Amaro

Sampai saat ini ada 12 makhluk hidup, tidak termasuk tanaman, yang tinggal di rumah saya. Mereka adalah dua manusia (saya salah satunya), tiga anjing, tiga kucing, satu angsa, satu sapi, dan dua kambing.

Demi memudahkan banyak hal, setiap makhluk punya nama sebagai identitas. Para anjing adalah Manchitas, Manis, dan Bogel. Sementara itu para kucing punya nama Meong, Mumu, dan Macho. Kalau si sapi diberi nama Monita.

Saya sempat mau mencari inspirasi nama untuk kedua kambing dan angsa. Namun, niat tersebut pupus ketika si manusia lain yang tinggal di rumah bilang.

“Mereka bukan hewan piaraan, karena nasib mereka berikutnya akan bertemu wajan dan panci.”

Saya pucat. Karena selama beberapa hari sejak kedatang si kambing saya selalu mengajak mereka bicara dengan nada penuh kasih, saya tidak ingat kalau kambing-kambing itu dibeli sebagai pelengkap asupan protein hewani.

DUH!

Saya pernah mengalami perasaan serupa. Ketika saya ikut membantu merawat kambing-kambing milik tuan rumah saya di India. Saya memupuk perasaan yang cukup dalam pada satu kambing yang ada di peternakan tersebut.

Saya panggil dia Amaro. Nama itu berasal dari bahasa Spanyol ‘amar’ yang artinya ‘to love’, akhiran ‘o’ menunjukan sisi maskulinnya. Dia memang lihai mencinta mereka yang menarik perhatiannya. Amaro pun sangat mudah untuk dicintai karena perilakunya yang menyenangkan.

Amaro sangat suka makan. Mulutnya tidak pernah berhenti mengunyah meski perutnya sudah membuncit. Saya pernah bilang “kamu hamil ya Amaro? Perutnya gede gitu,”. Dia menatap saya sambil terus mengecap dan menganggap komentar saya seperti angin lalu.

Di antara teman sepermainannya Amaro merupakan yang paling tenang. Tidak akan ada yang bisa usik ketenangannya meskipun banyak kegaduhan di sekitarnya. Belakang saya tau, kesan cueknya itu karena perutnya terlalu buncit untuk dibawa kesana dan kesini. Dia lebih memilih diam dan membiarkan sistem pencernaannya bekerja.

Sayangnya, kehidupan Amaro tidak setenang penampilannya. Saya sempat menitikan air mata saat ada yang mengisahkan ceritanya.

Amaro terpisah dari ibunya saat ia masih kecil. Ia masih menyusu. Sehari setelah terpisah, Amaro mencoba menyusu dari ibu beranak dua. Si ibu itu menolak menjadi ibu susu Amaro. Berkali-kali, setiap melihat puting susu, ia mencoba peruntungan mendapatkan seteguk susu. Usahanya selalu berujung tanpa hasil. Bahkan si ibu susu suka bersikap kasar kalau Amaro mendekat.

Kasihan. Hati emak mana yang tidak terenyuh?

Cerita Amaro saya sebar luaskan. Banyak yang berempati, tetapi ada juga yang bikin saya semakin merana karena komentarnya.

“Dari kecil terpisah dengan ibunya, sudah besar disembelih. Makin tragis kisahnya!”

Oh, sudah saya tidak sanggup. Saya tidak bisa membayangkan Amaro berada di atas bara api yang kemudian akan diantarkan kepada mereka yang memesan satu porsi sate kambing bumbu kecap.

Iklan

5 Replies to “Amaro”

  1. Kalau hati sudah sempat trenyuh akan sesosok binatang, susah melihat binatang itu kenapa-napa. Mungkin kalau sekarang, Amaro sudah jadi hidangan kambing nan lezat ya. Saya pernah juga punya pengalaman serupa dengan seekor binatang kecil. Akhirnya juga disembelih. Tapi untung saja orang tua mengerti. Ketika hewan itu disembelih, saya dilarang mendekat dan melihat. (Ujung-ujungnya saya makan juga, dan rasanya enak. Di situ saya merasa munafik. Huhu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s