Cerita Si Mate

Yerba mate (baca: sherba mate) pertama kali saya cecap sekira empat tahun yang lalu. Rasanya yang pahit tidak bisa langsung saya nikmati. Pun penyajiannya yang panas bikin lidah saya terbakar. Namun, lama kelamaan dikarenakan sering melihat Si Abang minum yerba mate saya akhirnya bisa berteman dengan rasa minuman khas negara-negara selatan benua Amerika tersebut.

Yerba mate sangat populer di Argentina, Paraguay, Uruguay, dan selatan Brasil. Argentina merupakan negara pengonsumsi yerba mate terbesar di dunia. Namun, secara konsumsi perkapita, Uruguay juara pertama.

View this post on Instagram

I got my tools ready. YERBA MATE is on the go! I am a fan of tea, that's why I could find myself enjoying mate. It has strong and thick flavor and hinch of bitternes. Having yerba mate is a social event for people from Argentina, Paraguay, Uruguay and Brazil. They tend to have it in group and let one of them serves the drink. Everyone share the pumpkin cup and metal straw (bombilla). It served hot. Perfect drink for any ocassion. • • • #merantau2016 #raunround #globetrotter #worldnomad #planetwanderlust #backpacker #discoveryourworld #travelerstory #blogger #doyoutravel #ventureout #outdoor #darlingmovement #mytinyatlas #passionpassport #mytravelgram #instatravel #womantraveler #latinamerica #yerbamate

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Minuman ini memang lebih asik dinikmati bersama-sama. Si Abang selalu saja punya cerita soal yerba mate, mulai dari betapa mahirnya ayahnya dalam menyajikan yerba mate sampai betapa lucunya ekspresi orang asing yang baru pertama kali icip minuman pahit ini.

Saya yang sudah bisa akrab dengan yerba mate tidak serta merta menjadi penggemar beratnya. Suka tapi tidak pakai ‘banget’ Paling saya hanya kuat minum empat porsi. Masalahnya kalau kebanyakan lidah saya jadi bebal, tidak bisa merasakan manis, asam, asin untuk beberapa waktu.

You are not a good mate buddy!” Kata Si Abang.

I am your only option,” balas saya.

Si Abang beberapa kali menyuguhkan yerba mate kepada tamu yang datang. Dan, reaksi mereka tak beda jauh dengan saya saat pertama kali berkenalan dengan minuman itu.

Namun, pemandangan berbeda terjadi ketika teman Si Abang datang dari Argentina.

¿Tomamos mate o qué?“- mau minum mate? Tanya Si Abang

¡Dale!” Jawab teman-teman.

Saya cuma nyengir. Dan, Si Abang akhirnya ketemu teman minum dan tidak memedulilan saya.

Memang, sih, mengobrol sambil menikmati yerba mate merupakan keasikan tersendiri. Barulah saya mengerti kenapa Si Abang tidak pernah kehabisan cerita soal budaya minum yerba mate.

Suatu kali saat saya menginap di sebuah hostel di Cali, Kolombia, dan bertemu dengan seorang pejalan asal Argentina, saya menunjukan bungkus yerba mate yang baru saya beli. Si pejalan terbelalak. Ada pancaran rindu dari matanya. Saya menawarkan, dan dia mengiyakan. Lekas dia mengambil cangkir, menuang yerba mate, menghangatkan air, tak lupa mencari sedotan khusus  yang disebut bombilla untuk menyeruput.

Pejalan tersebut menawarkan yerba mate kepada beberapa orang Argentina lain yang juga menginap di hostel yang sama. Tak satupun dari mereka yang menolak. Sekali lagi saya tersenyum dan tersadar soal betapa kuatnya budaya yerba mate ini di Argentina.

Belum lama ini, saya kembali ditunjukan soal pentingnya yerba mate bagi orang Argentina.

Si Abang berbicara dengan ibunya per telepon. Entah apa yang mereka bicarakan, namun saya menangkap kalimat, “… temparatura de mate…” – …suhu mate…

Meledaklah tawa saya. Bagaimana tidak, mereka menjadikan suhu penyajian yerba mate sebagai pembanding. Tak lama Si Abang menjelaskan kalau ibunya ingin membeli kompor listrik yang punya beberapa program terinstalasi padanya. Salah satu program tersebut adalah menghangatkan air untuk  menyajikan yerba mate. Tinggal pencet tombol dan nanti akan ada notifikasi saat air tersebut mencaoai suhu yang pas untuk digunakan. Saya pun teringat kalau ada penanak nasi  di Indonesia yang punya program memasak dan menghangatkan nas, juga membuat bubur yang ada di Indonesia. Teknologi yang sesuai memudahkan hidup manusia.

Ngomong-ngomong tulisan ini dibuat setelah saya menenggak satu porsi yerba mate. Tak lama kemudian mulut saya basuh dengan kopi kolombia. Ya, saya lebih tertarik dengan kopi saat ini. Bukankah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung? E tapi saya lebih tertarik chai tea sih, sayang enggak ada di sini.

4 Replies to “Cerita Si Mate”

  1. Ini sejenis teh gitu ya Fi.. Ditambah gula gak bisa? Biar gak pait gitu.. Apa emang aslinya begitu ya? Bacanya mate ini gimana sik Fi? E-nya tebel, tipis atau dibaca macam Inggris? Haha nanyanya banyak.. 😀

    1. iyak betul sekali semacam teh pait. kadang dikasih gula merah juga, Ta. gw lebih suka agak manis, sih.

      baca mate-nya kayak mate di matematika

      iya ih nanyanya borongan

  2. Hai, baru nemu blog ini trus baca. Kalo bisa boleh nanya soal gimana caranya buat WNI tinggal di Argentina, kayak apa2 aja yang harus di siapin. Karna Saya baca ini trus kayak bisa ngebantu share beberapa informasi. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s