#CelotehTukangJalan: Traveling dan Perubahan

Akhir-akhir ini aura negatif lagi senang main bersama saya. Akibatnya saya selalu melihat kekurangan akan sesesuatu. Enggak bisa santai seperti biasanya. Apa saja yang dilakukan orang lain selalu salah di mata saya.

Kalo kata anak kekinian mungkin saya kurang piknik jadinya gampang uring-uringan.

Bener juga sih. Saya sekarang ini terlalu berkutat pada satu hal yang bikin keseharian saya monoton. Katanya sih kalau banyak piknik bikin kita jadi orang yang lebih baik karena terbiasa melihat sesuatu yang beda bikin kita banyak belajar. Umm, apa iya akan selalu begitu?

celoteh (1)
baca juga cerita Dita ya

 

Piknik sih, sudah barang tentu bakal jadi salah satu pelarian yang mengasikan dari segala kejenuhan sehari-hari. Tapi saya enggak terlalu setuju sih, kalau orang yang sering piknik akan menjadikannya pribadi yang lebih baik. Berbeda dari yang sebelumnya mungkin, jadi lebih baik belum tentu.

Keraguan saya itu bersumber baik dari pengamatan ke orang lain juga ke diri sendiri. Tapi biar lebih asik, mendingan kita ngomongin orang lain dulu ya. Tuh, kan, negatif.

Saya tergabung dalam satu komunitas pecinta traveling baik dalam maupun luar negeri. Biasalah pasti di tiap grup itu ada aturan komunitasnya demi menjaga kenyamanan tiap anggotanya. Tapi kadang saya sebel, gara-gara lihat banyak yang suka menyerang anggota lain yang melakukan pelanggaran kecil di grup.

Saya paling benci main keroyokan. Beraninya cuma kalau ada temannya.

Umumnya yang jadi korban serangan tuh mereka yang dianggap memalukan nama bangsa dan tanah air. Padahal kadang kesalahannya enggak fatal. Dan ada juga kesalahan yang tidak sengaja cuma karena lalai karena tidak tahu kebiasaan setempat.

Gara-gara kesalahan itu jadilah para sesuhu grup heboh dan menghujat. Tetiba saya ingat banyak orang suka bepergian karena bisa lebih menghargai/ menghormati orang lain. Tetapi, kenyataannya berbeda sekali. Mereka yang mengaku sebagai tukang jalan akut pun tetap belum mudah untuk tidak bergunjing.

Pernah lain berikutnya saya bertanya-tanya pada seorang pejalan yang sudah melanglang buana kemana-mana. Pertanyaan saya ajukan lewat messanger facebook. Supaya pesan bisa langsung terliat maka saya memutuskan untuk mengajukan pertemanan. Setelah dia mau jadi teman maka pesan-pesan saya pun terjawab.

Saya bertanya perihal Kolombia. Berhubung yang bersangkutan pernah ke negara itu, maka wajar dong kalau saya anggap dia sebagai sumber kredibel untuk menjawab pertanyaan saya? Jawabannya sangat membantu. Namun, setelah saya sampai di Kolombia saya jarang melihat postingannya di facebook. Apa yang terjadi? kami tidak lagi berteman. Saya tidak ingat pernah memutuskan pertemanan kami.

3707ddfa93dc98ee8ce7d5a2036b8856
sumber

 

Usut punya usut, berdasarkan pendapatan teman saya yang juga mengenal si pejalan, kami tidak lagi berteman karena ada kecemburuan. Tidak cuma itu ada juga rasa khawatir kalau saya akan melebihi si pejalan untuk soal urusan Kolombia. Ia hanya ingin dirinya yang paling dikenal di grup sebagai penjelajah Amerika Selatan. Ribet dah, ah! Hahaha…

Terbuktikan kalau traveling tidak selamanya memberikan dampak baik bagi pelakunya?

Sudah ah, ngomongin orang lainnya. Kayaknya traveling enggak banyak mengubah pribadi saya, masih doyan bergunjing. Saya pun tidak sekali berselisih paham dengan orang gara-gara saya tidak bisa menerima pendapat lawan bicara. Para pejalan sejati pastinya kan open-minded ya jadi bisa lebih legowo kala menghadapi perbedaan. Kadang malah misuh-misuh enggak jelas.

Setuju sih, kalau perjalanan yang kita lakukan kemanapun itu pasti memberikan pengalaman baru dan sudah pastinya bisa ikut membentuk karakter juga kebiasaan kita. Namun, sekali lagi patut diingat, hasil akhir dari pengaruh dari luar itu tidak selamanya positif.

7a4f44925ac9c073bbb3ed248554dbb8
sumber

 

Saya sendiri enggak begitu tahu dimana perbedaan karakter saya sebelum dan sesudah traveling. Paling cuma kebiasaan hidup aja yang sedikit berubah. Apa saja? Ini dia daftarnya:

Sudah enggak ngedumel kalau dianggap orang China/ Jepang/ Korea

Tertawalah, karena banyak orang di belahan dunia lain yang tidak tahu keberadaan Indonesia. Melihat penampakan saya yang terlihat Asia pasti banyak yang mengasosiasikan saya sebagai masyarakat China/ Jepang/ Korea. Walaupun mereka sebenarnya ada keraguan juga saat melihat kulit coklat saya.

Dulu-dulu sih gigih banget ngasih tahu kalau saya orang Indonesia. Terkadang saya buka peta dan menunjukan kepada mereka di mana Indonesia berada. Sekarang? iyain aja deh biar cepet.

Kosakata bahasa asing bertambah

Keseringan berbagi kamar dengan orang asing membuat saya sering mendengar kata-kata asing baru. Biasanya sih, kalau sudah akrab, saya akan meminta satu-dua kata baru untuk dimasukan dalam memori otak.

Kamar dormitory yang bisa menampung banyak pejalan memang kadang seperti “melting pot”. Kadang saya tidak bisa curi-curi dengar apa yang mereka bicarakan karena ya memang enggak ngerti. Ada untungnya juga sih, saya tidak baper khawatir ada yang ngomongin di belakang. Kalaupun ada ya udahlah biarin aja, toh gak bakal ketemu lagi.

Pandai berhemat

Enggak kok, saya tidak pandai mengatur anggaran makanya bisa berhemat. Hal ini lebih dikarenakan saya jadi jarang belanja. Sebelum menghabiskan uang saya bakal bertanya kepada diri sendiri “butuh, gak, nih?”

Kalau saya pikir masih bertahan hidup tanpa belanja, maka saya tidak akan belanja. lagian selama di jalan kan kebutuhan utama cuma papan dan pangan. Sandang mah santai aja. Pake baju yang itu-itu saja pun enggak bakal ada yang sadar. Toh, bisa saja kita bertemu orang baru tiap hari dan mereka pasti tidak akan tahu baju apa yang kita kenakan sehari sebelumnya. Ya, gak?

Dengan alasan di atas, makanya saya jarang banget ganti baju kecuali cuaca hari itu sangat panas dan bikin saya keringatan. Mau tidak mau saya harus mandi dan ganti baju.

Menyebrang jalan tengok kanan kiri

Standar menyebrang yang baik adalah melihat ke arah datangnya kendaraan kan? Kalau di Indonesia kita pasti akan reflek menengok ke kanan dan baru kemudian melihat dari arah berlawanan. Namun, hal tersebut akan terbalik bila kita sedang berada di negara yang posisi sopirnya di sebelah kiri.

Saya beberapa kali hampir ketabrak saat menyebrang karena menengok ke kanan terlebih dahulu sementara mobil datang dari sebelah kiri. Kebiasaan dari Indonesia membuat saya lengah. Solusi terbaiknya adalah selalu menengok ke kedua arah biar aman.

Tukang Stereotype

Meskipun pernah jadi korban stereotype bukan berarti saya tidak melakukan hal yang kurang terpuji itu. Lagi-lagi kamar dormitory memberikan banyak pelajaran, yaitu tiap penduduk sebuah negara pasti punya ciri khas. Makanya kalau saya ketemu orang baru yang berasal dari negara tertentu saya pun punya gambaran akan seperti mereka kelak karena ada pengalaman dari yang sebelumnya.

*

Ya gitu deh, sudah barang tentu traveling bakal bawa perubahan bagi diri kita. Tapi belum tentu kita akan menjadi orang yang lebih baik gara-gara traveling. You won’t change if you don’t want to!

Kalau kalian apa saja yang berubah gara-gara keseringan traveling?

Iklan

13 Replies to “#CelotehTukangJalan: Traveling dan Perubahan”

  1. Haaah, demi apah di-unfol cuma gegara gitu doang? Ya ampun Fii kok traveling jadi macam kompetisi gitu yah.. 😦 Orang sana kenal Asia cuma Cina/Jepang/Korea yah.. Ampuuun.. 😀

  2. Wah wah……ternyata perjalanan tidak menjamin keterbukaan pola pikir seseorang ya.
    Berarti memang harus intropeksi diri terus menerus.

    Ya semoga perlakuan buruk orang lain ke kita bisa dijadikan pelajaran agak kita gak melakukan hal yang sama, amin (?)

    1. yo ih, tergantung seberapa besar kita mau berubah untuk menjadi pribadi yang baik, sih. kalau gak mau berubah sejauh mana pun melangkah gak bakan ada perubahan apa2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s