Traveling Modal Utang

Bagi yang sering mantengin jagat sosial media pasti ngeuh soal kasus yang sedang ramai baru-baru ini tentang seorang pejalan yang ternyata selama ini traveling dengan cara ngutang. Kalau sekadar minjam uang sih enggak masalah, tetapi yang jadi masalah adalah si pengutang sering pura-pura lupa bayar walau sudah ditagih berkali-kali.

Bukan cuma itu, ternyata di grup pejalan yang saya ikuti juga ada topik panas lain yang menyeruak soal fenomena “begpacking”. Itu loh, soal pejalan (umumnya kaum kaukasian) yang datang ke negara-negara Asia tetapi malah jadi pengamen atau bahkan mengemis untuk membiayai perjalanan mereka.

Percaya kan, kalau banyak sekali cara untuk mencapai tujuan kita. Dua kasus di atas pun demikian, demi traveling segala macam cara pun dilakukan. Yah, walaupun cara yang ditempuh justru dianggap merugikan orang lain.

Biar sama-sama ngeuh sama apa yang sedang saya omongin silakan cari di google dengan kata kunci “traveling ngutang” nanti akan ada beberapa berita terkait kasus pertama. Saya enggak mau masukin tautannya di sini karena saya enggak sreg sama artikel di media online tersebut yang sangat memojokan pelaku. Sedangkan untuk kasus kedua silakan klik di sini.

Sudah dibaca, kan?

Jalan-Jalan, Kok, Modal Utang!

Big Durian girl tries the Big Apple.

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Saya pribadi sih, enggak peduli ya cara orang mendanai perjalanannya. Tetapi kalau saya sendiri sih selalu berusaha untuk menjauh dari yang namanya ngutang. Ini bukan cuma untuk urusan jalan-jalan sih, tapi berlaku juga untuk hal lainnya. Kecuali mepet saya enggak bakal pinjam uang.

Sepanjang umur dewasa saya rasanya bisa dihitung berapa kali saya berhutang baik ke ibu, teman, pacar, oom dan bank. Untuk tiga orang yang saya sebutkan pertama nominalnya tidak banyak-banyak amat. Biasanya saya pinjam sekitar tanggal 20-an ketika lembaran rupiah terus berkurang tetapi tanggal gajian masih jauh terlihat.

Nah, kalau sama oom sebenernya enggak minjam duit untuk dipakai sih. Jadi ketika itu saya butuh dana di bank setara AUD 5.000. Dana pinjaman itu cuma saya endapkan dan mutasi rekeningnya saya bawa saat mengajukan permohonan bisa bekerja dan berlibur (Work and Holiday Visa/ WHV) di Australia. Setelah visa di tangan, uang tersebut saya transfer kembali ke rekening oom tanpa kurang sesen pun.

Kalau berurusan dengan bank biasanya soal pemakaian kartu kredit. Saya mengikuti petuah teman “limit kartu kredit bukan ‘pendapatan’ tambahan. Kartu kredit cuma salah satu moda pembayaran.” Dengan prinsip itu, Alhamdulillah tagihan saya enggak pernah bengkak.

Baca pengalaman saya bertransaksi dengan perbankan di luar negeri

Hubungan saya dengan bank bukan cuma urusan kartu kredit, tetapi juga soal Kredit Tanpa Agunan (KTA). Sampai sekarang saya sudah dua kali memanfaatkan fasilitas tersebut. Kali pertama KTA saya gunakan untuk mempercantik rekening sebelum mendaftar WHV. Pembayaran saya cicil per bulan yang dana pembayarannya bersumber dari dana KTA itu sendiri.

KTA kali kedua saya gunakan untuk membayar tiket perjalanan ke Kolombia. Saya berani mengambil KTA karena saya punya pendapatan pasif tiap bulan yang bisa digunakan untuk membayar cicilan. Sebenarnya saya punya uang tunai untuk membayar biaya perjalanan tersebut, tetapi saya lebih suka mengandalkan uang tunai sebagai dana tiba-tiba ketimbang mengandalkan limit kartu kredit.

Oh iya, selama perantauan pertama saya sering sekali ngutang sama si pacar. Uang saku saya cuma ada 7 juta IDR. Uang yang saya kira bakal cukup jadi modal awal bertahan hidup di Australia, ternyata habis dalam dua bulan pertama perantauan gara-gara si pacar mengajak saya untuk menghabiskan waktu lebih lama di Thailand, India, dan Malaysia. Btw, sebenarnya rencana perantauan saya itu dari Indonesia singgah sebentar di Thailand lalu lanjut ke Australia, bekerja.

Yah, risiko si pacar sih ya, dia berani mengajak saya jadinya harus bersiap menjadi penyokong dana saya. Hihihi…

Alhamdulillah, utang saya ke si pacar sudah dibayar tunai. Legaaaa…

Teman saya pernah melongo kenapa ada utang di antara saya dan si pacar. Teman berkata, “bukankah lelaki sejati tidak pelit dan bersedia bertanggung jawab akan kebutuhan wanitanya?”

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Duh, nyari duit tuh susah. Lagian walau kami memiliki hubungan khusus bukan berarti dia bertanggung jawab penuh terhadap hidup saya, toh? Begitupun sebaliknya. Berbekal prinsip ini makanya saya dan si pacar selalu bergantian membayar di warung pecel lele. Malam ini saya yang bayar, keesokannya dia yang merogoh kocek.

Kalau Enggak Punya Uang Mending Diam di Rumah Saja

Saya mulai merantau sekitar tiga tahun yang lalu. Meskipun tergolong telat melek penggunaan sosial media, setidaknya pengelanaan saya sampai sekarang enggak jauh-jauh dari jejaring sosial. Saya ikut gabung dengan berbagai macam grup pejalan yang memang sangat membantu ketika saya butuh informasi tentang tempat tujuan. Selain itu, grup komunitas juga ikut memberikan rasa memiliki teman seperjuangan di jalan.

Gara-gara sosial media juga saya sekarang lebih menyadari kalau ternyata pejalan itu banyak sekali ya di dunia ini. Usia para pejalan pun rata-rata masih muda. Enggak jarang saya mikir mereka yang masih muda-muda (awal 20-an) itu bagaimana cara membiayai perjalanannya, ya? Soalnya saat saya seumur mereka masih menerima uang jajan dari orang tua.

Dulu sempat sih berpikir kalau para pejalan, khususnya yang dari dataran Eropa, diuntungkan ketika pergi ke negara dunia ketiga yang murah. Mereka diuntungkan oleh kuatnya mata uang yang dimiliki. Tak perlulah mereka hidup susah. Tetapi kenyataannya tidak melulu demikian, banyak juga di antara mereka yang tidak punya uang banyak untuk traveling. 

Mungkin karena itu juga fenomena begpacking sekarang semakin ramai, karena si pejalan yang tidak memiliki anggaran berlebihan harus mencari cara untuk bertahan hidup. Saya pribadi sih, tidak melihat ada yang salah bila ada pejalan yang sekadar ngamen atau menjual kerajinan tangan demi membiayai perjalanannya di negeri asing. Ya, memang sih aksi seperti itu bisa dianggap melanggar kondisi visa si pejalan tapi seenggaknya ada usaha gitu loh.

Hal yang paling tidak saya setujui adalah mengemis seperti yang dilakukan beberapa pejalan. Saya setuju pendapat penulis Rama Kulkarni soal turis yang meminta-meminta di pinggir jalan Hongkong untuk membiayai perjalanannya. Baca artikel lengkapnya di sini.

Saya sendiri enggak pernah kasih duit ke pengemis. Enggak sreg aja gitu. Nah, apa lagi ngasih duit ke orang yang tidak saya kenal untuk traveling. Itu kan bukan urusan hidup dan mati, buat apa dibantuin. Ya, kalau mau memenuhi kebutuhan tersier itu sih seharusnya usaha dulu dong.

Ya enggak sih?

Lalu Bagaimana Caranya Biar Bisa Traveling Tanpa Bikin Kantong Sakit

Kecuali kita anak konglomerat dan masih dapat uang saku dari papa mama jangan harap traveling tidak akan bikin kantong kempes. No pain no gain. Memiliki penghasilan adalah salah satu kuncinya.

Sepengamatan saya melihat perilaku teman-teman yang bisa traveling terus-terusan sumber pendanaan mereka adalah:

  • Kerja penuh waktu dan juga tambahan
  • Nikah atau pacaran sama pasangan yang tajir
  • Jual barang-barang buat modal traveling
  • Punya pendapatan pasif dari investasi
  • Menjadi digital nomad.

Kalau untuk kasus saya ya karena WHV di Australia. Tabung duit sebanyak-banyaknya dan dipakai untuk lanjut merantau. FYI, selama tiga tahun ini saya bertahan hidup dari uang yang saya hasilkan di Australia. Selama hampir 1,5 tahun terakhir, setelah pulang dari Australia, saya tidak bekerja sama sekali. Dan sampai sekarang saya tidak pernah kekurangan uang. Bukan karena banyak uang, tetapi lebih ke prinsip ‘cukup’.

Saat berada di tempat baru saya cukup menginap di hostel murah dan nyaman. Makan pun seadanya, kalau bisa masak lebih bagus. Tidak melulu belanja hal-hal yang tidak penting seperti baju, sepatu, dan lain sebagainya. Setidaknya dengan melakukan hal-hal tersebut uang saya dapat bertahan lebih lama.

Sebenarnya sih, traveling itu bisa murah dan enggak bikin kantong terkuras apalagi sampai ngutang. Namun ada syaratnya, travelinglah untuk menyenangkan sendiri bukan gara-gara si A sudah pernah ke sini dan sana, kita juga harus mengikuti jejak yang sama. Traveling lah sesuai kemampuan bukan demi terlihat lebih dari yang lain. Seenak-enaknya dapat bantuan dana untuk traveling tetap tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan menghabiskan uang yang kita hasilkan ketimbang uang hasil ngutang. Setuju?

✌✌✌

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s