Kembali Nyaman

Bagi yang belum tahu, saat ini saya sedang menetap di Kolombia. Di sebuah kota kecil yang penduduknya tidak beragam. Maksud saya siapapun yang saya temui pasti mereka orang Kolombia. Tentunya keragaman latar belakang budaya akan lebih kaya jika saya berada di kota besar. Makanya saat beberapa hari lalu saya main ke ibu kota Kolombia, Bogota, terasa sangat menyenangkan karena saya bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang.

Sama seperti umumnya ibu kota di negara manapun, Bogota memang seperti melting pot. Berhubung sedang bulan ramadhan, saya pun mencari tahu sekiranya adakah komunitas muslim di kota berpenduduk delapan juta jiwa ini. Ada beberapa. Bahkan seorang teman memberikan kontak seorang imam Masjid Abou Bakr, masjid terbesar di Bogota.

Lahir dan besar di lingkungan muslim, tentunya bulan ramadhan punya makna tersendiri apalagi ketika sedang tidak berada di Indonesia. Tahun ini merupakan kali keempat saya tidak berada di rumah sepanjang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri. Makanya ada rasa rindu yang harus saya tuntaskan.

Untitled design (6) (1).png

Saya bukan penganut agama yang taat. Tapi, saya menyukai ide hubungan spiritual antara manusia dengan “Zat” yang kasat mata dan Maha Besar itu. Sebagai catatan saya hanya menyukai hubungan tersebut bila manusianya kalem, kalau banyak omong dan tukang pamer mah, bikin males.

“I have no problem with god – it’s his fan club that scares me.”

― A.B. Potts

Niat saya hampir gugur karena kena virus malas. Inginnya seharian tiduran di hostel. Sampai akhirnya saya mengirim pesan singkat kepada imam masjid. Ia pun mengundang untuk datang ikut berbuka puasa dengan jemaah masjid.

Saya tiba tak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Beberapa orang pria berada di dalam masjid dan tengah mengudap sajian pembuka puasa. Saya disarankan untuk naik ke atas di mana para jemaah wanita berada. Dan, saya sempat merasa ganjil karena perlakuan itu. Hehehe maklum saya tidak ingat kapan terakhir kali ke masjid.

Saya hanya melongok sebentar ke tempat di mana para wanita berada, kemudian memutuskan kembali ke bagian bawah masjid sambil menunggu sang imam datang. Melihat saya menunggu, seorang jemaah pria menanyakan apakah saya sudah berbuka puasa dan demi kemudahan saya hanya menjawab ““-ya. Meski demikian tak lama berselang dia datang dengan dua buah gorengan dan minuman khas Pakistan yang tak saya ketahui namanya.

Untitled design (3) (1) (1)

Hanya butuh satu gigitan dan satu seruputan saya kembali merasakan nikmatnya berbuka puasa. Ini agak lebai sih, saya tidak berpuasa hari itu, tapi saya kehausan karena berjalan cukup panjang sebelum sampai ke masjid.

Kunyahan saya terhenti ketika mendengar sayup-sayup suara iqomah. Hati saya hangat. Sudah lama sekali lantunan ajakan solat itu tak saya dengar. Saya merasa menjadi orang paling beruntung malam itu. Bertahun-tahun saya tinggal di rumah yang hanya berjarak 100 meter dari masjid. Suara adzan sudah pasti terdengar jelas dari rumah. Hari itu, hampir setahun saya tidak mendengar adzan dan iqomah, saya pun seketika merasa rumah tak terlampau jauh.

Saya jadi ingat beberapa bulan sebelum kepergian saya ke Bogota, saya dan si Abang duduk manis menatap layar komputer. Kami memantengi YouTube dan memasukan kata kunci “adzan Indonesia”. Banyak gaya lantunan adzan yang kami dengarkan saat itu, mulai dari yang sering diputar di telivisi nasional, yang dikumandangkan dari pondokan di daerah Jawa, sampai yang ada di Makassar. Kami hanya duduk dan mendengarkannya dalam diam. Rindu kami pun terbayar.

“Beruntung sekali yah, mereka yang di Indonesia masih bisa mendengarkan adzan secara langsung,” gumam saya dalam hati.

Untitled design (4) (1).png

Selepas solat magrib para jemaah menikmati makan malam bersama. Sayapun diajak Sepiring nasi, kentang, dan falafel terhidang di atas piring. Seorang pria menyuruh saya untuk duduk bersama para wanita lain. Lagi-lagi saya merasa ganjil akan arahan itu, ya tapi saya menurut saja.

Saya duduk di samping wanita yang nampak seumuran dengan saya. Kami mengobrol sedikit. Pertanyaan utama saya tentu saja tentang bagaimana rasanya tinggal di negara yang mayoritasnya penganut Katolik taat. Si wanita bilang, tidak banyak kesulitan berarti menjadi seorang Islam di Kolombia. Meskipun sesekali dirinya menemukan kesulitan saat mendaftar kerja karena perusahaan memintanya untuk melepas hijab.

Sang imam, Syiekh Achmad yang beberapa saat kemudian datang, pun menceritakan kepada saya bahwa masyarakat Kolombia sangat relax terhadap Islam. Masuknya islam ke Kolombia merupakan bawaan pengungsi Suriah dan Palestina.

“Masyarakat Kolombia menerima dengan baik Islam karena agama ini masuk bukan karena konflik. Berbeda dengan masyarakat Eropa yang memiliki sejarah perang dengan kaum muslim,” jelas Syiekh Achmad.

Ya, walaupun hal tersebut tidak membebaskan kaum muslim dari stigma negatif akibat ulah teroris yang menjalankan aksinya atas nama agama. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah, lanjut Syiekh Achmad, hal tersebut menjadi kesempatan bagi dirinya dan komunitas muslim untuk menunjukan seperti apa Islam sebenarnya. Saban minggu ia memberikan kelas tentang kajian Islam. Mereka yang datang tak hanya para muslim, tetapi juga non-muslim yang penasaran soal Islam.

Syiekh Achmad percaya, bahwa ketidaktahuan adalah sumber masalah. Ia pun yakin bila seseorang sudah mengetahui tentang Islam mereka akan menghormati keyakinan yang menjadi pilihan komunitas tersebut. Terkadang para jemaah masjid pun mengadakan kegiatan olahraga bersama yang pesertanya juga berasal dari kalangan non-muslim.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan penerangan soal islam kepada non-muslim, tetapi juga sebaliknya. Para muslim pun bisa memahami dan menghormati non-muslim. Menurut Syiekh Achmad, kegiatan tersebut dapat menekan ekstremisme.

Bagi Syiekh Achmad, agama merupakan urusan setiap pribadi dengan Tuhan mereka. Dan, jangan biarkan urusan pribadi tersebut merusak hubungan dengan sesama manusia yang memiliki pilihan berbeda.

“Apapun agamanya, kami kan, sama-sama orang Kolombia. Jadi saling menghormati merupakan suatu kewajiban,” kata Syiekh Achmad.

Untitled design (2) (1) (1).pngUntitled design (5) (1).png

Waktu isya sudah datang, sayapun pamit pulang. Kunjungan kali ini memang singkat, tapi berhasil memberikan kembali rasa nyaman yang menjadi esensi sebuah agama. Sebuah penyegaran setelah selama ini saya menjaga jarak dengan segala sesuatu yang berbau agama karena dapat berujung pada perselisihan.

Wassalamualaikum.

Iklan

9 Replies to “Kembali Nyaman”

    1. ke kolombia dalam rangka merantau, koh. Iya lumayan tinggi sih di sini kriminalitasnya. kalo di Indonesia senggol bacok, di sini senggol tembak. 😐

      iya menyenangkan ada masjid di sini beneran bisa merasakan sedikit suasana ramadhan.

  1. Ikut seneng bacanya, mbak efi kembali ke jalan yg benar.XD
    Engga ding bercanda hehe.

    Kao di Indonesia, aku malah ikut menikmati kemeriahan ramadan mbak. Meski ga ikut puasa.
    Mulai dari tradisi keliling membangunkan sahur, bikin aku ga takut malem 😀
    Lalu kulinernya, dan tentu saja buka puasa bareng temen2 yg bisa dijadikan ajang reuni 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s