembaga pemerintahan lainnya, KBRI pun membutuhkan tenaga kerja. KBRI yang merupakan perwakilan negara di negeri asing tidak melulu diisi oleh para diplomat, tetapi juga ada beberapa pekerjaan yang bisa didelegasikan pada pekerja lainnya, nah maka dari itu LS dibutuhkan. Biasanya LS adalah gabungan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dan juga warga lokal di mana KBRI berada.

Untuk LS yang “diekspor” dari Indonesia biasanya direkrut oleh Biro Kepegawaian Kementerian Luar Negeri. Setelah beberapa tes ini dan itu, akhirnya para LS akan dikirimkan ke KBRI yang membutuhkan tenaga kerja tambahan.

Seru ya! Merantaunya jauh dan dibiayain negara. Walaupun terkesan “menyenangkan”, yang namanya merantau jauh dari keluarga dan kebiasaan di negeri sendiri bikin siapapun yang melakukannya akan “berjuang” untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru. Lebih-lebih harus menetap dalam kurun waktu yang cukup lama.

Nah, karena merasa senasib sepenanggungan, makanya Raun-Round akan menceritakan juga para pejuang di tanah rantau dalam Seri Anak Rantau yang bakal ada tiap Jumat waktu Kolombia, kalau #CelotehTukangJalan tiap Senin. Ditungguin ya! Semoga semangat nulisnya gak kendor.

Yowis, langsung aja deh kita lihat pengalaman anak rantau bernama Adhi Pradana yang pernah menjadi LS KBRI Copenhagen, Denmark pada 2012-2013.

*

anak rantau local staff KBRI Denmark
Adhi di Lund, Swedia. Foto dokumentasi pribadi

Adhi yang biasa saya panggil Kordes, karena dia pernah jadi koordinator grup kami selama Kuliah Kerja Nyata, lahir dan tumbuh dalam budaya Sunda yang kental. Salah satu bukti kesundaannya adalah dia lebih fasih memanggil saya dengan nama Epi. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, orang Sunda itu entah mengapa selalu doyan ngomong dan ngebanyol jadi aja setiap mereka orang Sunda pasti ramai. Nah, si Kordes ini pun demikian. Oleh karena itu dia agak merasa “tersiksa” saat harus bekerja selama 17 bulan di Kopenhagen, Denmark.

Pengalaman kurang menariknya itu bukan karena urusan pekerjaan, yah di mana-mana kerja mah pasti ada suka dan duka bukan? Salah satu tantangan yang Kordes hadapi selama di Denmark adalah yang terlampau datar gaya hidupnya bahkan cenderung membosankan. Segala hal di  negara skandinavia tersebut serba teratur dan terukur, bagi sebagian orang hal tersebut menyenangkan tetapi bagi pria kelahiran 1986 itu justru bikin hidup tidak terlalu bersemangat.

Kordes mencontohkan, segala kebutuhan dasar warga Denmark sudah terlayani sejak mereka lahir sampai nanti ajal menjempu. Fasilitas kesehatan sudah dijamin oleh pemerintah, pun demikian soal pendidikan. Konon, katanya pekerjaan pun diusahakan oleh tak lain dan tak bukan oleh pemerintah.

Oh wow!

“Penduduk cuma harus memikirkan bagaimana caranya bersenang-senang,” ujar Kordes.

Denmark diganjar sebagai negara paling bahagia di dunia pada 2016. Berdasarkan World Happines Report yang melalukan riset kebahagiaan sejak 2012, Denmark pernah menduduki posisi pertama pada 2013 dan turun ke posisi ketiga pada 2015. Laporan ini berdasarkan jawabab para warga negara saat ditanyakan soal ekspektasi harapan hidup, pendapatan, tunjangan sosial, dan juga kepercayaan terhadap institusi pemerintah.

Menteri Kebudayaan Denmark sendiri pernah iseng-iseng tanya pada warganya, apa sih sebenarnya yang bikin mereka bahagia tinggal di negara tersebut. Sebagian besar jawabannya adalah kebebasan berdemokrasi, kesetaraan di mata hukum, kesetaraan jender, jaminan sosial, juga kepercayaan terhadap pemerintah.

Sekilas memang tampak menarik, tetapi bagi Kordes hal tersebut kadang malah bikin hidup kurang tantangan. Hidup yang terlampau nyaman justru membuat penduduk Denmark tidak siap ketika harus menghadapi tantangan hidup yang berat.

“Nampaknya kurang berjuang mencari solusi. Semua disediakan pemerintah, bahkan yang tergolong miskin bisa makan dan punya tempat tinggal. Kalau di Indonesia kan, kalau miskin harus tetep kerja,” cerocos Kordes.

Kordes pun berasumsi karena kurang terlatihnya menghadapi masalah hidup, masyarakat Denmark justru menjadikan bunuh diri sebagai jalan pintas. Kalau mau mengutip data World Health Organization (WHO) per 2016 setidaknya ada 12,3 dari 100.000 penduduk Denmark yang bunuh diri. Sedangkan di Indonesia untuk rentang waktu yang sama rasio bunuh diri hanya 2,9 orang per 100.000 jiwa.

Status Denmark sebagai negara paling bahagia di dunia rupanya diterima setengah hati oleh Kordes. Apa pasal? Menurutnya orang Denmark tidak tahu caranya bersenang-senang. Seperti kebanyakan masyarakat Indonesia yang menggilai sepak bola, Kordes pun antusias saat gelaran Piala Eropa 2012 berlangsung dan kebetulan dia sedang bermukim di Eropa.

Sayangnya ia harus gigit jari karena saat nonton bareng sebuah pertandingan di lapangan terbuka, ia tidak merasakan euforia yang besar. Bahkan pernah sekali ia pergi menonton pertandingan sepak bola di stadion dan selalu kena tegur karena menonton sambil berdiri karena dianggap menghalangi penonton yang ada di belakangnya.

“Kalau nonton persib mah gak mungkin duduk kalau belom waktunya istirahat,” ujar Kordes.

Hal serupa juga terjadi saat ia menyempatkan diri menonton Denmark Open. Tidak ada teriakan “eaaa….eeaaaa…” saat shuttlecock ditepok. Hanya ada yel yel “Go Go Denmark” sesaat sebelum servis dan atau setelah mendapatkan poin.

Sampai titik ini, rupanya Kordes belum menaruh hati pada Denmark. Sepengetahuan saya pria lulusan Universitas Padjadjaran ini gampang dipuaskan dengan makanan. Baginya hanya ada dua jenis makanan, enak dan sangat enak. Lalu apakah makanan Denmark bisa membuat hatinya senang?

TENTU TIDAK!

Kordes menolak kalau harus makan rugbrød dan smørrebrød. Andai saja ada durian di Denmark, mungkin dia akan merasa kerasan.

rugbroed1
Rugbrød. Sumber.

 

20141201-smorrebrod-pear-vicky-wasik-1
Smørrebrød. Sumber.

Biasanya nih, ketika punya kesempatan untuk merantau ke tanah sebrang para perantau akan lebih bersyukur karena pernah dibesarkan di tanah kelahiran. Tak terkecuali Kordes. Ketika melihat matahari keluar dari peraduannya dan hari terlihat cerah, warga Denmark rela untuk meluangkan waktu untuk sekadar berjemur.

“Kebahagiaan besar meraka adalah keseharian kita di Indonesia,” kenang bapak satu anak ini.

Meskipun dirinya sedikit merasa kurang nyaman dengan keteraturan Denmark, Kordes berharap ada beberapa sistem di negeri empat musim tersebut yang dapat diterapkan di Indonesia. Ia mencontohkan sistem antikorupsi, transportasi massal, juga jaminan kesehatan bisa ditiru.

Terkait program antikorupsi, sepengetahuannya sekolah memainkan peranan penting menyukseskan program ini. Sejak usia dini para siswa sudah didoktrin tentang betapa buruknya dampak korupsi. Sementara soal transportasi masal dan tepat waktunya yang juga patut dicontoh.

“Saya berusaha untuk menerapkan gaya hidup seperti di Denmark, tidak terlambat datang ke tempat kerja. Tetapi jadwal keberangkatan kereta seakan menertawakan sambil bilang kalau kita akan telat,” tutur Kordes.

Yah, Kordes pun mengakui karena memang tidak semua hal baik yang ada di negara lain bisa diterapkan di Indonesia. Pasti akan ada banyak benturan.

Lalu apa saran Kordes bagi mereka yang ingin dan akan merantau ke Denmark?

BERSENANG-SENANGLAH SEBELUM KAMU BOSAN HIDUP TERATUR.

Iklan

13 Replies to “Seri Anak Rantau: Terjebak Sepi di Denmark”

  1. Epi.. Lol.. Ternyata bahagia itu pun relatif jg.. Enak bgt sebenernya udah gak perlu mikir ya fi tapi emang kurang tantangan gitu, kan.. Btw gw pernah bikin smorrebrod di primarasa fiii ahahaha..

  2. Kalau di denmark macam itu cocok bagi orang kaya saya, tipd pemalas. Klo apa2 udah disediain pemerintah, saya bisa fokus mengdmbangkan diri sesuai passion saya. Nggak mikir ini itu.

  3. Setuju sama pendapat teman, kuliah atau kerja di luar negeri itu bukan cuma soal pendidikan atau karir, tapi juga pengalaman (mungkin itu yang paling penting, entah). Makasih tulisannya, bikin saya inget harus semangat buat bisa cicipin hidup di luar 👌😄

  4. Emang terkadang rumput tetangga lebih hijau, Denmark yang serba lengkap dan serba ada malah banyak rakyatnya bunuh diri.
    harus bangga dan bahagia jadi diri sendiri, dengan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia ……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s