Pilih Bule Demi Masa Depan Lebih Baik?

Tidak sedikit orang terdekat yang bilang kalau saya punya kecenderungan tertarik sama pria bule ketimbang kelas lokal. Baik ibu dan juga teman mengamini kalau saya pernah bertitah “kalau bisa, sih, sama bule saja!”

Sumpah saya tidak ingat sama sekali soal ikrar tersebut. Tapi ya namanya jalan hidup siapa yang tahu, sih. Akhirnya saya pun punya pasangan yang asli bukan orang Indonesia.

“Sebaiknya lo jangan pacaran sama bule biar tidak dikatain muka pembantu,” begitu bisik dan bujuk seorang temen.

Karena komentar di atas, saya, sebagai anak yang tingkat insekuritasnya tinggi jarang bercerita soal hubungan saya dengan Si Abang. Membumi. Biar aman pikiran ini. Ya tahu sendiri, kan, komentar-komentar tak enak seperti yang seperti diutarakan oleh teman di atas bakal banyak terdengar kalau saya terlalu pamer pasangan.

Kok, saya tahu padahal jarang pamer? Ya kan, cerita begituan di dunia maya banyak. Curhatan para pemilik pasangan beda kewarganegaraan, terlebih mereka yang berasal dari negara dunia pertama, itu bikin saya manggut-manggut dan makin membumi.

Katanya sih, kalau kalian ketahuan punya pasangan asing bakal dianggap:

  • Suka hidup bebas
  • Cewek matre
  • Muka babu
  • Penganut hedonisme
  • Demi memperbaiki keturunan

Dan, masih banyak lagi yang lainnya. Pastinya semua bernada miring.

Dari semua anggapan itu saya paling kesel komentar paling buncit. Kesannya saya tuh jelek banget secara penampilan. Padahal ibu saya cantik, dan saya yakin banget mirip beliau.

Entah kenapa kalau denger “memperbaiki keturunan” itu terkesan hanya sebatas kecakapan fisik. Ya sih siapa yang enggak ingin punya anak lucu-lucu menggemaskan, tapi kan enggak semua bule cakep. Kalau soal gen jelek, mah, bule juga banyak yang tak terlalu sedap dipandang. Karena walaupun semua manusia itu indah, yang jelek mah tetap saja jelek.

Eh tapi, akhir-akhir ini saya setuju dengan anggapan bahwa berpasangan dengan bule bisa memperbaiki keturunan, loh. Ini contoh kasus saya yang berkewarganegaraan Indonesia yang berpasangan warga negara Argentina. Dan, saat ini, kami menetap di Kolombia.

Mari saya jabarkan bagaimana nanti (kalau punya) anak(-anak) kami akan memiliki hidup lebih baik daripada emak bapaknya.

Terlahir dari dua orang tua yang berbeda kewargananegaraan memberikan anak kami berpeluang memiliki dua passport. Argentina mengizinkan warga negaranya memiliki lebih dari dua passport. Bahkan Si Abang bilang dia punya kenalan yang punya tiga passport. Nikmat sekali ya hidup orang itu. Sementara bagi orang Indonesia bisa memiliki dua passport sampai umur tertentu. Nah, sampai sini, anak kami punya peluang memiliki dua passport karena keturunan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya karena kami tinggal di Kolombia, dan karena satu dan lain hal,  jika anak kami lahir nanti dia dianggap sebagai warga negara Kolombia. Dengan demikian si anak bisa milih jadi Indonesia, Argentina, atau Kolombia. Enak sekali, padahal emak bapaknya cuma punya satu kesempatan dari lahir. Nasib!

Jikalau nanti si anak punya dua passport Indonesia dan Argentina tentunya akan sangat memudahkan dia untuk bepergian. Passport Argentina tentunya akan sangat berguna dipakai di kawasan Amerika Selatan. Pun sebaliknya dengan passport Indonesia yang memudahkan Si Anak tinggal lama di Indonesia. Kalau mau jalan-jalan sekitar Asia Tenggara tetap lebih baik pakai passport Argentina.

Lah, kok?

Ya iyalah, dengan berbekal passport Argentina si anak bisa masuk Malaysia, Singapura, dan Thailand bebas visa selama 90 hari. Barulah saat masuk Vietnam tunjukin passport Indonesia.

Saya pernah berpikir, misal, amit-amit, ada huru-hara di negara kami bermukim, Si Anak bisa dengan leluasa untuk pergi ke negara yang lebih aman. Yang satu ini ada contoh nyatanya. Tahu, kan, kalau Venezuela sedang krisis berkepanjangan dan penduduknya kesulitan mencari makan. Saya berkenalan dengan seorang ayah yang membawa anaknya ke Kolombia. Mungkin bagi Si Ayah akan menemukan kendala untuk menetap, tetapi tidak untuk anaknya karena Si Anak separuh Kolombia. Dan, untuk saat ini, Kolombia adalah tempat terbaik untuk Si Anak bermukim.

Itu baru satu keuntungan, loh. Ada lagi pastinya.

Jikalau nanti anak kami mau kuliah, pasti akan saya suruh ke Argentina. Kenapa? Karena di sana kuliahnya gratis. Dan, universitas di Argentina termasuk yang terbaik di kawasannya.

Dengan memiliki status WN Argentina, si anak juga memiliki hak atas pelayanan kesehatan yang juga gratis. Ya di Kolombia juga gratis, sih, tapi ribetnya sama kayak di Indonesia. Hahaha…

Terlahir di keluarga yang berasal dari dua budaya berbeda tentunya bakal bikin si anak “kaya”. Ya gimana tidak, untuk urusan bahasa saja nanti mereka (harus) bisa bahasa indonesia dan argentina spanyol. Untungnya, saya mau sombong, level berbahasa (termasuk bahasa inggris) saya maupun Si Abang cukup bagus. Jadi anak-anak tidak hanya bisa mampu berbicara dengan baik dan benar. Mimpi saya sih, mereka pun bisa menulis dengan apik juga.

Untitled design (14)
Dari segi makanan pun Si Anak bakal terbiasa dengan citarasa berbeda

Untuk urusan bahasa ini kami sangat serius, loh. Bahkan sudah saling menyepakati kalau tidak akan ada bahasa indonyol, indonesia-spanyol. Setiap ide yang ada di kepala Si Anak harus diutarakan dalam satu bahasa dari kalimat pertama sampai terakhir. PR-nya sekarang adalah saya harus bener-bener giat belajar bahasa spanyol pun ngajarin Si Abang bahasa indonesia. *semangat*

Kenapa, sih, kami kekeuh banget soal bahasa ini?

Ya soalnya kami percaya bahasa itu kunci dari semua ilmu. Bayangkan saja dengan dua bahasa yang dimilikinya itu, Si Anak memiliki jangkauan yang lebih luas lagi dalam membaca literatur. Enggak hanya bahasa indonesia, tok! Kebayang enggak berapa banyak informasi yang bisa dia dapat dari luar sana?

Tinggal di tanah yang bukan asal kedua orang tuanya juga, menurut saya, adalah privilise lain buat Si Anak. Dan, buat kami pun sangat baik biar ada penengahnya. Paling amit-amit kalo sampai salah satu budaya mendominasi. Tapi kayaknya yah, nanti Si Anak bakal lebih Kolombia dibanding Argentina atau Indonesia. Kebayang serunya nanti pas anak-bapak ribut ngebela timnas berbeda saat Piala Dunia. Saya mah, gak ikutan. Selain enggak suka sepak bola, ya enggak yakin aja gitu sama timnas Indonesia #oops

Impian kami memang sebisa mungkin membiasakan (kami dan) Si Anak untuk terbiasa dengan segala perbedaan. Kami sih, mikirnya jikalau Si Anak harus pergi ke tempat baru, dirinya akan terbiasa dengan segala hal yang beda dan tidak akan kikuk.

Apalagi ya yang bisa bikin masa depan Si Anak lebih baik daripada emaknya karena berpasangan dengan bule?

Ah iya! Berparas aduhai. Ah ini sih, bukan karena bapaknya bule. Ya karena emang emak bapaknya enggak jelek. Hahahaha…

 

Iklan

20 Replies to “Pilih Bule Demi Masa Depan Lebih Baik?”

  1. ak dulu pernah disuruh nggelapin badan loh sama tmn2 kantor, katanya mereka karena “bule suka sama orang2 yg kulitnya gelap, buat mereka gelap means eksotik” gitu kata mereka… padahal pasangan ak nggak pernah mikirin fisik ak gimana… sama bilang “ntar klo punya anak pasti cakeps banget, terus tinggal di Indonesia aja, biar ntar anaknya jadi artis” yeps, stereotipe dimana mana…

    1. Saya pernah ngomong soal warna kulit ke cewek Spanyol. Dan, jawaban dia bikin saya bodo amat sama stereotype. Ini jawabannya “I don’t think it’s the skin color that make people fall in love”.

      1. that’s it, banyak org kita (Indonesian, tpi nggak semua) lebih ke fisik loh drpda inti dari punya hubungan sama bule itu sendiri. Tapi tbh, tinggal di Indonesia dulu, dgn banyaknya yg tau kalau pasangan aku bule itu malah lbh banyak dpt negatif nya. Skg tinggal di negara pasangan ak, orang-orang sini malah nggak mikir warna kulit, dan ak lebih tenang hidupnya, drpda ngadepin negative minded people. hehehe

  2. Lantas gimana dgn segelintir perempuan2 Indonesia yg punya selera anti-mainstream: prefer dgn orang2 kulit hitam ato Black African ancestry?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s