Ayo Main Ke Desa!

Beberapa wakt yang lalu dua ornag teman saya datang berkunjung. Mereka bilang mau menginap beberapa hari dan selanjutnya mereka akan melanjutkan perjalanan keliling Kolombia.

Saya sempat bingung bagaimana caranya membuat mereka kerasan tinggal di tempat saya yang tergolong tidak ada apa-apanya. Begini ya, saya tinggal di sebuah desa yang jauh dari mana-mana. Di desa ini pun tidak ada atraksi yang bisa dibanggakan.

Kalau banyak pejalan banyak yang menggadangkan perjalanan anti-mainstream dan off the beaten track, percayalah tempat saya tinggal ini tidak akan masuk kualifikasi manapun.

Mereka pun tiba pagi-pagi sekali. Kebetulan mereka tiba pada Minggu pagi, hari dimana desa saya lebih hidup ketimbang hari biasanya. Tiap Minggu para petani dari desa yang lebih kecil akan datang ke daerah saya tinggal untuk menjual hasil pertaniannya dan juga membeli kebutuhan sehari-hari yang kemudian di bawa kembali ke desa mereka.

Kami berkeliling desa dan menghabiskan waktu makan siang di tempat langganan yang hari itu menyajikan hidang sup babat dan daging goreng. Segelas lemonada pun disajikan sebagai pelengkap.

Pasangan saya memunculkan ide untuk main ke sungai yang berjarak tak jauh dari tempat kami tinggal. Cukup berjalan kaki dua puluh menit dan sampailah kami di tujuan. Saat itu musim kemarau dan cuaca sangat panas, maka keputusan menghabiskan waktu di sungai dengan aliran air yang dingin cukup tepat.

Tidak lupa kami membawa Colombiana (minuman bersoda khas Kolombia). Biar tambah gembira dicampur bir dingin juga. Eh, emang begitu cara penyajiannya, resep didapet dari orang Kolombia langsung kok.

Entah berapa lama kami main di sungai, tetiba matahari sudah tenggelam. Lapar menyerang kami langsung meluncur ke tempat makan arepa. Makanan yang satu ini patut dicoba juga, soalnya arepa merupakan makanan pokok orang Kolombia. Arepa terbuat dari tepung jagung. Bentuknya bulat pipih. Rasanya agak hambar.

Buat lidah orang Indonesia sih agak kurang cocok ya. Saya butuh waktu hampir tiga bulan untuk bisa menikmati arepa. Malah ya si Fauzan yang pernah saya ceritakan di Seri Anak Rantau meskipun sudah tinggal empat bulan di Kolombia tetap tidak memasukan arepa sebagai makanan favoritnya.  

arepa
Arepa

Keesokan harinya kami main ke pusat kota. Tujuannya adalah membeli buah-buahan segar khas Kolombia. Teman saya ini berasal dari Argentina yang memiliki iklim berbeda, sehingga buah-buahan tropis menjadi sangat eksotis di mata mereka.

pithaya colombia
Pithaya a.k.a buah naga yang rasanya sangat manis

Keranjang belanjaan kami penuh oleh banyak buah seperti pithaya, zapote, curuba, chirimoya, dan masih banyak lagi. Kami juga sempat mencoba berbagai jenis minuman yang tidak ada di Argentina. Pertama kami mencoba avena dingin. Avena terbuat dari biji oats dan susu. Rasanya manis. Selain mengenyangkan juga menyegarkan. Kalau mau coba avena saya sarankan cari yang pasang label “avena tolimense” yang artinya avena khas Tolima (nama provinsi di Kolombia).

Kemudian kami mencoba forcha. Minuman fermentasi dari biji barley ini rasanya mirip brem khas Madiun, loh. Ada sensasi dinginnya. Sebenarnya saya bingung mau mengategorikan forcha sebagai minuman atau makanan karena teksturnya cair tapi kental. Untuk mengonsumsinya disediakan sendok.

forcha minuman kolombia
Forcha

Hari berikutnya kami memutuskan untuk kembali berleyeh-leyeh di sungai. Ngobrol ngalor-ngidul. Saat matahari membakar kulit, kami berendam di sungai demi menurunkan suhu tubuh. Meskipun sedang musim kemarau, aliran air sungai tetap dingin jadi ketika sudah menggigil langsung keluar sungai dan mandi matahari lagi. Begitu saja terus sampai sore menjelang.

Gara-gara main di sungai kami kelupaan makan siang. Padahal sudah membawa bekal chorizo buatan desa sebelah yang terkenal kelezatannya. Bekal tersebut baru kami makan pukul lima sore, dan entah mengapa kenikmatan chorizo bertambah berkali-kali lipat dibanding biasanya.

El hambre es la mejor salsa. Rasa lapar adalah bumbu terbaik.

Sebenarnya kami memutuskan untuk santai di rumah untuk esok hari. Namun, rencana tinggal rencana. Si Abang mengajak kami untuk berkunjung ke kebun kopi milik salah seorang kenalannya.

Kolombia dikenal sebagai produsen kopi nomor tiga di dunia. Salah satu daya tarik wisata pun ada yang terkait dengan kopi. Tur mengelilingi kebun kopi untuk para turis pun sering digelar terutama di daerah pusat perkebunan kopi Kolombia atau yang disebut eje cafetero.

Meskipun desa kami terletak jauh dari eje cafetero, tetap saja perkebunan kopi menjadi salah satu sendi pertanian di sini. Maka dari itu, teman kami yang tidak pernah melihat pohon kopi pun sangat tertarik dengan ide si Abang ini. Lebih-lebih si pemilik kebun adalah aktivis perkebunan kopi organik yang sangat senang berbagi ilmu perkopian. Maka tur kebun kopi pun berlangsung.

Kopi Kolombia

Setelah tur kebun kopi, teman kami mengucapkan terima kasih berkali-kali. Menurut mereka kunjungan mereka ke desa kami sungguh menyenangkan. Saya yang awalnya sempat khawatir tentang perasaan mereka pun menjadi lega mendengar komentar tersebut.

Saya kembali melihat ke beberapa hari terakhir kebersamaan kami, dan memang benar sih kegiatan kami sangat menyenangkan. Ketakutan bahwa desa kecil tempat tinggal saya ini tidak punya apa-apa ternyata tidak beralasan. Desa yang dikelilingi gunung dan sungai merupakan surga bagi warga kota besar.

Saya malah sampai menertawakan ketololan diri sendiri. Terkadang pengalaman menarik selama perjalanan itu bukan sekadar menginap di tempat bagus, makan di restoran bergengsi, pun tidak melulu soal berapa banyak tempat wisata yang sudah dikunjungi. Tetapi segala sesuatu yang berbeda dari rutinitas, walaupun kadang hal remeh, justru ngebantu kita untuk refresh.

Tidak tiap hari kan mandi di sungai?

Pasti jarang sekali makan buah-buahan eksotis, ya kan?

Bangun tidur gara-gara dibangunin suara burung bernyanyi pasti bisa diitung dengan jari, setuju?

Desa saya memang tidak masuk dalam daftar wajib dikunjungi, pun sudah pasti tidak ada yang merekomendasikan. Namun, saya akan tetap membuka pintu rumah lebar-lebar jika ada yang ingin berkunjung.

Saya, Manchitas, dan Manis menunggu kalian datang ya.

Ayo, kak, kita main!

 

 

Iklan

5 Replies to “Ayo Main Ke Desa!”

  1. Pingin nyoba buah naga di sana. Manis ya fii, beda ma di sini.. 😀 Aakk itu asik bgt bgt pemandangannya.. Cakep warbyasaa… Ok Manchitas, Manis tunggu Tante Ditaaa.. Semoga ada rezeki ke sana ya Allah.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s