Foya-Foya Setelah Australia

Dikarenakan manusia itu tidak seragam maka tujuan dari setiap aksinya pun akan beragam. Begitupun dengan niatan tiap-tiap pemegang Work and Holiday Visa (WHV).

Dalam situs imigrasi Australia disebutkan salah satu tujuan dari WHV ini adalah pertukaran budaya antara pemegang WHV dengan penduduk Australia. Ah romantis sekali ya? Tapi buat saya mah tujuan ke Australia tak lain dan tak bukan untuk mencari duit.

Persetan dengan pengalaman yang akhirnya hanya sekadar kenang-kenangan.

Oleh karena niatan mendulang uang itulah saya selalu menghabiskan waktu setahun di Australia dengan bekerja. Liburnya kadang-kadang saja. Maka dari itu status saya berubah jadi pemegang Working Hard Visa.

“Ngapain, sih, kerja terus? Duit enggak bikin lo bahagia!” Ujar seseorang pemegang Work and Holiday Visa.

Jawaban saya si pelaku Working Hard Visa cuma, “tahu bangetlah duit gak bisa bikin bahagia, makanya tak habisin semua!”

Hahahaha…

Ya memang sih, duit hasil kerja di benua kangguru tersebut sudah ludes. Ya harap maklum aja nih, kan saya jadi alumnus WHV sejak 2015. Jadi wajarlah ya kalau sudah sayonara good bye dengan dollar.

Disclaimer: tulisan ini mengandung riya. Meski demikian saya yakin tulisan ini dapat menjawab pertanyaan beberapa orang yang mau WHV soal perkiraan seberapa besar penghasilan di Australia. Kalau sudah siap, ada baiknya saya mulai cerita bagaimana cara saya berfoya-foya dari hasil bekerja di Australia.

Ponsel Huawei Y550

Banyak yang bilang meskipun cuma punya kerjaan sebagai tukang cuci piring a.k.a kitchen hand a.k.a DJ (karena gerakan mencuci perkakas masak serupa disc jockey) di Australia tapi upahnya bisa beli iPhone termutakhir.

 

Wuuuuiiiiih… Cuma butuh 1-2 minggu bekerja penuh waktu si ponsel ciamik itu bisa dibawa pulang.

Kece ya?!

Ah, tapi itu kelamaan buat saya. Pun kemahalan. Makanya ketika mata saya melihat bandrol harga ponsel Huawei Y550 cuma AUD 69 saya langsung beli. Untuk beli ponsel tersebut saya cuma butuh tiga jam bekerja di pabrik beras. Tidak usah tanya spek karena saya tidak terlalu peduli.

d119409c084cf75c8d7b3258e7737d11sumber

Iya sih Huawei low end punya saya tidak sejajar levelnya dengan produk Apple itu. Tapi, hey! Ponsel ini fungsional sekali, setidaknya memenuhi kebutuhan saya yang cuma butuh koneksi untuk sosial media, telepon, dan pesan teks. Dan yang kecenya si ponsel yang sudah saya pakai selama tiga tahun ini masih berfungsi dengan baik!

Really worth every penny!

Kobo E-Reader

Saya enggak kutu buku banget, sih. Cuma saat melihat e-book reader milik Si Abang dan juga beberapa teman lain, kok, saya jadi ingin punya juga. Prinsip saya saat membeli barang itu harus butuh bukan sekadar ingin. Makanya saya sempat merasa sayang harus mengeluarkan uang AUD 150-an untuk e-book reader yang terpajang di toko elektronik Dick Smith yang saat itu hanya menjual Kindle.

Namun jodoh siapa yang bisa menduga, sih. Suatu hari saya sedang window shopping di Big W eh saya lihat harga Kobo e-reader didiskon. Awalnya AUD 90-an jadi cuma AUD 60. YESSSS!!!

Saya langsung colek mas pramuniaga sambil bilang, “bungkus satu!”

Saat itu bulan April 2015, entah kenapa ada banyak diskon di Big W. Saya pun dapat book case dan lampu buat si Kobo. Yang untuk kedua barang itu saya cuma menghabiskan AUD 10.

Untitled design (10).png

Em-u-mu-er-a-ra-h. MURAH!

Ketahuilah Kobo e-reader ini menjadi salah satu harta berharga saya selama tiga tahun terakhir ini. Berguna bangeeeet! Apalagi sekarang saya kan, tinggal tanpa listrik jadi saat malam menjelang dan belum bisa tidur salah satu cara membunuh waktu adalah dengan membaca.

Ahhh Kobo kaulah penyelamatku!

PS: lagi-lagi saya enggak ngerti spec gawai yang satu ini. Alasan beli ya cuma karena murah. Jadi jangan tanya perbandingan produk dari produsen lain ya. Saya cuma bisa bilang e-reader saya tidak mengecewakan.

Kamera Digital Olympus XZ-10

Saat berangkat merantau April 2014 saya sudah ditemani kamera digital Canon yang sesuai kebutuhan saya “point and shoot”. Tidak mengecewakan. Hanya saja saya lalai saat di bus dalam perjalanan Kuala Lumpur-Melaka medio Agustus 2014. Hilang sudah si kamera.

Si Abang meminjamkan kameranya. Saya bilang nanti saya kembalikan saat saya beli kamera baru. Dan ya akhirnya ketika Olympus XZ-10 ada di tangan saya bisa serah terima kamera ke Si Abang.

91acbs2bv1fl-_sl1500_
sumber

Olympus XZ-10 kalau dilihat spec-nya sih, cukuplah buat saya. Baca ulasan pun banyak yang bilang layak beli. Ya sudah saya pesan online. Inilah letak kesalahan beli online, enggak bisa dicoba-coba sebelum beli. Sebenarnya tidak terlalu mengecewakan sih kualitasnya, namun masih di bawah ekspektasi saya. Meski demikian tetep okelah karena masih bisa dipakai buat cari duit.

Leatherman Surge

Sebenarnya multi-tools yang satu ini bukan milik saya, melainkan punya Si Abang. Tapi saya yang beli buat kado ultah doi.

Saya harus putar-putar New York buat nemu tipe Si Abang inginkan. Sebenarnya saya sudah mau beli saat di Australia, hanya saja Si Abang itu enggak kasih tahu tipe apa yang dia mau. Kalau dia kasih tahu saat itu, pasti akan lebih mudah. Saya sekadar pesan online. Tapi ya sudahlah yang penting sudah ada itu barang.

sumber

Awalnya kok barang seperti ini mahal sekali yah. Eh ternyata yah manfaatnya banyak banget loh dan kuat. Saya yakin produk ini bisa tahan lama, garansinya saja sampai 25 tahun. Pokoknya best purchase! Saya senang deh, kalau beli barang yang worth every drop of sweat to earn the money.

Ajak Keluarga Jalan-jalan

Kadang saat saya melihat pemandangan bagus di tanah rantau saya berandai-andai keluarga saya bisa ikut menikmatinya.

Tapi ya, bepergian bersama keluarga itu tidak mudah apalagi kalau semua anggota keluarganya sudah dewasa dengan preferensi kesukaan yang berbeda-beda. Tapi sudah niat, akhirnya beberapa kali saya ajak keluarga pesiar.

“Ibu mau ke mana?”
“Ayah mau makan apa?”
“Adik mau lihat apa?”

Tenang, saya yang bayar! Semua pun senang.

Untitled design (14).png
Yessss! Kami sekeluarga pernah ke Bali bareng.

Demi menjalankan niat pesiar ini, saya menghapus niat plesir ke Whitsunday yang butuh alokasi dana tidak sedikit. Teman saya menyayangkan keputusan itu. Karena menurutnya mumpung di Australia, nikmatilah! Ah ya mau gimana sudah niat. Akibatnya waktu liburan saya pun dihapus dan saya lanjut bekerja di kebun ubi.

air-small2
Whitsundays, Australia. Sumber.

Orang Tua Umroh

Umur saya masih 17 tahun ketika guru BP membaca tulisan saya yang berjudul “Saya di Masa Depan” di depan kelas. Guru saya tidak menyebutkan siapa penulisnya, tapi saya tahu apa yang dibaca guru tersebut adalah tulisan saya.

Satu-satu Pak Guru membeberkan harapan saya di masa depan. Salah satunya adalah membawa orang tua ke Mekkah. Sampai sekarang saya masih ingat suasana ruang kelas saat itu, rasanya hanya ada saya dan Pak Guru. Kata-kata yang dibacanya saya rapalkan ulang dalam hati, semacam janji.

Butuh waktu 12 tahun untuk saya bisa melunaskan janji itu.

Pada suatu akhir pekan musim gugur saya menelpon ibu dan mengutarakan niat saya. Butuh waktu beberapa menit sampai saya bisa menuntaskan kalimat itu karena saya terlampau emosional.

“Bu, mau umroh? Saya bayarin, mau? Pergi sama bapak.”

Ibu yang di ujung telepon cuma menangis sambil mengucap syukur. Saya yang berada di ujung lain pun sesegukan.

Modal untuk umroh itu saya dapatkan dari klaim kelebihan pungutan pajak. Jadi, ada masanya pemegang WHV bayar pajak sesuai besaran pendapatannya. Misal, kalau dalam setahun cuma punya pendapatan AUD 18.200 maka si wajib pajak tidak perlu bayar pajak.

Umumnya sih, saat kita mendapat gaji yang sudah dipotong pajak. Jadi yang kita terima sudah bersih. Besarannya tergantung jumlah jam kerja per minggu. Nah, kalau sampai akhir tahun ternyata total pendapatan kita di bawah treshold, maka pajak yang sudah dibayarkan bisa kita minta balik (tax refund). Kalau sekarang sih sudah tidak ada lagi tax refund buat pemegang WHV karena pajaknya sudah tetap sebesar 15% berapapun pendapatannya.

Nah, saya memanfaatkan klaim balik pajak itu. Ya hasilnya lumayan. Orang tua saya bisa umroh. Dan hutang pada diri saya yang berusia 17 tahun itu pun lunas.

Menetap di Amerika Selatan

Ih, agak risih menyebut Amerika Selatan. Seakan-akan saya setuju kalau benua Amerika terbagi dua. Ah, sudah tidak usah dibahas sekarang.

Salah satu alasan saya ngotot cari duit di Australia adalah untuk mewujudkan mimpi saya yang lain. Mimpi yang di dalamnya ada Si Abang. Kami memiliki rencana ini itu dan si itu ini butuh biaya yang tidak sedikit.

Dikarenakan setiap mimpi punya hak untuk diwujudkan, makanya saya benar-benar kerja. Ya memang peluh yang keluar tidak menghianati hasil karena sekarang salah satu mimpi kami di Amerika Selatan, tepatnya di Kolombia, terwujud. Apa tuh? Nantilah ya saya ceritakan.

***

Ada juga yang pernah bilang kalau berbekal kerja selama WHV enggak bakal bikin kita jadi orang kaya. Ah, peduli amat yang penting saya sudah menghabiskannya macam horang kaya! Hahaha…

Tapi ya konsekuensinya adalah tabungan saya harus dimulai dari nol lagi. Harus working hard lagi, nih.

Kalian pernah foya-foya juga, enggak? Enak ya. Apalagi kalau duitnya dari hasil kerja keras. Betul?

 

Iklan

6 Replies to “Foya-Foya Setelah Australia”

  1. Seru banget kak ceritanya😎 hmmm saya sering foya2 setelah lahiran biar ga baby blues, jadi scroll olshop terus, seneng deh tiap hari paket dateng tapi ada aja sih rezeki istri solehat itu😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s