Tanyalah Kapan Saya Akan Menikah

Pertanyaan yang dibukan dengan kata “kapan” itu selalu bikin hati orang yang ditanya tidak enak. Apalagi kalau ditanya “kapan nikah?”. Pertanyaan itu bakal sering didengar ketika hari raya, ketika semua keluarga bersilaturahmi derita semakin nyata terasa.

Saya dulu juga suka sebal kalau dapat pertanyaan serupa. Tapi sekarang tingkat kekesalan itu sudah turun. Sudah tidak uring-uringan lagi. Sekarang bukannya kesal, tapi saya mengapresiasi mereka yang melontarkan pertanyaan tersebut.

Saya mampu mengapresiasi karena belajar dari pengalaman orang India tentang perjodohan.

Tanpa kita sadari, walaupun status di KTP masih tertulis “lajang” di umur yang sudah dianggap matang dan wajib menikah, sebenarnya kita sangat beruntung. Iya beruntung karena kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang kita mau untuk hidup kita ini; untuk belum menikah.

Jangan pikir privilage ini dimiliki orang India yang seumuran kita. Sempat saya mengobrol dengan beberapa orang lokal tentang urusan perjodohan (arrange marriage) yang ternyata merupakan salah satu budaya yang masih dilestarikan di India. Banyak alasan yang mengapa mereka tetap melakukan hal tersebut. Alasan-alasan mereka membuat mulut saya ternganga, saking enggak percayanya.

Kalau Siti Nurbaya dijodohkan dengan Datuk Maringgi guna membayar utang Ayahnya, di India perjodohan lebih supaya mereka tidak terdepak dari kastanya. Tuntutan menikah dengan mereka yang berasal dari kasta sama sangat terasa tekananannya untuk mereka yang menduduki kasta tertinggi. Bagi mereka yang tergolong kasta rendahan, tuntutan masih ada tapi tak sebesar kasta tinggi.

Saat mendengar itu, saya sedih, hanya demi prestise perasaan mereka digaikan. Ada orang lokal yang memberi pembelaan, katanya mereka masih bisa menolak untuk dijodohkan, tetapi banyak yang menerima keadaan karena pengaruh orang tua yang sangat besar. Bahkan, ada yang bilang setelah mereka dijodohkan, mereka akan belajar mencintai satu sama lain.

Ada yang bisa membayangkan berada dalam posisi tersebut?

Saya sih, bakal uring-uringan. Berasa kebebasan, yang merupakan hak asasi saya untuk memilih pasangan hidup dirampas.

Saya: waahh,,, foto profil WhatsApp kamu bagus.

Dia: iya itu waktu kami bertunangan.

Saya: asiiik,,, is it arranged or love marriage?

Dia: Nyokap gw yang mencari pasangan buat gw.

Saya: Lo bahagia? terus apakah kalian saling cinta?

Dia: Iya gw bahagia banget dan kami sepertinya saling jatuh cinta.

Masih basah diingatan saya waktu ibu bilang, “jodoh memang sudah ada yang ngatur, cara ketemunya juga. Siapa tahu memang kamu untuk ketemu jodoh butuh bantuan orang lain. Kamu mama jodohin aja ya?!”

Okelah, mungkin ibu saya benar, buktinya host saya di India membutuhkan orang lain untuk mendapatkan jodoh. Dia merasa terbantu saat keluarganya turun tangan untuk membantu mencarikan pasangan untuk dirinya. Iya, sih, mereka bilang perjodohan bisa dibatalkan dengan berbagai macam alasan. Tapi, enggak sedikit juga yang tetap manut sama keinginan orang tuanya.

Seorang kenalan saya di India pernah bilang, kalau menunjukan afeksi di muka umum seperti bergandengan tangan atau berpelukan merupakan tindakan yang tidak patut. Dan, memang jarang sekali terlihat pasangan beda jenis kelamin yang bergandengan tangan di jalan, saya malah lebih sering lihat cowok bertautan tangan dengan cowok lainnya.

Sungguh saya sedih, mengapa mereka risih melihat pasangan suami istri bergandengan tangan, tetapi seakan tutup mata dengan pemaksaan pernikahan yang tidak ada “hati” di dalamnya.

Mungkin, ini cuma kesimpulan sembrono saya, mereka tetap melakukan budaya itu karena mereka tidak dibesarkan untuk berani bertanggung jawab untuk segala tindakan yang mereka pilih.

Host  saya yang lain pernah bilang, dalam perjodohan semua pihak keluarga ikut terlibat. Pihak yang paling repot sudah pasti orang tua. Mereka akan panik saat anaknya berusia 25 tahun tetapi belum menikah. Demi mendapatkan pasangan hidup, kadang mereka meng-iklan-kan anak-anaknya. Biasanya di iklan tersebut disebutkan kasta, umur, pendidikan, pekerjaan, daerah asal, zodiak, dan juga nomor kontak.

Ketika menemukan yang cocok, kedua orang tua akan bertemu dan saling “menjual” anak-anaknya. Kalau sudah sreg pertemuan berikutnya orang tua akan membawa calon pasangan untuk berkenalan atau terkadang langsung bertunangan.

Tanggal pernikahan pun akan ditentukan pada masa itu. Nah, sambil menunggu hari pernikahan, biasanya kedua calon mempelai akan belajar saling mencintai. Mereka anggap ini sebagai cara berbakti kepada orang tua.

Tahukah kalian alasan mengapa mereka begitu legowonya menjalankan perjodohan itu? Karena kalau nanti pernikahan mereka tidak berjalan lancar semua orang yang terlibat dalam awal perjodohan akan ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan pernikahan itu. Inilah yang saya maksud, mereka tidak dibiasakan untuk berani ambil risiko atas pilihan sendiri.

Katanya tidak banyak orang India yang berani memilih sendiri pasangan yang mereka cintai tanpa melihat kasta dan latar belakangnya. Sebab jika ada masalah dalam pernikahan tersebut tidak akan ada yang membantu mencarikan jalan keluar. Semua orang akan cuek.

Jika pernikahan sudah berlangsung dan pasangan menemukan ketidakcocokan mereka akan tetap bertahan. Setidak sukanya mereka pada pasangan pasti akan tetap bertahan dalam rumah tangga karena anak. Mereka akan memberikan yang terbaik untuk sang anak. Namun, hal tersebut, menurut saya, malah seperti kutukan.

Maksud saya begini, seperti yang sudah ditulis di atas mereka mau menerima perjodohan sebagai bakti kepada orang tua yang sudah banting tulang membiayai hidup mereka. Nah, orang tua pun seakan-akan punya kuasa terhadap anak karena sudah berjuang mati-matian membesarkan buah hati. Oleh karenanya mereka merasa punya hak untuk menentukan jalan hidup anak, termasuk urusan pasangan hidup. Hal seperti ini pun berlaku secara turun-temurun.

Mendengar cerita seperti di atas dari para host di atas bikin saya bersyukur sekali. Bersyukur ketika banyak keluarga yang bertanya soal kapan saya menikah. Setidaknya dibalik pertanyaan tersebut ada dukungan kebebesan dalam menentukan kebebasan. Mereka pun menghormati hak saya dalam menentukan siapa yang cocok untuk menjadi pendamping hidup.

Eh, tapi ya saya tetep kesel juga sih kalau ditanya terus-terusan. Hahahaha…

Iklan

12 Replies to “Tanyalah Kapan Saya Akan Menikah”

  1. Awalnya sih santai di tanya : ” kapan nikah? ” tapi makin ke sini kok bikinnnn kesal gara-gara dikaitkan samaa umur. ” ingat umurrr ” *hiks

    -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s