#SeriAnakRantau: 40 Negara, 4 Tahun Mengembara

Pengagum kutipan orang terkenal pasti akrab sama ucapan Dalai Lama yang satu ini:

Once a year visit a place you have never been before

Kalau mau sok mengartikan, mungkin, Bapak Dalai Lama menginginkan kita-kita manusia ini untuk selalu melangkah jauh dari tempat kita dilahirkan. Membiasakan diri dengan sesuatu yang berbeda dan menikmati perbedaan tersebut. Supaya apa? Ya, mungkin supaya tidak kaget-kaget amat kalau melihat sesuatu di luar batas wajar kita. 

Iya begitu bukan sih? Hahaha sok tahu mendefinisikan tapi enggak yakin gitu.

Tapi memang ya dari dulunya manusia itu tidak pernah bisa diam. Manusia purba saja melulu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, istilah kerennya nomaden. Kalau kata Wikipedia:

Banyak kebudayaan dahulunya secara tradisional hidup nomaden, akan tetapi kebiasaan tradisional nomaden tersebut semakin lama semakin berkurang di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi.

Masih menurut Wikipedia kaum nomaden ini dibagi menjadi tiga golongan, yaitu; pemburu-peramu (hunter-gatherers), penggembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads). Namun, menurut saya, sih, Wikipedia harus menambahkan satu golongan baru, digital nomads. 

Apa lagi itu?

Digital nomads adalah tipe orang yang menggantungkan hidupnya dari teknologi komunikasi untuk menghasilkan uang, dan mereka hidup nomaden. Oke, saya harus salim pada Oom Wikipedia untuk penjelasannya soal digital nomads. Hihihi…

Nah, Seri Anak Rantau kali ini mengangkat cerita seorang digital nomads asal Indonesia yang sudah hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain selama empat tahun berturut-turut. Kece, ya! Baiklah ada baiknya saya perkenalkan langsung si anak rantau tersebut.

Pembaca yang budiman inilah ini Inten Utari!

inten berlin, jerman.jpg
Inten saat berada di Berlin, Jerman. Foto courtesy Fb Inten Utari

Cewek asal Bali ini memang memiliki penyakit kaki gatel sejak kecil. Menurutnya sedari kecil dirinya sudah hobi jalan-jalan. Barulah pada 2008 ia memberanikan diri untuk bepergian sendiri. Tak lama kemudian ia pun menularkan “penyakit” tersebut pada sang pujaan hati. Pergilah mereka ke Bangkok, Thailand. Sejak saat itu mereka berdua menjadi sejoli yang selalu ketagihan bepergian.

Memasuki 2013, sebuah informasi ciamik diberikan oleh sang pacar, bahwa hidup berpindah-pindah itu bukan sebuah hal yang mustahil. Keputusan pun dibuat, saat itu mereka sedang melakukan perjalanan di India dan Nepal dan sudah memiliki tiket pulang ke Bali, namun mereka malah nyasar di Saigon, Vietnam.

“Saya masih bingung soal pendapatan. (Kemudian) coba cari kerja online menjadi data entry dengan gaji kecil. Namun, biaya hidup di Saigon kecil, jadi (gaji) cukuplah untuk hidup pas-pasan,” papar Inten.

Selama menetap tiga bulan di Saigon, Inten bergabung dengan komunitas anak muda yang sebagian besar pelancong yang juga bekerja dan atau memiliki bisnis online. Berbekal pekerjaan online yang digeluti Inten dan kekasihnya, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Kamboja dan Filipina. Kedua negara tersebut menjadi pilihan karena standar biaya hidup yang tidak terlalu tinggi.

Kini, Inten aktif mengurus toko keluarga yang di Bali secara online. Ia pun seorang citizen journalist sebuah telivisi swasta di Indonesia. Tak hanya itu, sesekali ia pun mengirimkan tulisan untuk dipublikasikan di beberapa koran. Sebelumnya, sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan penghasilan, Inten juga sempat berjualan lewat amazon.com.

Dengan statusnya sebagai digital nomad selama empat tahun terakhir, Inten telah membawa dirinya ke empat puluh negara di empat benua.
*tepuk tangan*
Meskipun sering berpindah-pindah, Inten tidak melulu bergerak cepat. Ia lebih menyukai untuk tinggal dalam kurun waktu yang lama di suatu tempat, misal, ketika di Kolombia ia tinggal sampai enam bulan. Sementara itu, di Meksiko, Vietnam, dan Thailand Inten rata-rata menetap selama 3-4 bulan.
“Ingin berpindah pindah, tapi setidaknya tidak sekejap saja, lebih suka misalnya empat bulan di suatu kota supaya tidak terlalu capek,” terang Inten.
inten cuzco peru.jpg
Cuzco, Peru. Foto courtesy Fb Inten Utari

Kota Asik Buat Para Digital Nomads

“Saat ini sudah mulai banyak negara yang sangat layak ditinggali anak muda yang hidup berpindah-pindah,” tutur Inten.

Dalam memilih kota untuk ditinggali, Inten selalu memiliki pakem yang patut dipertimbangkan seperti biaya hidup yang tidak mahal, tetapi memiliki kualitas hidup yang baik. Mudah mendapatkan pasokan daging dan sayuran murah agar bisa tetap hidup sehat. Selain itu, fasilitas pendukung kesehatan seperti gym atau crossfit juga ruang publik menjadi alasan lainnya.

Dari banyak tempat negara yang sudah ditapaki Inten menyebutkan ada beberapa kota yang asik ditinggali oleh para digital nomads. Kota Chiang Mai, Thailand menjadi juaranya. Biaya hidup yang murah dan kehidupan yang gampang menjadi nilai plus kota di utara Thailand ini. Selain itu, kota ini juga dipenuhi banyak orang yang memiliki ketertarikan serupa sebagai digital nomads.

Pilihan Inten berikutnya adalah Saigon yang juga memiliki kemiripan dengan Thailand. Di daratan Eropa ada kota Tsibilisi di Georgia yang cocok sekali buat mereka yang tertarik melihat budaya baru dengan biaya yang murah. Selain itu, Georgia juga menawarkan kemudahan visa tinggal bagi WNI.

Bergeser ke selatan, Kota Medellin di Kolombia bisa menjadi pilihan. Budaya latin yang kental, kehidupan yang santai, ditambah cuaca yang sejuk tentu sangan cocok bagi para pengelana.

Btw, Inten menulis lengkap kota-kota yang cocok ditinggali dan patut dipertimbangkan para pengelana asal Indonesia, loh. Cek saja di blog-nya seringtravel.com ya!

inten Kyiv Ukraina.jpg
Kyiv, Ukraina. Foto courtesy Fb Inten Utari

Pindah Status Kependudukan

Mohon baca pelan-pelan ya. Pindah status kependudukan, bukan kewarganegaraan. Meskipun Inten terakhir pulang ke Indonesia pada 2016, ia masih berstatus sebagai WNI. Namun, kini ia juga seorang penduduk Georgia. Bahkan ia punya KTP yang dikeluarkan negara tersebut.

Lah, kok bisa?

Ya bisalah. Begini ceritanya. Pada 2016 pemerintah Georgia mengeluarkan aturan yang memudahkan warga negara asing untuk mengajukan Visa Bisnis di negara tersebut. Pun, pengajuan izin tinggal cukup mudah, termasuk untuk mereka yang berasal dari negara-negara Asia.

“Ketika baca di internet sangat mudah dan ada agen yang bisa mengurus. Dengan sistem birokrasi yang efisien dan mereka sangat menerima warga Asia untuk membuka bisnis, maka izin usaha saya di bidang tour and travel menuju Bali diterima,” jelas Inten.

Inten mengaku ia tidak mengalami kesulitan selama proses berlangsung. Ia hanya perlu merogoh kocek sebesar USD 1.600 selama proses pengajuan izin sampai mendapatkan status penduduk Georgia. Inten pun kini memiliki KTP Georgia yang berlaku sampai 2021.

Pembaca sekalian pasti bingung perihal apakah niat Inten dibalik semua ini. Ada baiknya lanjutkan membaca ya.

Bagi Inten, memiliki status penduduk Georgia membuat pengembaraannya lebih ringan. Siapa sih, yang tidak pernah mengeluh “duh paspor hijau Indonesia ini kurang kuat, ya. Mau kemana-mana harus bikin visa!”

Nah, hal tersebut tidak lagi terlalu merepotkan Inten. Bayangkan saja ia bisa mengajukan Visa Schengen tanpa harus balik ke Bali.

“Waktu saya ajukan Visa Schengen di Kedutaan Belanda di Tbilisi, hanya berselang empat jam dari proses pengajuan sudah dinyatakan diterima pengajuan visanya. Secara umum saya irit biaya pesawat, irit waktu dan tenaga karena punya ijin tinggal di Tbilisi.,” kenang Inten.

Dengan keuntungan semacam itu, Inten pun akan mempertahankan status kependudukannya sampai 2021. Dirinya pun tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan status kependudukan di negara lain, asalkan hal tersebut memungkinkan.

“Kita mungkin terlahir di suatu tempat tapi bukan berarti hanya bisa menjadi residen di tempat lahir kita saja, dunia ini begitu luas untuk ditinggali,” saran Inten.

*manggut*

Segudang Pengalaman Seru

Berada di tanah rantau dalam kurun waktu yang lama tentunya bikin Inten penuh dengan cerita yang tersimpan di memorinya. India memberikan Inten kejutan yang luar biasa. Meksiko selalu banyak cerita tiap harinya. Belum lagi pedesaan di Jerman yang membuat Inten terkesima. Kenya pun memberikan pengalaman super dan sangat berbeda.

“Melihat padang savana, tidak sekadar main ke kebun binatang, alami.  Afrika punya pemandangan yang terasa sangat beda buat mata saya,” seloroh Inten.
Pengalamannya di Kenya pun memberikan pelajaran tambahan buat Inten tentang sikap diskriminatif orang Indonesia. Suatu kali ketika mempublikasikan sesuatu soal orang-orang Kenya, ada saja yang berkomentar tentang warna kulitnya yang terlihat lebih terang dibanding orang lokal. Inten merasa tidak nyaman karena ia tidak merasa lebih tinggi atau lebih rendah hanya karena urusan warna kulit.
“Padahal di luar itu semua orang Kenya begitu ramah, welcome dan bisa dengan gampang kita ajak bergaul. Sehari kenalan saya bisa ikut dansa dengan anak muda karena disana budaya dance banget,” jelas Inten.
Hidup memang serupa yin dan yang, saling melengkapi. Cerita perjalanan Inten pun tidak melulu warna-warni pelangi. Pengalaman buruk pun pernah masuk kedalam cerita perjalanannya. Contoh saja, saat ia berada di Marakes, Maroko, dan mengalami kesusahan berbelanja tanpa mendapat paksaan dari penjual. Namun, setelah curhat di sebuat grup Facebook, ada yang menyarankan agar dirinya pergi ke Rabat yang sangat berbeda dengan Marakes.
Lain lagi di India. Di negara tersebut, Inten harus bergumul dengan perasaan stres, sedih, tetapi masih sempat terpukau dengan keindahan negara tersebut. Pernah sekali payudaranya ditowel pria lokal padahal pasangan Inten persis berada di sampingnya. Duh!
“Stres dalam perjalanan membuat saya dan suami malah belajar soal kesabaran,” ungkap Inten.
Meskipun pengalamannya sudah segudang, Inten masih belum berniat untuk menggantung status nomad-nya. Ia memasangan target untuk mengunjungi seluruh 195 negara di dunia ini. Dengan artian pekerjaan Inten masih ada 155 negara lagi yang wajib dikunjungi.
Ia pun masih memiliki “dendam” yang harus dituntaskan pada Amerika Serikat dan Kanada yang menolak pengajuan visanya.
“Amerika Serikat menolak dua kali, sementara Kanada satu kali. Masih menjadi misteri sampai hari ini apa alasan mereka menolak saya. Padahal saya cuma mau jalan-jalan,” Inten curhat.

Berniat Mengikuti Jejak Inten, Ini Tipsnya

Bagi pembaca-pembaca yang ingin mencoba melakukan nomaden yang berarti melakukan perjalanan jangka panjang. Inten menyarakankan untuk selalu minimalis.

  • Usahakan membawa sedikit barang.
  • Katakan TIDAK pada oleh-oleh.
  • Selalu bebaskan diri saat berkelana
  • Buka pikiran, mata, dan hati selebar-lebarnya untuk sesuatu yang baru.

Untuk urusan barang bawaan sendiri, Inten mengaku cuma membawa koper ukuran kabin yang berisikan perlengkapan “perang” seperti:

  • Laptop
  • Kamera
  • Ponsel
  • Perlengkapan elektronik
  • Tujuh pasang dress
  • Sepatu olahraga
  • Sendal jepit
  • Pakaian dalam
  • Pakaian olahraga termasuk di dalamnya sport bra dan legging yoga
  • Perlengkapan renang termasuk bikini
  • Toiletris dan make up

“Antara kerja online, olahraga dan gaya hidup harus tetap jalan,” saran Inten.

Bagaimana tertarik menjadi seorang nomad seperti Inten?

Kalau mau, ada petuah nih dari Inten…

Segera lakukan selagi ada waktu, jangan ditunda daripada menyesal, coba setidaknya sebulan saja hidup nomaden di negeri orang.

14 Replies to “#SeriAnakRantau: 40 Negara, 4 Tahun Mengembara”

  1. Keren banget😉 saya juga pengen keliling dunia sama Suami, tapi sekarang saya fokus baby duli😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s