#CelotehTukangJalan: Traveling VS Oleh-Oleh

Entah saya seorang atau ada juga yang memiliki perasaan yang sama, deg-degan sebelum bepergian. Hati berdebar bukan cuma karena tak sabar memulai perjalanan, namun juga bimbang antara ya atau tidak membawa buah tangan a.k.a oleh-oleh saat pulang nanti.

***

Btw, ini postingan #CelotehTukangJalan dengan tema Oleh-oleh Ya Atau Tidak?

Kali ini ada anggota baru, Ury. Personil lama Nita, Dita, dan Ria pun tetap ada. Tapi, Ria skip dulu untuk kali ini.

***

Saya sih termasuk golongan ya dan tidak untuk membawa oleh-oleh. Kalau untuk keluarga sih pasti dibela-belain tapi kalau untuk selain mereka saya mikir-mikir dulu.

Kenapa sih, harus bawa oleh-oleh untuk keluarga?

Begini, waktu kecil dulu saya selalu senang setiap ayah pulang dinas karena selalu membawa kenang-kenangan. Entah berupa hiasan dinding ataupun makanan khas daerah yang dikunjunginya. Saya pun seakan-akan ikut merasa “pernah” mengunjungi tempat tersebut.

Jikalau mengingat hal tersebut saya pun selalu mencoba membawa sesuatu untuk orang rumah. Umumnya sih, makanan ringan. Pilihan saya selalu jatuh pada makanan ringan bukan hanya karena kami memang doyan makan , tetapi juga ada sensasi yang indera pengecap bisa rasakan dan mereka bisa menyimpan keenakannya di memori mereka. Biasanya pilihan jatuh pada krupuk, keripik, dan lainnya yang kriuk-kriuk. Karena penganan tersebutlah yang menjadi favorit ayah.

Kebiasaan membawa oleh-oleh pun tetap berlanjut ketika saya bekerja. Kebetulan secara berkala saya selalu ditugaskan keluar kota. Nah, yang satu ini hukumnya wajib bawa oleh-oleh.

Kenapa? Ya karena tidak semua pekerja di kantor memiliki kesempatan itu, terutama teman-teman bagian desain juga office boy. Alasannya sama seperti membawa oleh-oleh untuk keluarga, supaya teman-teman kerja bisa merasa “pernah” ke tempat tersebut. Selain itu, dinas luar kota sudah pasti saya punya budget lebih dan selalu ada waktu untuk berbelanja.

Sebenarnya sih, keluarga saya tergolong suka membawa oleh-oleh. Mereka selalu beralasan; senang membuat orang senang. Tetapi kadang hal tersebut terlalu maksa. Contohnya, saat orang tua pulang umroh mereka membagikan kurma, kismis, kacang arab, dan air zam-zam. Semuanya dianggap sebagai oleh-oleh dari tanah Mekah. Padahal mah, selain air zam-zam, semuanya dibeli di Tanah Abang.

Kejadian ingin memberi impresi baik yang ternyata cuma rekaan juga pernah dilakukan oleh mantan rekan kerja. Pulang berlibur selama dua minggu ke Jepang dan Korea Selatan, si rekan kerja memberikan kami pulpen dengan figurin perempuan jepang berkimono. Tak lama berselang seorang rekan kerja lain berbisik, “Fi, mata uang Jepang itu rupiah ya?”

Makjaaaan! Ternyata label harganya lupa dicopot dong.

Saya sih, kibar bendera putih deh kalau harus membawa oleh-oleh sebagai bukti pulang plesir. Selain itu saya juga malas meluangkan waktu untuk berbelanja. Belum lagi ada tekanan untuk menyenangkan si penerima oleh-oleh.

Meskipun terbiasa membawa oleh-oleh, tapi sekarang kondisinya jelas beda. Saya tak lagi bepergian dalam jangka waktu yang pendek. Sudah pasti saya malas membawa beban tambahan. Bukan cuma perkara bayar bagasi, tapi lebih kepada malas bawanya. Plus, budget saya sangat mepet untuk sekadar menyenangkan banyak orang. Selera orang kan, beda ya jadinya apa yang menurut saya kece ternyata tidak sesuai ekspektasi penerima.

Contohnya, sekembalinya saya dari Australia saya membawa Tim-Tam. FYI, Tim-Tam dari Australia itu enak banget, sekali coba pasti tidak mau menyentuh lagi yang buatan Indonesia. Saat oleh-oleh tersebut saya bagikan ke keluarga mereka tidak terlalu “wah”. Merekanya kurang ekspresif, sayanya sensitif.

Pernah juga, gara-gara bujukan ibu, saya membawa oleh-oleh dari Thailand untuk sepupu-sepupu berupa tas selempang bermotif gajah. Reaksinya?

“Hahaha warnanya kuning kayak yang ngambang-ngambang hahahah…”

A.S.E.M. Jelas kan, sekarang kenapa saya malas bawa oleh-oleh buat orang lain selain keluarga inti.

Sebenarnya walau budget mepet saya masih meluangkan recehan untuk membeli sesuatu. Ya sekadar kenang-kenangan, minimal magnet buat ditempel di kulkas lah. Saat perantauan pertama, saya sempat membeli beberapa magnet kulkas dari kota yang saya kunjungi. Saya suka magnet kulkas yang ber-relief gitu, lebih seru dilihat dan dipegang. Kebetulan saya bertemu dengan seorang kawan di Malaysia, magnet-magnet tersebut saya titipkan untuk dibawa ke Jakarta.

Setahun kemudian saat saya kembali, tak ada satupun magnet yang saya kirimkan itu tertempel di pintu kulkas. Usut punya usut sepupu saya yang masih cilik merengek ingin memegangnya dan tak lama kemudian semua magnet itu berpindah ke tangan sepupu. Lima detik kemudian semuanya dibanting. Mereka pun hancur berkeping-keping.

“Kenapa enggak pasang tulisan ‘pecah berarti membeli’ sih? Biar enggak ada yang berani pegang-pegang!” Ujar saya kesal.

Kalau untuk teman-teman gimana?

Sebagai manusia yang suka menggampangkan masalah dan males ribet, sekarang oleh-oleh saya untuk teman-teman cuma cerita di blog ini juga foto di Instagram. Mohon teman-teman sekalian harap puas ya.

Tapi masih bisa fleksibel sih  Sekarang kan era-nya jasa titip atau jastip. Buat saya sih, ini fair banget buat kedua belah pihak. Ada kompensasi buat yang dititipin, dan si penitip pun bisa mendapatkan barang keinginannya tanpa harus bepergian. Asik kan.

Eh, apa saya buka jastip aja ya? Ada yang mau kopi kolombia?

12 Replies to “#CelotehTukangJalan: Traveling VS Oleh-Oleh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s