Antara Aku, Tempe dan Sate Ayam

Saya baru sadar kalau bukan termasuk golongan orang yang melulu beruntung. Salah satu “kesialan” yang menimpa saya adalah lokasi perantauan yang terkadang jauh dari pusat kota besar. Oleh karenanya tak heran kalau lidah sering kangen sama masakan khas Indonesia. Nasib tentunya akan berbeda jika saya tinggal di ibu kota negara yang menjadi tempat merantau, bumbu-bumbu khas Asia tentu mudah didapat dan saya bisa membayar rasa rindu tersebut dengan memasak.

Urusan pemuas selera ini rupanya bukan masalah sepele. Bahkan sudah mengglobal. Contohnya, nih, ya baru saja kejadian beberapa waktu yang lalu saat saya menginap di sebuah Hostel di Bogota. Penghuninya berasal dari banyak negara, dan rata-rata dari mereka rindu akan makanan khas rumahnya masing-masing. Bahkan, mereka rela untuk pergi ke sana dan ke sini demi mendapatkan bahan baku sesuai keinginannya. Kalau tidak dapat ketemu yang sama persis setidaknya memiliki kesamaan yang cukup tinggi.

“Saya tidak dapat ramen Korea, jadi beli yang Jepang saja,” kata seorang penghuni hostel asal Korea Selatan yang merindukan ramen pedas khas negaranya.

Merana banget deh nasib perantau-perantau ini.

Makanya saya senang sekali saat teman yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bogota bilang bakal ada makanan Indonesia di sebuah acara yang diadakan di ibukota Kolombia tersebut. Kebetulan saya sedang berada di Bogota saat acara tersebut berlangsung.

Acara yang diinisiasi oleh para istri duta besar negara asing yang ada di Kolombia tersebut merupakan acara amal. Setiap pengunjung yang datang pun harus membayar 25.000 peso untuk donasi. Saya sempat ogah datang karena adanya keharusan bayar donasi. Tetapi luluh juga saat si teman  bilang bakal ada tempe goreng, tempe mendoan, sate ayam, dan makanan lainnya.

Sebagai manusia bermental tempe saya hilangkan semua keraguan, maka datanglah ke acara tersebut. Terdapat tiga paviliun yang masing-masing diisi oleh stand dari beberapa negara. Saya tidak tertarik untuk melihat stand negara lain sebelum menemukan Indonesia. Paviliun pertama saya putari dengan cepat, tidak melihat merah putih. Saya melangkah ke paviliun berikutnya dan langsung menemukan stand Indonesia yang tepat berada di samping pintu masuk.

Horeeeee..

Sate ayam yang berjajar rapi di atas pemanggang, tempe goreng kecoklatan yang menggoda, risoles gempal yang menarik selera, enggak ketinggalan nasi goreng dan juga putu mayang membuat saya bahagia bukan kepalang. Tanpa menunggu lama saya pun memesan satu porsi sate ayam, tempe goreng, dan risoles. Ketika itu saya tidak lagi peduli dengan bujet jajan. Kapan lagi bisa begini!

Walaupun rasa makanannya tidak terlalu istimewa, plus tidak ada kerupuk, acar, dan bawang goreng sebagai pelengkap sate, saya tetap bersyukur bisa mengudap itu semua. Ditambah lagi banyak orang Indonesia yang bisa saya ajak bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Duh, beruntung sekali saya hari itu.

Puas makan, barulah saya berkeliling-keliling melihat stand negara lain. Tapi tujuan utama saya sih untuk mencari-cari gratisan. Lumayan bisa icip kimbab, beef bulgogi, dan beberapa minuman serta makanan yang tak diingat namanya, tapi saya ingat rasanya.

Lelah berputar-putar saya berisitirahat sejenak sambil menonton penampilan kesenian. Kebetulan penampil dari Indonesia tegah bersiap-siap tampil. Kali ini, Indonesia menampilkan tari Saman dan Sajojo. Yang menariknya para penari ini adalah anak tingkat SMA di Bogota. Meskipun katanya mereka sempat jiper melihat penampilan tim India, mereka tetap menari dengan baik.

Saat musik Sajojo dimainkan saya tak tahan untuk tidak bergoyang. Meskipun asal-asalan yang penting bisa ikut irama. Hihihihi…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Secara keseluruhan acara ini menarik banget. Saya sendiri malah jadi berlama-lama di sini. Padahal niat awalnya cuma numpang makan siang dan melanjutkan perjalanan ke tempat lain, eh malah keasikan menyaksikan pertunjukan sambil memamah makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya.

Ah, semoga tahun berikutnya saya bisa kembali datang untuk menikmati sajian nusantara yang tentunya sangat dirindukan oleh lidah saya.

Iklan

13 Replies to “Antara Aku, Tempe dan Sate Ayam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s