#SeriAnakRantau: Terpikat Pesona Afrika

APRIORI

/ap·ri·o·ri/ a berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dan sebagainya) keadaan yang sebenarnya.

Gara-gara sering baca atau dengar tentang sesuatu pasti kita akan punya pendapat sendiri. Kadang nih, pendapat yang merupakan simpulan tersebut bisa berbeda jauh dengan kenyataan. Misal, ngeliat lokasi yang “instgramable”, namun ketika sampai reaksi kita cuma “yah, segini doang?”

Mau dites? Baiklah. Apa yang ada di kepala kalian saat dipertemukan dengan kata ini: AFRIKA

Hewan liar.

Sabana.

Tanah tandus.

Terbelakang.

Saya juga pernah berpikiran seperti itu, sih. Makanya seneng banget saat Sukristanto Hari Kusminto mau diajak bercerita soal tanah Afrika yang sudah ditinggalinya selama lima tahun terakhir buat Seri Anak Rantau kali ini. Hari, begitu ia akrab dipanggil, merupakan staf lokal di Kedutaan Besar  Republik Indonesia (KBRI) di Harare, Zimbabwe.

seri anak rantau raun-round

Setelah ngobrol-ngobrol, pandangan saya tentang Afrika dan Zimbabwe tidak serta merta berubah tapi lebih menerima kenyataan bahwa setiap tempat itu punya ciri khas tersendiri. Ya mungkin ini apriori tambahan yang saya dapatkan dari Hari.

*

Berbekal informasi dari dosen di kampus, Hari mencoba peruntungan sebagai Local Staff KBRI di Zimbabwe. Tanpa memiliki ekspektasi akan negara penempatan, Hari hanya merasa tertantang untuk mengetahui apa yang ditawarkan benua tersebut.

Sesampainya di Zimbabwe, Hari berubah menjadi “miliuner”. Gara-gara embargo ekonomi dari Eropa dan Amerika Serikat, perekonomian negara ini terganggu dan menyebabkan inflasi gila-gilaan. Namun, sekarang pemerintah Zimbabwe sudah mengganti mata uangnya menjadi dollar AS dan bond note. 

440px-zimbabwe_100_trillion_przc3b3d
Kaya mendadak. Sumber.

“Bukan Yuan, mata uang China, seperti yang dipercaya banyak orang di Indonesia,” ujar Hari.

Menurut Hari, ada beberapa aspek kehidupan negara di selatan Afrika ini yang menarik. Mulai dari budaya antri yang sangat luar biasa, saling hormat-menghormati yang patut diacungi jempol, juga rajin membuang sampah pada tempatnya.

Jangan ditanya soal ketertiban berlalu-lintas, Indonesia bisa dikatakan tertingal dibandingkan Zimbabwe. Tata tertib di jalan raya dipatuhi dengan baik oleh para pengendara. Awal-awal Hari masih membawa budaya menyetir dari Indonesia, sampai-sampai ia kena omel rekan kerjanya.

Bukan cuma urusan di jalan raya, Hari pun berusaha untuk menyesuaikan kondisi kehidupan di Zimbabwe. Selama tiga bulan pertama penempatan, ia harus sabar dengan koneksi internet yang lajunya tak lebih cepat dibanding siput berlari. Kesehariannya pun diwarnai dengan pemadaman listrik dan terkadang air pun tidak mengalir.

Shock waktu pertama kali datang. Sepi. Tempat hiburan sedikit dan tidak ada bioskop,” kenang Hari.

Namun, sekarang hidupnya lebih berwarna karena banyak kafe yang menawarkan menu menarik dan yang pasti dilengkapi wifi.

Dengan segala keterbatasan yang ada di negara tersebut, ternyata membuat penduduknya kuat mental. Misal, tambah Hari, saat musim kemarau pasokan air dan bahan makanan menjadi langka. Tetapi mereka tidak akan mengeluh. Bahkan saat harga bahan bakar minyak naik, mereka tetap menerima keadaan tersebut. “Enggak demo seperti di Indonesia,” ujar Hari.

Pertaruhan Hidup dan Mati

“Ini Afrika! Motret alam liar itu wajib bagi orang asing di sini. Kalau enggak, ya, rugi.”

~ Hari ~

Hal lain yang berhasil mencuri hati Hari adalah alam liar Zimbabwe. Pesonanya membuat Hari rela menantang maut saat menjalankan hobi memotret alam liar Zimbabwe.

Suatu kali, Hari sempat mengunjungi Hwange National Park. Bagi yang sering mengikuti berita pasti masih ingat dong dengan singa Cecil yang ditembak mati oleh pengunjung taman nasional ini?

Sayang di tengah perjalanan berburu objek foto, mobil Hari mati total. Berada di antah barantah dan sendirian, Hari berpikir keras bagaimana caranya keluar dari masalah itu. Tinggal di mobil atau berjalan kaki untuk kembali ke basecamp penginapan. Setelah dipertimbangkan akhirnya ia memilih untuk berjalan kaki. Risiko berselisihan jalan dengan hewan liar diambilnya

Dengan memanggul perlengkapan memotret dan batu sebagai alat perlindungan, Hari berlari sekuat tenaga di tengah siang bolong. Kelelahan, ia melanjutkan berjalan kaki. Semua indranya waspada mengingat dia berada di jantung taman nasional Afrika dimana singa dan gajahnya enggak seunyu-unyu yang ada di kebun binatang atau taman safari.

Sampai suatu ketika segerombolan impala memotong jalannya secara tiba-tiba. Hari mencelos. Jantungnya masih berdetak. Tentu saja hasil akhirnyanya akan berbeda kalau singa yang saat itu tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Saya cuma tetap berdoa meminta perlindungan Tuhan. Kalau hari itu hidup saya selesai, maka genaplah usia ini karena keesokan harinya saya berulang tahun,” kenang Hari.

Hujan turun, Hari mengatur napasnya. Perjalanan dilanjutkan meskipun engkel kaki kanannya mulai sakit dan telapak kakinya lecet. Tak lama berselang ia mendengar derum kendaraan. Langkahnya dipercepat. Sebuah mobil datang mendekat. Harapan.

Seorang turis Jerman berbaik hati mengangkut Hari dan membawanya ke basecamp. Turis tersebut mengaku tidak mendengar teriakan minta tolong Hari. Ia hanya melihat rumput bergoyang dan mengira kawanan binatang liar. Untuk memastikan ia mengintip dari binokularnya dan melihat Hari.

Sesampainya di basecamp Hari melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya kepada petugas. Tidak ada yang mempercayai keberuntungan Hari bisa selamat berjalan 2,5 jam di dalam rumah hewan-hewan ganas Afrika.

“Beberapa hari kemudian saya menjadi terkenal gara-gara jalan kaki di Hwange National Park,” celoteh Hari.

Tertarik untuk memotret di Zimbabwe? Ini tips dari Hari

  • Hindari memotret manusia. Tidak semua suka difoto candid.
  • Bila masih kekeuh foto manusia sebagai objek, melipirlah keluar Kota Harare. Penduduk luar kota masih ramah untuk urusan difoto.
  • Jangan memotret bangunan atau berususan dengan pihak keamanan.

Gencar Promosi Budaya

Memangku jabatan Staff Penerangan Sosial dan Budaya Hari bertanggung jawab akan setiap pertunjukan kebudayaan Indonesia. Lulusan Tari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memang fasih menari. Selain itu, mantan penata musik ini pun jago memainkan beberapa alat musik tradisional.

Dengan kemampuan seperti itu, Hari ditunjuk oleh kedutaan Indonesia menjadi perwakilan dalam projek pembuatan jingle pariwisata Zimbabwe yang mengusung keragaman budaya. Adalah seorang musisi Zimbabwe Abraham Matuka yang kepincut dengan kebudayaan Indonesia dan memberikan tawaran untuk berpartisipasi dalam pembuatan jingle tersebut.

Berdasarkan persetujuan atasan, akhirnya Hari ambil bagian. Nantinya ia akan bermain gamelan juga ikut menyumbang suara menggunakan bahasa indonesia. Ia tidak sendiri. Ada juga perwakilan dari China, Angola, dan Republik Demokratik Kongo.

Jadi penasaran dengan hasil akhirnya, deh.

*

Dengan segala pengalaman yang sudah dirasakan selama lima tahun tinggal di Zimbabwe, Hari mengaku belum siap untuk kembali ke Indonesia. Meskipun sempat shock di awal kedatangannya, kini ia lebih menikmati kehidupan di Zimbabwe yang lebih santai ketimbang Indonesia.

“Di sini bebas macet dan minim hiruk pikuk. Beda sekali dengan Yogyakarta yang sekarang sangat ramai,” kata Hari.

Tapi walau begitu ia tetap merindukan rumah. Terima kasih pada teknologi yang bisa “memotong” jarak komunikasi, maka jika saat rasa rindu keluarga di Indonesia membuncah bisa dituntaskan dengan fasilitas video call.  Sayangnya teknologi belum mampu membayarkan kerinduan akan makanan khas Indonesia.

“Kangen nasi pecel dan soto “kondang” di depan Kleteng Madiun, sate kelinci di Danau Sarangan Magetan, bakwi jawa Pak THUK di Jokten Wetang Yogyakarta, dan tentunya gulai kakap di rumah makan Padang,” tutup Hari.

Iklan

8 Replies to “#SeriAnakRantau: Terpikat Pesona Afrika”

  1. Kok setelah baca ini, aku malah penasaran pengen ke Afrika ya?
    Padahal sebelumnya, males. Serem hahahaha 😀
    Dan kayanya Zimbabwe menarik juga.

  2. Apa yang di katakan Mas Hari benar adanya,saya kenal mas Hari dengan baik, sering motret bareng juga. Tinggal selama 3 tahun di Zimbabwe belum lah cukup.sampai sekarang masih suka merindukan alam Afrika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s