Terpukau di Pasar Paloquemao

Entah siapa yang mencetuskan, tapi saya setuju banget dengan kutipan di bawah ini:

Tempat terbaik untuk mengetahui budaya setempat adalah pasar tradisional.

Namanya juga pasar, pasti semua ada di sana. Bukan cuma bisa tahu apa saja yang menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat lokal, tetapi di pasar juga kita bisa nguping banyak percakapan dan hal itu bisa bikin pengetahuan lokal kita bertambah.

Saat berkunjung ke Bogota saya memang mengagendakan kunjungan ke salah satu pasar termasyur di kota tersebut, Mercado (pasar) Paloquemao. Keinginan saya pergi ke pasar tersebut karena saya mendapat informasi kalau Kolombia punya banyak varian kentang. Posisi Bogota yang berada di dataran tinggi membuat daerah tersebut cocok untuk menanam tanaman umbi tersebut.

Saya sampai sekitar pukul sembilan pagi. Sekeluarnya dari stasiun Transmilenio, saya langsung merapatkan jaket. Angin pagi cukup membuat saya bergidik. Selama lima menit berjalan kaki mata saya menangkap banyak pejalan lain menenteng banyak bunga berwarna-warni. Salah satu komoditas andalan pasar ini memang bunga segar.

Tidak ada papan nama yang menunjukan lokasi yang saya tuju. Hanya insting yang mengarahkan saya ke arah pusat keramaian manusia. Seketika wajah saya merekah melihat banyaknya bunga warna-warni yang diperjual belikan. Semuanya segar dan indah.

Untitled design (2)

Untitled design (7) (1)

I believe am an angel that landed on these beautifull carpet of flowers.

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Kolombia merupakan salah satu eksportir bunga segar terbesar di dunia. Dan, baru-baru ini bunga dari Kolombia merambah pasar Asia, termasuk Indonesia. Jauh ya!

Puas berkeliling di bagian depan pasar. Saya masuk ke dalam bangunan inti dari paloquemao. Seperti umumnya pasar kebanyakan, Paloquemao terdiri dari beberapa lot yang masing-masing menjual komoditas tertentu.

Ketika saya memasuki lot buah-buahan segar saya hampir loncat kegirangan. Sekali lagi warna-warna buah eksotis khas Kolombia menarik perhatian saya sebut saja seperti lulo, pithaya, pickle pear, dan banyak lagi. Saya juga menemukan manggis, rambutan, dan sawo.

Demi menuntaskan rasa penasaran saya beli dalam jumlah sedikit buah yang saya inginkan. O iya biasanya penjual akan memberikan harga per libra atau 500 gram.

Untitled design (6) (1)

Untitled design
Phitaya. Buah naganya Kolombia. Lebih enak dibanding yang ada di Indonesia. Favorit.
Untitled design (1)
Lulo. Lebih enak dijadikan jus, segar banget.
Untitled design (4)
Prickle pear. Enggak terlalu istimewa.

Saya tidak lupa melanjutkan misi saya terkait kedatangan ke Paloquemao, berburu kentang. Tidak mau beli, sih, cuma penasaran saja sama jumlah varian yang dimiliki Kolombia.

Salah satu alasan saya kekeuh mencari kentang adalah karena tanaman tersebut berasal dari Amerika Latin. Btw, saya bingung deh, kenapa ya asal komoditasnya dari Amerika Selatan tapi hasilnya ada embel-embel Eropanya; french fries.

Kesalahan saya saat berkeliling Paloquemao adalah tidak ditemani orang lokal yang mengerti soal perkentangan. Akibatnya saya cuma tanya-tanya ala kadarnya dan cuma menemukan tiga jenis kentang berbeda ukuran dan warna. Enggak ada fotonya karena baterai kamera keburu habis.

Selain produk segar, di dalam pasar juga banyak kedai penjaja makanan dan minuman hangat. Sangat variatif kok pilihannya. Ada pilihan makanan berat seperti nasi komplit plus sop atau sekadar roti dan secangkir kopi panas. Bebas pilih.

Saya mendapat rekomendasi untuk mencoba berraquillo. Saya cuma mencatat nama tanpa melakukan riset lebih jauh soal penganan yang satu itu. Sampai ketika pesanan dibuat di depan mata ternyata berraquillo merupakan cocktail campuran wine, rum, vodka, dan lain-lain. Tidak cuma itu minuman ini juga ditambahkan satu  kepiting hidup. Semuanya diblender dengan es batu juga susu.

Saat disajikan, pramusaji juga memberikan sebuah pil berwarna merah. Dan saat itulah saya baru tahu kalau berraquillo merupakan afrodisiak. Pil yang diberikan katanya cuma vitamin yang bakal ‘menambah tenaga’ peminumnya. Meski demikian, daripada mubazir saya tetap meminum barraquillo sampai habis. Rasanya? enaaaak!!! Semua minuman beralkohol itu malah membuat saya merasa hangat di tengah dinginnya Bogota.

Tidak lupa saya juga mencicipi seporsi ceviche udang. Ceviche ini seperti salad penuh dengan mayonaise dan juga saos tomat. Enak namun tidak spektakuler. Katanya sih ceviche yang paling enak di dunia itu ada di Peru dan Meksiko.

Untitled design (5) (1)
Ceviche de camaron (ceviche udang)

Saya sudah dua kali berkunjung ke Bogota. Dan pada setiap kunjungan tersebut saya pasti mampir ke Paloquemao. Hihihi… Seru sih. Menurut saya lebih seru main ke pasar tradisional ketimbang pusat perbelanjaan modern yang isinya pasti bakalan sama saja seperti yang ada di Jakarta.

Jadi ingat komentar seorang teman yang mengajak saya berputar-putar di Bogota beberapa waktu lalu. “Lo sudah ke Centro Andino belum? Shopping mall terkenal di Bogota.”

Saya cuma nyengir. Bawalah saya ke pasar dan saya akan menjadi orang berbahagia hari itu. Btw, ada sekadar informasi tambahan. Pernah dengan berita pengeboman di pusat perbelanjaan di Bogota yang menyebabkan korban meninggal tiga orang? Kejadian pengeboman terjadi di Centro Andino, seminggu kemudian pelaku ditangkap di sekitar daerah Paloquemao. Kebetulan?

 

Iklan

4 Replies to “Terpukau di Pasar Paloquemao”

  1. Wah keren mainnya sampai ke kolombia. Klo nonton -film, kolombia biasanya identik dengan ganja. Disanalah mafia-mafia narkotika hidup dan menyebarkan ganja ke seluruh dunia. Cuma nonton film sih, nggak tahu apa kenyataannya begitu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s