Enaknya Belajar Bahasa Spanyol di Kolombia

Pembaca yang budiman, maafkan Seri Anak Rantau sempat vakum beberapa episode. Penyebabnya tak lain tak bukan karena penyakit malas si penulis lagi akut. Hihihi…

Baiklah.

Untuk kali ini seri anak rantaunya bukan cuma satu profil tapi tiga. TIGA. Anggap saja sebagai pembayar kekhilafan dan malasnya penulis. Kali ini profil yang akan diangkat adalah mereka yang belajar bahasa spanyol yang menjadi bahasa resmi Kolombia selama empat bulan. Di akhir masa belajar bukan cuma level berbahasa spanyol yang meningkat tetapi juga banyak cerita manis yang tersimpan di kotak memori para pelajar asal Indonesia tersebut.

Seberapa penting sih, mempelajari bahasa asing? Sebagian orang berpendapat, dalam masa yang serba mengglobal ini, penguasaan beberapa bahasa asing menjadi salah satu amunisi penting untuk “bersaing”. Menguasai bahasa inggris menjadi semacam keharusan saat ini. Namun, bagi mereka yang sudah mahir nginggris seakan ada tuntutan untuk menaklukan satu bahasa lain.

Bahasa spanyol bisa menjadi pilihan karena jumlah penuturnya yang sangat banyak. Setidaknya ada 437 juta orang di 21 negara dengan bahasa spanyol sebagai bahasa ibunya. Kalau lihat data ethnologue.com malah jumlah penutur spanyol lebih banyak dibanding mereka yang memiliki bahasa ibu bahasa inggris. Seru, kan?

Baca juga dong soal Keuntungan Berbahasa Spanyol

Belajar sebuah bahasa tentunya kita bisa ikut belajar soal budaya. Mempelajari budaya baru bikin siapapun terpikat. Apalagi kalau belajarnya di negara di mana bahasa tersebut digunakan secara resmi. Pasti tambah seru. Hal tersebutlah yang dirasakan oleh Suko Adi, Fauzan Kautsar, dan Farid Mardhyanto yang menjadi penerima beasiswa ELE FOCALAE* dari pemerintah Kolombia pada 2016 silam.

Ada delapan penerima beasiswa dari Indonesia. Kedelapannya ditempatkan di lima kota berbeda. Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga budaya Kolombia. Pelajaran tidak hanya didapat dari ruang kelas melainkan juga dari interaksi dengan masyarakat setempat. Tentu saja kesempatan satu ini sangat berarti bagi para penerima beasiswa yang sebelum keberangkatan tidak mengetahui banyak hal tentang negara tujuan. Apa yang mereka dapatkan di Kolombia merupakan pengalaman menarik untuk diceritakan.

Ternyata Tidak Sulit

Pertanyaan yang sering berseliweran di kepala kita saat akan memulai sesuatu adalah seberapa tinggi tingkat kesulitannya. Padahal kadang saat sudah dijalankan tidak seperti yang dibayangkan.

Hal tersebut diamini Fauzan. Menurutnya, proses belajar bahasa spanyol tidak terlampau sulit. Dengan kemampuan bahasa inggris yang sudah dimiliki, pelajaran bahasa spanyol  yang didapatnya selama di pendidikan di kota Manizales, Kolombia, mudah diserap.

“Kita bisa mengelaborasikan bahasa asing yang baru dengan bahasa asing yang sudah dikuasai,” ujar mahasiswa Universitas Diponegoro ini.

Selain itu, tambah Fauzan, bahasa spanyol memiliki kemiripan struktur dengan bahasa indonesia. Ia mencontohkan “kulit coklat” adalah “piel marano” dalam bahasa spanyol. Sementara dalam bahasa inggris akan menjadi “brown skin”.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Farid. Pria yang bekerja sebagai pemandu wisata di Jakarta ini mengatakan ia sangat terbantu oleh bahasa prancis yang dikuasainya dalam mempelajari bahasa spanyol. Maka dari itu, ia pun tidak heran kalau kata-kata dalam bahasa spanyol punya alat jenis kelamin, hal yang sama pun ada di bahasa prancis.

Hal lain yang memudahkan para pelajar ini dalam mempraktikan bahasa spanyol adalah kemiripan dalam pengucapan. Farid bercerita kalau dirinya tidak kesulitan saat harus melafalkan “r” dan “rr” yang sering muncul dalam bahasa spanyol, padahal teman-temannya yang berasal dari negara Asia lainnya cukup berjuang menaklukan dua huruf tersebut.

Be Local!

Selain menyerap pelajaran di ruang kelas, para penerima beasiswa ini mau tidak mau langsung mempraktikannya di kehidupan nyata. Ya mau bagaimana lagi umumnya penduduk Kolombia hanya berbahasa spanyol.

Farid misalnya, selesai belajar di kelas ia banyak menghabiskan waktu di toko buku, nongkrong di warung kopi, sampai belajar salsa. Dengan semua aktivitas tersebut ia pun semakin terekspos dengan bahasa spanyol dari penduduk lokal. Terlebih pemilik kosan tempatnya tinggal tidak berbahasa inggris sama sekali, jadi bahasa spanyol-lah penyelamatnya.

Farid ditempatkan di Kota Armenia, Departemen Quindio. Departemen (semacam provinsi di Indonesia) Quindio termasuk pusat penghasil kopi. Tidak heran kalau pusat kota akan dipenuhi dengan warung kopi yang juga jadi tempat nongkrong Farid. Gara-gara rajin nongkrong, Farid jadi tahu toko kopi mana yang kece dan menu andalannya. Baca cerita Farid soal kopi Armenia di sini.

Oh iya, Farid juga sempat melaporkan kondisi politik Kolombia ke tanah air, loh.Tahu kan, kalau Kolombia sedang berusaha menyelesaikan perang sipil berkepanjangan? Setelah 52 tahun perang berlangsung, empat tahun lalu proses perdamaian dilakukan antara pihak pemerintah dan FARC. Nah, saat rancangan perdamaian sudah dibuat oleh kedua pihak, penduduk Kolombia dimintai persetujuan atas rancangan tersebut.

Dari berbagai survei yang dilakukan sebelum pemungatan suara menunjukan bahwa penduduk Kolombia setuju dengan rancangan perdamaian tersebut. Eh, ternyata pada hari pemungutan suara hasilnya berbeda dari survei dong. Kayak familiar sama kondisi ibu kota Indonesia saat pilkada kemarin ya? Hihihi

Berbeda halnya dengan Suko yang memilih untuk menyusuri penjuru Kolombia sebagai salah satu caranya untuk mengasah kemampuan berbahasa spanyolnya. Bahkan pernah saat hasratnya menjelajah tidak terbendung dengan nekadnya dia mengatur perjalanan bersama teman-temannya ke Gurun Tatacoa.

Urusan transportasi menjadi tanggung jawabnya, ia pun sempat kelimpungan karena harus berbicara dalam bahasa spanyol kepada pemilik kendaraan yang akan disewa. “Sulit sih, tapi mau bagaimana lagi?”

Suko sendiri punya trik tersendiri untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya. Setidaknya dalam sehari ia harus memiliki sepuluh kosakata baru untuk diingat.

Bukan cuma itu, belajar masak makanan khas Kolombia pun bisa menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan demi memperdalam bahasa spanyol.

Bagaimana dengan Fauzan?

listo para bailar, porque el baile es idioma universal #MiVidaLoca

A post shared by Fauzan Mawardi Kautsar (@fauzankautsar) on

Seperti yang terlihat dalam foto-foto di atas, Fauzan juga membiarkan dirinya terekspos dengan budaya Kolombia yang gemar berjoget. Seperti yang dia bilang di atas “el baile es idioma universal“, tarian adalah bahasa universal.

Pengalaman Berharga

Meskipun hanya empat bulan mencicipi pelajaran bahasa dan juga kehidupan di Kolombia. Ketiga mas-mas ini setuju kalau beasiswa ELE FOCALAE ini memberikan pengalaman yang berharga bagi mereka.

Suko misalnya, sebagai seorang pejalan, ia menjadikan kesempatannya tinggal di negeri El Dorado ini untuk mengeksplorasi budaya dan alam Kolombia lebih jauh. Liat deh foto-foto Suko saat menjelajah Kolombia di akun instagramnya. Klik aja di sini. Dan menurutnya, bagi siapapun yang menyukai bahasa khususnya bahasa spanyol kesempatan beasiswa semacam ini tidak boleh dilewatkan.

#LaVidaEnColombia Los guambios, uno de 4 grupos indígenas que viven en silvia, Cauca, me mostraron su música típica. Silvia es un pueblo alto (2680 m sobre de nivel del mar). Los martes, los guambios vienen al centro del pueblo para hacer de compras y de ventas. Ello se visten con ropa azul, las mujeres se usan como Poncho/Ruana, pero los hombres se la usan como una falda. Ellos todavía conservan su idioma y cultura distinta. The guambias, am indigenous group living in Cauca, southern Colombia, has its own distinction. They will wear blue in their everyday life. The women use it as poncho and the men use it as a "skirt", also with their small sombrero on their head. Only in tuesday they will flock the market to shop or sell, and this is a tourist attraction itself when we can meet hundreds of them in the plaza talking in their own language. Silvia is located at 2680 meters asl, and dubbed aa the Switzerland of latin america. #cauca #silvia #popayan #indigenas #guambia #colombia #poncho #backpacker #SoyEleFocalae

A post shared by suko prastiyo (@zhukolicious) on

Sementara bagi Fauzan, bahasa itu seperti pintu yang ketika dibuka (dikuasai) akan membawa kita ke tempat baru. Ia pun yakin dengan kemampuan berbahasa spanyol yang kini dimilikinya dapat memberikan nilai lebih untuk dirinya. “Saat ini rata-rata setiap orang bisa berbahasa inggris, dengan kemampuan baru ini membuat saya memiliki nilai lebih dibanding yang lain,” ujar pria yang menargetkan bisa menguasai lima bahasa asing ini.

Bagi Farid, dengan kemampuan barunya ini ia pun berharap bisa lebih mengerti kebutuhan peserta tur yang dipimpinnya. Selama ini bahasa pengantar yang digunakan adalah inggris. Ia pun tidak menutup kemungkinan saat level bahasa spanyolnya semakin baik, akan ada tur dalam bahasa spanyol.

*

Farid, Suko, dan Fauzan berkesempatan untuk belajar bahasa spanyol dan budaya Kolombia setelah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Kolombia pada 2016. Program Beasiswa yang sudah diadakan sejak 2013 tersebut ditawarkan melalui Forum untuk Kerjasama Amerika Latin dan Asia Timur (FEALAC) yang ditujukan bagi mahasiswa dan pemandu wisata.

Seru banget ya. Saya jadi ingin juga bisa belajar lagi di kelas. Sayangnya tidak masuk kualifikasi. Huhuhu… sedih. Bagi yang mau ikutan, tahun ini juga ada program ini lagi loh. Tapi batas akhir aplikasinya tanggal 28 April (hari ini). Hehehehe maap-maap nih telat banget ngasih tahunya. Ya kalau sekarang telat, tunggu saja tahun depan dan pantengin terus FB Page Kedutaan Kolombia di Indonesia untuk dapat informasi seputar beasiswa ini.

Jangan sampe cuma Farid, Suko dan Fauzan saja yang bisa menikmati kenikmatan Kolombia. Kamu juga bisa!

Iklan

6 Replies to “Enaknya Belajar Bahasa Spanyol di Kolombia”

  1. Hola.. buenos diz..
    Me llamo Kartes..

    uda gitu doang bisanya..jadi kangen belajar bahasa spanyol lagi..
    semoga suatu saat sempat ke kolombia.. 🙂

    Salam kenal ya

  2. Seru bangeeet. Aku juga pengen menambah satu bahasa asing lagi sebagai pegangan. Tapii bahasa Inggris nya masih asal-asalan hahaha. Lebih besar minat daripada penguasaan. Tapi kayanya banyak ya yang pergi ke Kolombia buat belajar bahasa Spanyol. Kalau independen bisa gak ya?

    1. kalau independen saya kurang tahu banyak deh Bang. Tapi banyak orang asing ke sini datang buat belajar bahasa spanyol sih. seharusnya mudah ya kalau mau independen.

      kalau enggak berharap aja siapa tahu ada beasiswa buat blogger jadi dirimu bisa daftar. hihihi

  3. halo, bisakah saya menghubungi saudara suko adi prasetyo ?
    saya kehilangan jejak suko sejak setahun yg lalu, karena hp saya hilang.
    tolong hub saudara suko utk menghubungi saya di erlinliang@yahoo.com
    terima kasih,

    Erlin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s