#SeriAnakRantau: Gara-Gara Sepak Bola

Tolong pembaca sekalian beri tahu saya, pada umur berapa kalian pertama kali merantau?

Saya sendiri sih, mulai merantau saat usia 18 tahun. Pergi ke Jatinangor untuk kuliah. Tapi, saat itu hitungannya masih separuh merantaulah. Masih bergantung biaya hidup pada orang tua. Barulah sembilan tahun kemudian saya pamit dari tanah kelahiran untuk memulai perantauan yang jauh dari sanak keluarga dan juga tanpa bantuan finansial dari siapapun.

Bagi saya usia 18 itu sudah cukuplah ya untuk pergi dari rumah orang tua. Ya, walau pengalaman masih cetek tapi sudah hampir akan masuk golongan dewasa muda. Kalau di bawah itu, waduh kayaknya saya masih cemen banget.

Makanya, pas saya dengar pengalaman profil untuk Seri Anak Rantau kali ini bikin saya ingin mengumpat (bersembunyi, loh, bukan bersumpah serapah).

Sebut namanya Teuku Muhammad Iqbal Alfajri Panggil saja dia Iqbal. Usianya baru 15 tahun saat ia pertama kali merantau. Tanah rantau yang dipijaknya pun sungguh jauh yaitu Paraguay.

Duileeh jauh banget kan?

Perantauan itu dilakoni demi memuaskan nafsunya belajar sepak bola. Oh yes! demi masa depan yang lebih baik, berpisah dengan keluarga tersayang pun dijabani oleh pria kelahiran Bireun, Nangroe Aceh Darussalam, ini.

Penasaran?

Yuk ah, kita kenalan langsung dengan Iqbal. Seperti remaja cowok Indonesia kebanyakan, Iqbal juga penggila sepak bola. Saban hari pasti main kejar-kejaran dengan bola. Biar keahlian menyepak semakin kece, Iqbal pun bergabung dengan kelompok sepak bola di Aceh. Hingga tibalah momen bersejarah dalam hidupnya datang.

“Gubernur Aceh periode 2007-2011 bikin program untuk mengirim pemuda-pemuda Aceh berbakat dalam sepak bola untuk belajar ke Paraguay,” terang Iqbal kepada RaunRound.

Setelah proses seleksi yang cukup ketat, maklum peminatnya sampai ribuan, Iqbal pun termasuk dari 30 orang pemuda yang akan berangkat ke Paraguay. Untuk menjalankan program selama tiga tahun ini, Pemerinta Provinsi NAD menggelontorkan dana sebesar Rp 42,8 miliar.

Kembali ke Iqbal, baginya sepak bola adalah segalanya. Saat hatinya resah, gundah gulana, dan galau, ia akan melampiaskannya dengan bersepak bola. Tentu saja bisa pergi ke Amerika Selatan untuk berlatih dan belajar sepak bola merupakan kebanggan tersendiri.

Namun, kebahagiaannya setelah lolos seleksi bertemu dengan sedikit kendala. Ia merasa berada di dalam posisi yang cukup sulit, terutama soal harus berpisah dengankeluarganya. Maklumlah Iqbal merupakan si bontot dan belum pernah merantau sama sekali ditambah akan pergi selama tiga tahun.

“Namun di sisi lain, mereka juga senang melihat anaknya bahagia.”

Iqbal yang kala itu berusia 15 tahun dan baru lulus SMP pun bersuka ria menyongsong pengalaman baru. Ia pun bertekad untuk belajar segiat ia bisa agar bisa mewujudkan mimpinya yang lain, bergabung dengan klub sepak bola di Benua Biru, Eropa.

Hari yang dinantikan pun tiba.  Pada 8 Agustus 2008, Iqbal bersama kawan-kawannya meninggalkan tanah air. Menempuh perjalanan separuh bumi, anak remaja tersebut melewati Malaysia, Afrika Selatan, Argentina, hingga akhirnya mendarat di ibu kota Paraguay, Asuncion.

Penyesuaian pun dilakukan oleh Iqbal CS (juga dikenal sebagai Alumni Paraguay) yang paling utama adalah “berkenalan” dengan musim dingin Paraguay. Tak hanya itu, asupan makanan pun harus disesuaikan. Tak ada lagi makanan pedas serta gorengan, semuanya berganti dengan makanan yang menurut Iqbal tidak ada rasa. Biasanya nih satu piring mereka akan dipenuhi dengan salad plus daging. TANPA NASI.

“Awalnya sulit, pasti. Tetapi kelamaan kami mendapatkan manfaat dari makanan tersebut terutama saat kami bermain (sepak bola) di lapangan,” papar penyuka nasi uduk ini.

Eh tapi, Iqbal kadang-kadang curi kesempatan saat hari libur dan tidak ada latihan, ia akan lari ke pusat perbelanjaan. Demi apa? Demi seporsi junk food. Alasannya karena tiap hari makanan mereka di asrama selalu diatur.

Saban hari Iqbal mengasah keahliannya sebagai defender selama dua setengah jam. Menurut Iqbal, program latihan yang diberikan sangat terstruktur oleh para pelatih yang mumpuni. Selama di Paraguay, Iqbal CS dilatih oleh pelatih teknik asal Argentina, Luis Sosa, dan dua orang asistennya asal Paraguay.

Tiap Senin, mereka akan digembleng latihan fisik, sementara hari-hari berikutnya berfokus pada latihan dengan bola. Nah, barulah pada Sabtu atau Minggu diadakan uji coba.

Diakui Iqbal, latihan yang ia lakoni selama di Paraguay cukup keras. Namun hal tersebut justru hal tersebut mendukung dirinya dan teman-teman untuk menjadi profesional dan berpeluang main di Eropa. Meskipun terkendala bahasa, bahasa resmi Paraguay adalah bahasa spanyol, Iqbal mengaku ia cukup cepat memahami insruksi pelatih.

Apa nih, rahasianya kok bisa cepat menangkap instruksi? SEMUA KARENA CINTA SEPAK BOLA.

Oh, OK SIP!

Meskipun perjuangan di tanah rantau tidak mudah dan selalu rindu keluarga, Iqbal masih menyimpan kenangan manis serta keseruan-keseruan selama di Paraguay. Salah satu kenangan yang membekas di hatinya adalah saat musim dingin tiba dan semua pemain tidak hanya harus fokus pada instruksi pelatih tetapi juga harus menentang arus gravitasi, pasalnya mereka semua ingusan.

“Yang dirindukan dari Paraguay adalah sepak bolanya. Materi latihan yang diberikan kepada kami saat itu, belum sekalipun kami temukan di Indonesia sampai saat ini,” jelas Iqbal.

12190074_135250466830578_6265981176406630813_n

Memasuki tahun terakhirnya di Paraguay, Iqbal sempat bergabung dengan klub sepak bola lokal bernama Atlantida Sporting Club. Usianya masih 17 tahun, saat itu, tetapi Iqbal bermain dengan tim senior.

Alih Profesi

Sekembalinya dari Paraguay, Iqbal mengaplikasikan materi pelajaran sepak bolanya dan bergabung dengan klub profesional Aceh bernama PSSB Bireun. Selama dua tahun Iqbal membela klub tersebut. Namun, kejadian tak mengenakan terjadi. Iqbal menderita cedera lutut yang serius pada 2014. Ia pun memutuskan untuk menggantung sepatu dan memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Iqbal mengambil jurusan physical education di Universitas Serambi Mekah, Banda Aceh.

Ketika itu, Iqbal kembali memutar otak pekerjaan apa yang harus ia lakoni setelah tidak lagi bersepak bola. Ia pun teringat kalau dirinya menyukai bahasa spanyol. Lalu ia pun memutuskan untuk menjadi pengajar bahasa spanyol.

Selama tiga tahun di paraguay, Iqbal tidak melulu memperdalam ilmu sepak bola, tetapi juga duduk di bangku sekolah setingkat SMA. Materi pelajaran disampaikan dalam bahasa spanyol, tak mengherankan kalau Iqbal pun lihai merangkai kata dalam bahasa spanyol.

“Saya sudah bisa bahasa spanyol, tapi belum terlalu paham tata bahasa. Saya pun akhirnya ambil kursus bahasa spanyol di Jakarta. Barulah pada 2015 saya mengajar di Duo Linggo di Bandung,” jelas Iqbal.

Bertahan selama enam bulan di Bandung, Iqbal kembali ke Aceh dan mulai mengajar bahasa spanyol secara online. Oh sekadar info saja nih, pertengahan tahun 2017 Iqbal mendapatkan beasiswa belajar bahasa spanyol di Kolombia, loh. Makin lengkap deh ya ilmunya.

Kelas online yang digagas Iqbal ini memanfaatkan grup WhatsApp, Iqbal mengajar pada para peminat bahasa spanyol. Dengan kelas online ini, menurut Iqbal, memberikan kemudahan bagi para pelajar karena materi pelajaran selalu tersimpat di grup chat tersebut.

“Kalaupun peserta kursus memiliki kepentingan lain dan tidak bisa berpartisipasi dalam kelas yang sedang berlangsung, mereka bisa melihat chat juga voice note. Kalau masih belum mengerti bisa langsung bertanya pada saya,” tutur iqbal.

Bagi yang tertarik dengan kelas bahasa spanyol dengan Iqbal, jooom langsung kontak yang bersangkutan ya. Kelas berikutnya akan segera di buka, loh.

28783185_562270600795227_328072798491827719_n

Btw, tak ada afiliasi apapun ya antara Iqbal dengan RaunRound. Sekalian pamit, deh, sampai jumpa di Seri Anak Rantau berikutnya!

Dadaaaah..

Iklan

2 Replies to “#SeriAnakRantau: Gara-Gara Sepak Bola”

  1. Program ke Paraguay itu kece banget, sih. Udah gak dilanjut ya programnya? Gemes gitu kan sama sepakbola dalam negeri. Salut juga sama Iqbal.. Sayang ya cedera, tapi seenggaknya masih ada yang membekas dari rantauannya ke sana, apalagi sampai bisa menghasilkan juga..

    1. Gak lanjut lagi programnya, Ta. Anggaran dananya gak cair, ini dari apa yang gw baca ya. Coba deh google, ku tak enak membahasnya di sini. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s