Siksaan Penerbangan Jarak Jauh

Masih terekam dalam ingatan ketika pertama kali saya menaiki pesawat terbang. Ayah saya bilang rasanya seperti naik roller coaster. Sesaat setelah lepas landas saya memutuskan untuk tidak setuju dengan pendapat ayah karena ternyata lebih menyeramkan ketimbang roller coaster yang umumnya punya penyangga, jadi walaupun berada di ketinggian masih terasa menapak tanah.

Pekerjaan saya dulu cukup membuat saya sering bepergian ke luar Jakarta. Setidaknya sebulan sekali saya pasti mampir ke bandara. Pun begitu rasa takut bepergian dengan pesawat masih tetap ada. Apalagi kalau jarak tempuhnya lebih dari dua jam (batas wajar duduk di pesawat saya) perjalanan, saya sedikit panik karena beberapa alasan.

Pesawat jadi terasa sumpek.

Kaki lelah.

Penyejuk ruangan sangat dingin.

Pokoknya enggak nyaman deh. Ditambah saya seringnya terbang sendirian. Jadilah bosan. Makanya ketika saya harus terbang jarak jauh dari satu sisi permukaan bumi ke belahan lainnya, saya sempat senewen.

Perjalanan dimulai!

Penerbangan jarak jauh pertama saya waktu itu dari Kuala Lumpur menuju Sydney, Australia. yang memakan waktu delapan jam. Saat itu sih saya habiskan dengan banyak tidur. Maklum malam sebelum keberangkatan saya tidak bisa tidur sama sekali. Yah, cukup lumayan mengurangi ketidaknyamanan selama perjalanan sih. Saya pun tidak merasa kelamaan di jalan.

Baru pada kesempatan kedua penerbangan jarak jauh dari Jakarta ke New York yang memakan waktu hampir 20 jam diudara, jika ditambah delay dan transit menjadi 36 jam, bikin saya lemas saat menginjakan kaki di benua Amerika.

Rangkaian perjalanan dimulai dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Don Mueang Airport di Bangkok. Seharusnya pesawat lepas landas pukul 10 pagi, tapi rupanya si maskapai belum mau melepas titel “raja delay” dan kamipun baru berangkat pukul satu siang. Dan baru tiba di Bangkok sekitar pukul 4 sore.

Saya ketar-ketir. Karena jadwal penerbangan saya berikutnya adalah pukul 6 sore. Yang bikin saya makin tambah grogi adalah penerbangan berikutnya itu dari Suvarnabhumi Airport yang berjarak satu jam perjalanan dari Don Mueang. Beruntung jalanan Bangkok yang terkenal macet itu cukup bersahabat, sehingga shuttle bus yang saya tumpangi dengan lancarnya menembus jalanan ibu kota Thailand tersebut.

makanan di pesawat
Bekal dari ibu yang rasanya tidak ada yang bisa mengalahkan.

Proses check-in dengan maskapai yang akan membawa saya ke New York cukup santai. Petugas check-in memberi tahu saya kalau bagasi bisa diambil di tujuan akhir. Karena saya menggunakan Air China maka harus transit di Beijing Capital International Airport (BCIA) di Beijing selama 8 jam. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Sambil menunggu keberangkatan saya malah sempatkan untuk makan bekal yang disiapkan ibu. Noom noom…

Saya sengaja memilih waktu transit pada malam hari sehingga waktu kosong tersebut bisa saya gunakan untuk beristirahat. Rupanya pilihan tersebut tidak salah. Ruang transit BCIA sungguh nyaman. Banyak kursi kosong yang bisa direbahi. Sepertinya kondisi tersebut akan berbeda pada siang hari mengingat jumlah penerbangan jauh lebih banyak.

Transit di Beijing Capital International Airport
Ini bikin gemes banget deh.
Haus. Sayang tidak punya uang receh.
Beijing Capital International Airport
Enaknya ruang transit banyak kursi kosong yang asik dipake buat tidur

Selama menunggu saya tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir soal keamanan tas yang saya bawa. Saat pagi menjelang saya menyempatkan diri untuk mandi. Perjalanan saya berikutnya akan memakan waktu 13 jam, jadi patut dihadapi dengan badan yang segar. Bukan cuma itu sih, saya kan harus berhadapan dengan petugas imigrasi Bandara John F. Kennedy yang terkenal sangar itu, jadi penting banget tampil paripurna biar PD.

review makanan China Air
Saya tidak terlalu peduli akan review, tapi sebelum menggunakan Air China saya tanya sana-sini. Hal itu gara-gara saya takut menemukan sesuatu yang “ajaib” dari penumpang yang pasti banyak dari China daratan. Kenyataannya? Semua baik-baik saja.

Saya selalu suka duduk di samping jendela saat terbang, bisa melamun. Sayangnya saya selalu duduk di kursi C dari Bangkok ke New York. Sesekali saya mengintip pemandangan luar. Saat pesawat terbang di atas kutub utara, penumpang yang berada di kursi A mempersilakan saya untuk bertukar duduk sejenak.

“Mana kamera kamu? Silakan ambil foto!”

kutub utara
Mengangkasa di atas kutub utara

Waaah, penumpang itu pengertian sekali. Mungkin dia merasa kasihan karena saya cuma foto-foto makanan yang disajikan dan monitor hiburan. Buru-buru saya bertukar posisi dan mengabadikan dataran es tersebut.

Silau. Saya harus memicingkan mata karena cahaya matahari terpantulkan dengan sempurna oleh hamparan es.

Sering dengar kan kalau memiliki waktu adalah hal yang paling berharga yang bisa dimiliki seseorang. Kenapa? karena kita tidak bisa memutar waktu. Gara-gara perjalanan panjang ini saya pun mau mematahkan simpulan di atas. Terbang dari timur menuju belahan barat bumi membuat saya berhasil mengumpulkan waktu tambahan.

Penerbangan saya berangkat pukul 9 pagi pada 22 Juni 2016. Tiga belas jam kemudian saya sampai di New York pukul 10 pagi pada tanggal yang sama. Saya berhasil memutar waktu. HAHAHAHAHA… I GOT THE POWER!!!

china air airline
Mengejar matahari dari Beijing ke New York. Selama tiga belas jam mengangkasa penerbangan kami tidak pernah bertemu malam.

Sesampainya di dataran Amerika saya rehat beberapa hari di New York. Berkeliling di kota yang selama ini saya kenal dari film dan serial TV itu rupanya menarik juga. Barulah pada hari keempat saya melanjutkan perjalanan ke Kolombia.

bandara JFK New York City
JFK Airport
bandara JFK
Selamat datang di Amerika Serikat

Saya menggunakan maskapai JetBlue yang mengantarkan saya ke kota di pesisir Laut Karibia, Cartagena. Penerbangan selama kurang lebih lima jam itu tidak terasa membosankan karena ada wifi gratis. Awalnya sempat ragu untuk mencoba. Saya khawatir akan ada biaya tambahan yang akan dibebankan ke kartu kredit. Tapi ya bodo amatlah dicoba saja. Dan bener dong gratis. Seketika merasa jadi orang kaya bisa internetan di udara. Hihihi…

wifi on board jetblue
Enaknya naik JEtBlue ini ada wifi on board GRATIS!!! Fasilitas ini bisa dinikmati selama berada di atas teritori AS.
makan di pesawat jetblue
Penerbangan yang memakan waktu sampai lima jam ternyata tidak disuguhi makan berat. Meski demikian bisa puas makan cemilan kecil.
penerbangan dengan jetblue
Halo Kolombia!

Biasanya nih, kata orang-orang, perjalanan udara jarak jauh bikin kita jetlag. Saya keheranan karena tidak mengalami hal tersebut. Contohnya ya, saya bisa langsung ON  jalan-jalan ketika sampai di New York. Bahkan selama dua hari penuh saya keliling-keliling dari pagi sampai malam.

Sayangnya saya salah. Ketika sampai di Cartagena saya langsung tepar. Tidur seharian. Saya sampai sekitar pukul 11 pagi di hostel dan langsung tidur seharian. Bangun hanya untuk makan malam. Bir yang saya tenggak malam itu berhasil memberatkan mata dan saya tidur seperti bayi di tengah lembabnya udara Cartagena. Keesokan harinya pun sama. Saya cuma putar-putar pusat kota selama tiga jam. Menyerah dan lalu kembali pulang ke hostel dan kembali tidur sampai malam.

Entahlah saya menjadi kebluk karena pengaruh perbedaan waktu yang sampai 12 jam dari Jakarta. Atau saya hanya lelah karena kebanyakan jalan kaki di New York.

Secara garis besar saya sih untuk perjalanan kali ini semua berjalan aman-aman saja. Eh, tapi kayaknya saya belum siap deh kalau harus melakukan perjalanan panjang yang melintasi banyak zona waktu. Pening.

Kalau kalian ada cerita apa sama penerbangan jarak jauh?

Iklan

15 Replies to “Siksaan Penerbangan Jarak Jauh”

  1. Belum pernah sampe selama itu mba. Paling lama aku 17 jam pas ke bulgaria.. Udh ama transit di frankfurt.. Dan capek memang. Apa daya belum mampu beli tiket kls bisnis ato first class wkwkwkwk 😀 Dinikmatin ajalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s