Cerita Bandara

Adegan saat Cinta mengejar Rangga di bandara Soekarno-Hatta sepertinya menjadi ikon drama paling diingat penduduk Indonesia. Sebagian besar penonton pasti setuju kalau babak akhir pertemuan antara kedua insan manusia itu sangat romantis. Saya juga setuju sih, tapi buat saya cerita di bandara tidak terlalu menarik terutama ketika saya menjadi salah satu tokoh dalam drama tersebut.

Kisah saya jauh dari kesan romantis. Kata yang tepat untuk menggambarkannya mungkin menyedihkan. Saking menguras emosi saya berharap tidak perlu mengulang cerita itu lagi.

Saya lahir dalam keluarga militer. Ayah saya, dulu, sering sekali tugas ke luar kota dalam rentang waktu yang panjang. Saat masih tinggal di asrama militer, saya tidak pernah melepas kepergian ayah di bandara. Salam perpisahan dan janji untuk kembali pulang hanya terucap sebelum pintu rumah ditutup. Kepergian ayah hanya ditemani lambaian tangan yang baru berhenti ketika truk penjemput prajurit berbelok di ujung jalan.

Korps tempat ayah mengabdi punya slogan, lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga. Slogan tersebut tertanam di kepala saya sejak usia dini. Sebuah stiker dengan slogan tersebut tertempel di kaca depan rumah yang mau tak mau akan selalu saya baca sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Bagi ayah, mungkin, slogan tersebut menjadi justifikasi pengabdiannya terhadap bangsa dan negara. Namun bagi saya slogan tersebut terdengar naif. Saya pun tumbuh dengan membenci slogan tersebut. Rentetan kata-kata tersebut membuat saya merasa dinomor-duakan, ayah saya rela mati padahal anak-anaknya masih ingusan.

Karena alasan yang sama, ketika kami sudah pindah ke Jakarta dan bisa melepas kepergian ayah di bandara, rasa tidak suka masih tersimpan rapi di benak saya. Hanya saat ayah selesai bertugas, saya melangkah ringan menjemput sang kepala keluarga di bandara. Dia kembali, saya tidak peduli apapun hasilnya di medan laga, yang penting kami kembali bersama.

Memasuki masa kerja, giliran saya yang sering hilir mudik ke bandara. Penugasan dari tempat bekerja memberikan saya kesempatan mencicipi posisi ayah dulu. Namun, kali ini tidak ada cerita yang benar-benar menarik, karena penugasan saya paling hanya beberapa hari. Sebelum keluarga sadar akan ketidakberadaan saya, saya sudah sampai di rumah lagi.

Drama di bandara kembali membara ketika saya menjalin hubungan dengan seorang pengelana, Si Abang. Dikarenakan ia memiliki batas waktu tinggal terbatas di Indonesia, setiap kunjungan kami di bandara penuh dengan emosi dan ketakutan. Saya kembali cemas perihal mungkinkah ada lain waktu untuk bertemu kembali dengan Si Abang. Meskipun dia bukan seorang militer seperti ayah, tetap saja banyak tantangan di luar sana; kecelakaan pesawat, ditolak masuk kembali ke Indonesia, yang paling bikin ngeri adalah dia bertemu dengan orang lain dan memutuskan untuk tidak mau bertemu dengan saya lagi.

“Sampai jumpa lagi!” kalimat harapan yang selalu kami ucapkan penuh harap sebelum genggaman tangan terlepas.

Suatu kali saya melihat sepasang pejalan asing di bandara Soekarno-Hatta, mereka berpelukan erat sebelum salah satu di antaranya melakukan check-in. Saya memalingkan wajah dari mereka sambil menyeka air mata. Ingin rasanya menepuk punggung mereka seraya berkata “been there. I feel you.”

Di antara semua cerita penuh emosi yang pernah saya alami, ada dua kisah yang paling menyesakan dada. Ketika saya memutuskan untuk merantau, keluarga saya melepaskan kepergian saya di bandara. Ayah saya yang kini pensiunan militer itu tidak kuat menahan air matanya dan menangis sejadi-jadinya. Ibu saya yang biasanya paling lemah dalam urusan menahan air mata justru tampak paling tegar di antara kami.

Saya sendiri malah bingung. Sambil menahan cucuran air mata saya berpikir apakah rencana perantauan ini harus dilanjutkan atau dihentikan dan dilupakan selamanya. Saya ragu apakah pilihan ini merupakan yang terbaik bagi semua pihak.

“Kok, tega sih meninggalkan keluarga?” pertanyaan yang dilontarkan kerabat kembali terngiang-ngiang di kepala.

Keputusan sudah bulat, tekad sudah kuat. Babak pertama perantauan pun dimulai. Pelukan terakhir dan salam perpisahan sudah saya berikan kepada semua anggota keluarga yang mengantarkan kepergian saya.

Saya akan kembali dan kita pasti bersua kembali, harapan yang saya ucapkan kepada diri sendiri, lidah terlanjur kelu untuk berjanji kepada sanak keluarga. Ingin rasanya menengok ke belakang dan melihat wajah-wajah manusia terpenting dalam hidup saya, tapi niat itu saya gagalkan, saya tidak ingin mereka melihat saya menangis.

Meskipun sudah memiliki pengalaman, tetapi ketika cerita bandara kembali diulang, ceritanya akan kembali sama. Ketika saya akan kembali melakukan perantauan kali kedua adegan ayah menangis dan ibu yang berusaha tegar kembali terulang. Lidah saya pun tetap kelu untuk mengucapkan janji untuk pulang. Pasalnya kali ini saya tidak tahu kapan akan pulang. Perantauan kali ini tidak memiliki tenggat waktu, pun jarak tanah rantau terlampau jauh.

Orang bijak mengatakan ada perpisahan pasti ada pertemuan. Meskipun cerita perpisahan terkadang menyayat hati, saya tetap menunggu waktunya pertemuan. Selalu ada rasa bahagia yang menghangatkan hati ketika melihat wajah orang terkasih setelah sekian lama tak bertatap muka.

Bandara kembali menjalankan perannya, menjadi saksi bisu betapa hangatnya pelukan yang saya berikan pada Si Abang, ayah, ibu, juga kedua adik saya.

Touch down home after 596 days away. #merantau2014 #jakarta #travel #backpacker

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

 

Iklan

10 Replies to “Cerita Bandara”

  1. Kalau berhubungan tentang anak, ayah setegar apa pun bisa jadi sentimentil. Paling tidak, itu yang saya rasakan ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s