Saat Si Introvert Merantau

Sebenarnya sih, saya enggak terlalu percaya sama kuis-kuis kepribadian yang ada di majalah ataupun yang tersebar di media sosial. Tapi, kebanyakan dari kuis yang pernah saya ikuti memberikan hasil yang sama, saya seorang introvert. Gara-gara keseragaman hasil jadinya saya pun merasa kalau saya pribadi yang cukup tertutup.

Tertutup yang saya maksud di sini lebih ke menyimpan masalah pribadi dan enggan menceritakannya pada siapapun. Pernah sih sekali-sekali cerita saat memang sedang butuh penyaluran. Tetapi lebih seringnya cuma diselesaikan dengan menarik napas panjang, nangis semalam suntuk yang ujung-ujungnya saya ketiduran karena capek.

Sewaktu baru kenal dengan sosial media saya juga sempat ikut-ikutan curhat di halaman pribadi. Sekarang sudah jarang karena lebih mementingkan perasaan orang yang bakal baca. Memangnya seberapa pentingnya kegalauan saya bagi hidup mereka. Toh, ya kita kan, sama-sama tahu apa yang ada di sosial media semuanya bersifat semu. Makinlah saya malas untuk mengumbar perasaan.

Solusi yang paling tepat sebenarnya bercerita pada orang terdekat yang bisa memberikan respon langsung. Setuju? Namun, hal itu juga enggak terlalu bisa saya lakukan. Lagi-lagi kepala saya dipenuhi anggapan “duh, hidup mereka mungkin juga sudah penuh masalah apa perlu ditambahin lagi dengan masalah saya?” Ya kalau pikiran itu terus-terusan muncul sudahlah semua gundah akan disimpan sendiri.

Masalah terbesar saya adalah mengartikulasikan persoalan yang tersimpan di hati dan kepala. Bahkan kepada orang tua dan juga pasangan saya pun tidak mudah. Saya harus benar-benar “dipaksa” berbicara untuk mengutarakan apa sebenarnya yang berkecamuk di dalam hati.

Dulu sih, demi menghilangkan ketidaknyamanan hati cuma tinggal nongkrong dengan teman-teman. Kebetulan beberapa teman dekat bekerja di Jakarta dan lokasi kerja kami berdekatan jadi relatif mudah untuk mengatur waktu. Sekadar menertawakan hal kecil pun bisa jadi pelipur lara tanpa harus sesumbar masalah yang mengganjal. Sekarang ini ceritanya beda, jarak yang terlampau jauh membuat saya yang sudah terbiasa mengasingkan diri menjadi semakin terasing.

Lah, bisa kan, mencari teman baru di tanah rantau?

Andaikan mencari seseorang yang bisa langsung klik itu gampang. Mungkin saya tidak akan terlalu cengeng. Memulai pembicaraan dengan orang yang tidak dikenal sama sekali itu mudah, tinggal pura-pura tanya arah atau sekadar memberikan komentar soal cuaca bisa menjadi salah satu cara mengakrabkan diri dengan orang baru. Sayangnya ketika hal tersebut dilakukan ratusan kali karena terlalu sering bertemu orang baru jadinya malah basi.

Sekarang ini malah saya sering ketawa kalau ada ada pejalan yang mengaku salah satu alasannya menyukai perjalanan adalah bertemu orang baru. Duh, saya sudah malas melakukan itu. Ya karena alasan di atas, energi saya yang terbuang belum tentu memberikan saya hasil seorang teman baru.

Sadar enggak kalau semakin kita bertambah umur, jumlah teman yang benar-benar klop-klik-sreg semakin berkurang?

Wajar sih, semakin dewasa kita juga semakin bertambah pengalaman yang bisa bikin preferensi kita berubah. Nah, perubahan preferensi diri kita kadang sulit disesuaikan dengan milik teman. Gara-gara hal tersebut bisa saja ada friksi yang malah bikin hubungan antarteman jadi tidak seenak dulu.

Saya sendiri mengalaminya. Terkadang pendapat yang diketik jari saya terlampau gamblang dan terkadang terkesan kasar (kalau dibaca oleh lawan bicara yang sedang baper). Akibatnya sudah bisa ditebak, saya disisihkan (mungkin). Eh bisa jadi juga sih, mungkin kepribadian saya yang tidak terlalu sesuai dengan si teman jadinya ya gampang dilupakan.

Ngomong-ngomong saya tidak sedang mengasihani diri sendiri, ya. Hanya mencoba untuk menerima keadaan bahwa tidak selamanya jalinan pertemanan bisa dipertahankan selamanya.

Keadaan seperti di atas itulah yang terkadang bikin saya merasa benar-benar berat saat merantau. Tak ada tempat mengadu. Orang tua pun tidak bisa saya andalkan. Saya harus menyeleksi cerita buat orang tua, kalau ada kemungkinan bisa membuat mereka sedih ada baiknya saya simpan saja.

Beneran loh, pernah saat bekerja di kebun ubi dan memanen ubi seberat 6,3 kg saya mengirimkan foto kepada ibu di Jakarta. Saya berharap ibu akan terpesona dengan panen kami hari itu. Namun, jauh panggang dari api. Reaksi beliau, “kamu kok kerja berat gitu. Itu bajunya kotor banget. Mama kasihan lihat kamu seperti ini. Sudah pulang saja kerja di Jakarta.”

Untitled design (2)
Nah, gede, kan?

 

Entah apa reaksinya kalau saya sampai bercerita sering dapat bentakan dari bos karena dianggap tidak becus kerja. Atau saat kami harus berhadapan dengan ular berbisa saat memanen ubi. Atau ketika saya harus diinterogasi polisi karena dianggap teroris. Sudahlah segala cerita itu hanya bisa saya bagikan lewat blog. Semoga ibu saya akan baik-baik saja kalau suatu saat mampir ke blog ini.

Ribet ya?!

Ya meski demikian ada beberapa kejadian yang membuat saya masih yakin punya teman yang menaruh perhatian. Tidak lebih dari sepuluh jari tangan, tetapi cukup membuat memberikan rasa nyaman karena perhatian yang mungkin tidak seberapa bagi mereka tetapi memberikan bekas mendalam di hati saya, seperti:

  • Ongkos kirim ke sana berapa? nanti saya kirimin Indomie deh.
  • Ada penembakan di Sydney, gw enggak tahu lo ada di mana tetapi semoga lo baik-baik aja, ya.
  • Fi, gw nikah bulan depan. Kalau sudah sampai di Indonesia datang ya.
  • Fi, gw nikah bulan depan, sepertinya lo belum pulang ya, gw minta doa restunya aja ya.
  • Selamat merayakan lebaran di negeri seberang.
  • Gw baca ada bencana alam di Kolombia. Tempat lo bagaimana?
  • Hai, apa kabar di sana?

Saya cuma bisa bilang terima kasih. Yous make me setroooong!

Ya sebenarnya buat saya yang introvert ini tidak terlalu butuh punya teman baru (teman loh ya bukan sekadar kenal). Teman-teman lama yang sekadar menanyakan kabar pun sudah lebih dari cukup. Begitulah.

Hai, teman apa kabar?

Iklan

4 Replies to “Saat Si Introvert Merantau”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s