#CelotehTukangJalan: Anggaran Jalan-Jalan

Cerita soal traveling memang selalu bikin orang penasaran. Bukan cuma tertarik akan tempat-tempat yang didatangi tapi juga soal urusan permodalan. Pembagian pos untuk jalan-jalan bukan cuma ada sebelum dilakukan, tetapi juga ketika sedang melakukan perjalanan itu sendiri.

Sebenarnya saya bukan orang yang apik dalam urusan pengeposan biaya perjalanan. Asal enggak mahal, menurut standar saya, itu yang menjadi prinsip saya.

Saat traveling, saya tergolong matre. Semua hal harus ditakar dulu besaran biayanya. Bujet biasanya disesuaikan dengan standar hidup di tempat tujuan. Misal rata-rata untuk di sekitaran Asia, saya selalu patok bujet harian maksimal 200 ribu IDR. Biaya akomodasi dan makan sudah termasuk, bahkan kalau bisa transportasi masuk ke dalam anggaran tersebut. Sementara di Australia dan Amerika Serikat lebih kurang 50-75 USD per hari, tapi paling sering kena di batas bawah sih.

Kenapa anggaran harian penting? Supaya tidak kebobolan dan amit-amit kalau harus sampai ngutang demi traveling.  Sebenarnya ada beberapa cara yang saya pakai untuk menekan anggaran belanja jalan-jalan. Salah satunya ada di bawah ini.

Tiket Promo

Biaya transportasi menjadi salah satu pos belanja yang besar. Makanya kalau bisa dapat tiket dalam harga promo bakal menguntungkan sekali. Sayangnya saya kalau bepergian jarang terencana seperti teman-teman saya yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Bahkan saya bukan tergolong orang yang siap bangun tengah malam demi mendapatkan peruntungan harga promo. Jangan harap bisa menemukan saya di acara travel fair yang banyak pengunjung itu.

Prinsip “asal enggak mahal” selalu saya pake. Prinsip itu tidak saklek karena saya selalu memperhitungkan jarak tempuh perjalanan itu sendiri. Misal saya dapat tiket Bangkok-New York City seharga 477 USD. Waktu perjalanan hampir 20 jam tidak termasuk transit di Beijing selama 8 jam. Menurut saya harga tersebut cukup rasional. Bandingkan saja dengan Jakarta-Bali yang ditempuh selama dua jam penerbangan dan kadang biaya sekali jalan sampai 500rb IDR. Jadi “enggak mahal” kan tiket perjalanan Bangkok-New York saya?

Tetapi tidak lama kemudian teman saya menemukan tiket promo dari Malaysia ke USA pergi pulang dengan harga tidak beda jauh dengan yang saya keluarkan. Murah banget! Tapi, ya mungkin bukan rezeki saya dapet promo.

Traveling Rame-Rame

Jalan-jalan dengan tema open trip atau shared cost selalu jadi favorite saya. Alasannya sudah pasti bisa meminimalisir biaya perjalanan. Semua fasilitas yang digunakan bersama bisa dibagi-bagi rata biayanya. Sungguh hemat.

Tidak Terburu-buru

Nah, berdasarkan bujet harian yang sudah saya sebutkan di atas tinggal dihitung saja jumlah hari bepergian. Biasanya semakin panjang waktu bepergian malah bujet harian rata-rata akan lebih rendah dibanding bepergian dalam waktu pendek. Misal, hostel di Australia menerapkan harga harian dan mingguan yang total penghematan per minggu bisa sampai 20 USD. Lumayan kan?

Saya sempat menghitung-hitung kasar, kalau pengeluaran untuk liburan yang singkat dibandingkan untuk bepergian lumayan lama tidak terlalu berbeda banyak. Contoh ya, seorang teman pernah bertanya-tanya seberapa anggaran yang saya sudah keluarkan selama sebulan di Thailand. Kalau enggak salah saya cuma menghabiskan uang sama besarnya seperti saat tinggal di Jakarta selama sebulan. Si teman kaget karena dengan jumlah yang sama dia habiskan dalam waktu seminggu.

Kok bisa?

Teori saya sih, saat bepergian dalam waktu singkat kita akan dengan sadarnya menghambur-hamburkan uang. “Enggak apa-apalah namanya juga liburan.” Sementara saat kita punya banyak waktu, umumnya malah lebih santai dan menikmati sekitar tanpa terlalu mikir harus ke sini harus ke situ.

Transportasi Publik

Kalau untuk urusan satu ini sih siapa yang bisa lawan ya, kan? Moda transportasi publik memang sangat membantu dalam menekan pengeluaran. Saya sangat jarang menggunakan taksi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ya karena alasan biayanya yang super besar.

Kalau sudah begitu pilihannya tinggal bus atau kereta. Untuk berpindah dari satu titik ke titik lain yang berada di dalam satu kota memang moda transportasi ini paling saya andalkan. Pun demikian untuk jarak yang cukup jauh seperti antar provinsi. Ya karena umumnya saya bepergian dalam waktu yang lama dan tidak perlu menghemat waktu perjalanan menggunakan dua moda transportasi tersebut pun saya jabanin walau harus duduk selama belasan jam.

Kenapa rela seperti itu? Ya karena umumnya tiket yang harus dibayarkan jika menggunakan pesawat untuk tujuan yang sama akan berkali-kali lipat harganya. Tapi, ya kalau beda harganya tidak jauh-jauh amat sih saya juga lebih pilih pesawat. Misal nih, ya, di Kolombia harga tiket pesawat dan bus itu paling cuma beda 200ribu IDR, pesawat lebih mahal. Tetapi, durasi perjalanan bisa dihemat sampai 10 jam. Pilih mana?

Paket Hemat

Menginap di dormitory dan jajan kali lima dan pasar adalah kombo hemat yang selalu saya usahakan setiap bepergian.

Harga tidur di dorm sangat jauh di bawah harga sewa satu kamar. Kasarnya nih, semalam di kamar privat bisa buat dua malam di dorm. Biasanya semakin banyak ranjang susun di sebuah dorm akan selalu murah, tapi saya selalu pasang jumlah maksimal enam orang dalam satu kamar biar tidak terlampau berisik dan sumpek. Selain itu, dorm campur akan lebih murah ketimbang khusus cewek. Saya selalu pilih yang campur bukan cuma karena pengen ketemu cowok kece tapi juga lebih bisa serampangan. Kalo cewek-cewek kan biasanya resik, sementara saya anaknya berantakan. Takut kena omel. Hihihi…

Saat memilih penginapan saya pun selalu mencari yang memiliki dapur umum. Jika saya berencana menginap selama beberapa hari akan sangat membantu karena saya tinggal beli bahan makanan untuk beberapa hari dan masak di dapur.

Ya, walau kadang saya masak sendiri tapi masih menyempatkan diri untuk makan kaki lima atau di pasar. Ya karena memang tidak ada yang bisa menandingi harganya. Soal rasa pun seperti pada umumnya sangat “jorok”. Eits yang saya maksud “jorok” di sini lebih otentik gitu. Namun, saat di India saya lebih suka makan di hotel karena lebih bervariasi menunya. Btw, hotel yang saya maksud bukan tempat untuk menginap ya. Rumah makan atau restoran di India selalu disebut hotel.

***

Cara-cara di atas terbukti membuat kantong saya aman selama perjalanan. Makin aman lagi karena saya tidak pernah beli oleh-oleh. Bukan demi penghematan, tapi memang pelit dan malas belanja hahaha…

Kalau kalian sendiri bagaimana cara mengatur keuangan untuk traveling?

Baca juga cerita Dita, Ria, dan Nita soal pengaturan anggaran jalan-jalan mereka ya.

 

Iklan

4 Replies to “#CelotehTukangJalan: Anggaran Jalan-Jalan”

  1. Thanks banget untuk tipsnya, sangat bermanfaat.
    Recommended banget nih untuk dibaca, terutama yang first time travellers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s