Jakarta Yang Kurindu

Entah setan apa yang merasuki diri saya sampai akhirnya membuat tulisan ini. Yah, mungkin karena rindu yang tak lagi terbendung. Saya rindu Jakarta.

Sudah pasti setuju Jakarta hanya cocok dijadikan tempat bekerja bukan tempat tinggal. Setuju kan? Setuju saja deh. Saya sempat bergurau kepada seorang teman kalau saya rela tinggal di kota lain asal punya gaji dengan standar Jakarta. Hahaha curang ya? Ya memang demikian adanya. Jakarta hanya menarik dari segi pendapatan.

Namun, sekarang saya kena tulah. Sekira hampir dua tahun berpisah dengan Jakarta, eh saya malah terserang malarindu yang proses penyembuhannya hanya satu dan mihil bangeeet: PULANG KE JAKARTA!

Sayangnya, saat ini, belum memungkinkan sih saya menjejakan kaki di Jakarta lagi. Jadi biarkanlah tulisan ini serupa terapi penuntas rasa rindu. Marilah dijabarkan saja sumber-sumber penyakit ini.

1. Keluarga dan Teman

Untitled design (20).png

Untuk hal yang satu ini mah, tidak perlu diberikan alasan yang panjang ya. Kalian pasti tahu sendirilah alasannya. Suka nonton serial F.R.I.E.N.D.S enggak? Dalam salah satu episodenya, the gang pergi ke London. Joey yang awalnya excited banget banget tiba-tiba merasa rindu New York hanya karena di kota itulah ia merasa banyak orang yang tahu siapa dia, sementara di London Joey hanya seperti remahan rengginang. Sekarang saya adalah Joey.

Untitled design (19).png

2. Anak-anak kecil

Untitled design (17).png
Meskipun suatu kali saya pernah dilabeli “tidak memiliki sikap keibuan” dari seorang teman perempuan (yang sampai saat ini saya tidak tahu alasan penguat komentar tersebut), saya tidak kikuk berada di antara anak-anak kecil. Ya ada syarat dan ketentuannya, sih. Satu, saya kenal dengan orang tua si anak tersebut. Hal tersebut bikin saya nyaman bermain dengan si anak. Kenapa? ya biar enggak dianggap aneh aja senyam-senyum ke anak kecil yang tidak saya kenal. Dua, saya sedang tidak sakit yang dapat menulari si anak. Tiga, anak kecilnya enggak cengeng. Seru aja sih, bisa gaul dengan anak-anak. Apalagi kalau mereka sudah memanggil saya “kakak”. Saya bahagia, tapi teman saya tidak setuju dengan panggilan itu.

3. Makanan Kaki Lima

Untitled design (18).png
Ya Tuhan, betapa besarnya jasa pengagas dagangan kaki lima. Semoga amal ibadahnya di terima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bayangkan, kemana pun kita melangkah pasti dengan mudah menemukan pedagang kaki lima (kalau belum ditertibkan) dengan segala macam dagangannya. Namun, yang paling saya kangenin sih, penjual makanan. Laper sedikit tinggal melipir ke warung pecel lele, nasi uduk, sate ayam, nasi padang, mie ayam, ketoprak, es campur, bakso, bubur ayam, aneka ria gorengan, es dawet, asinan bogor, kue ape, nasi goreng, soto betawi, cilok, rujak, kue rangi, lupis, bakwan malang,soto ceker, sop kambing, gado-gado, fuyung hai dan lain-lain. Selain mudah ditemukan, pun harganya cukup bersahabat dengan kantong.

4. Berkendara Motor Malam Hari

Untitled design (16)
Banyak yang bilang bahaya kalau berkendara saat malam. Memang benar sih, tapi saya cukup terbiasa dengan hal itu. Dulu saat masih bekerja saya selalu pulang jam sembilan malam demi menghindari kemacetan. Waktu pilihan saya tersebut sangatlah tepat karena volume kendaraan sangat sedikit dan saya bisa menikmati ruas jalan raya yang kosong itu sepuas-puasnya. Biasanya nih, saya akan berkendara sambil mendengarkan musik plus bersenandung kecil. Cuaca malam hari yang walaupun enggak sejuk-sejuk masih bisa membuat perjalanan pulang ke rumah cukup menyenangkan.

5. Karaoke
Biasanya nih, saya bisa berkaraoke ria seminggu sekali, itu paling minimal. Pasti ada saja ajakan untuk pergi ke ruang karaoke dari lingkar pertemanan yang berbeda-beda. Yang pasti agenda ini dilakukan setelah jam kerja. Kami memang memilih untuk tidak pulang cepat ya karena ingin menghindar dari jahanamnya kemacetan Jakarta. Selain itu, biaya sewa ruangan karoke, kan, pada hari kerja lebih murah ketimbang akhir pekan. Ya, walau tetap tidak menutup kemungkinan sih karoke pada akhir pekan.

6. Bioskop
Saya termasuk orang yang bisa pergi ke bioskop sendirian. Tak ada teman tak jadi masalah. Kesukaan saya itu didukung oleh banyaknya bioskop di Jakarta. Dimana-mana ada. Bosan sedikit, langsung mampir ke bioskop. Kenyamanan seperti itu tuh yang tidak lagi saya rasakan di sini.

7. Pusat Kebudayaan Asing
Jakarta yang merupakan ibu kota sudah barang tentu dijejali oleh kantor kedutaan negara asing. Tak sedikit di antara kedutaan tersebut yang memiliki program khusus promosi budaya,seperti pemutaran film, pameran foto, pertunjukan musik dan tari, dan masih banyak lainnya. Saya suka sekali dengan semua kegiatan itu, selain membiasakan diri dengan budaya berbeda, kegiatan tersebut umumnya GRATIS! Surga dunia banget pokoknya.

8. 24 Jam Sehari 7 Hari Seminggu

Untitled design (15)
Jakarta tidak pernah tidur. Meskipun kadangkala terlampau sibuk, tapi saya merindukannya. Semuanya serba dinamis. Kalau kelamaan berdiam, maka akan tertinggal. Terus saja seperti itu setiap menit, jam, dan hari. Berulang-ulang. Melelahkan sih, tapi saya kangen. Marilah dibandingkan dengan kondisi saya saat ini yang setiap jam tujuh malam sudah mendekam di rumah yang karena kalau saya keluyuran malam-malam sangatlah tidak aman.

Duh,,, Jakarta daku rindu!

Kalian yang anak rantau apa saja yang kalian rindukan dari kota kelahiran?

 

19 Replies to “Jakarta Yang Kurindu”

  1. saya juga sudah setahun meninggalkan jakarta dan saya juga kangen banget!! huhuhu..

    jakarta itu benaran benci tapi rindu yaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s