#SeriAnakRantau: Saat Gegar Budaya Kebalikan Menyerang

Holaaaa…

Balik lagi ke Seri Anak Rantau! Kali ini saya makan gaji buta, karena yang nulis si anak rantaunya sendiri. Saya yang nyuruh, doi sih iya-iya saja. Maklum yang nyuruh senior kampus dulu. Hahahaha…

Tidak perlu berpanjang lebar. Mari kita dengerin cerita Widi Kusuma yang balik-balik dari merantau malah harus berusaha agak keras menerima budaya kembali budaya Indonesia.

Kuy, lah!

***

Pernah merasa terkaget-kaget dengan tingkah pola dan kebiasaan orang di tempat baru terutama saat kita berada di luar negeri? Nah kalau pernah merasa begitu maka kita merasakan apa yang disebut culture shock. Butuh waktu buat kita untuk menyesuain diri. Lalu apa jadinya jika kemudian ternyata kita malah dengan mudah menerima budaya asing dan melebur dalam jiwa dan raga dan saat kita kembali ke negara sendiri malah merasa shock?

Saya pernah pakai banget. Hal ini yang kemudian saya ketahui dengan istilah reverse culture shock. Bahkan salah seorang teman saya yang saya temui di Belanda, sempat menjadikan saya sebagai salah satu narasumber skripsinya terkait hal tersebut.

Jaman jadi anak IPS di SMA sampai berlanjut kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, saya lumayan kenal dekat dengan culture shock. Jadi secara teori sudah cukup meletek.

Saat “bertemu” dengan culture shock ketika saya menginjakkan kaki di Negeri Kincir Angin pada 2010 lalu, tidak begitu sulit untuk dengan cepat menyesuaikan diri. Lumayanlah saya aplikasikan teori dari mata kuliah komunikasi lintas budaya selama satu semester waktu jaman kuliah.

Tetapi, saya butuh waktu untuk move on dari reverse culture shock sekembalinya dari Belanda pada 2011. Selama setahun tinggal di Eropa, tepatnya di Amsterdam,Belanda membuat saya terbiasa dengan pola kehidupan dan perilaku masyarakat Belanda. Bahkan meresap hingga ke sanubari. Mulai dari makanan, budaya hinga perilaku mereka.

Kembali ke Indonesia, saya justru dibuat terkaget-kaget dengan pola kehidupan dan perilaku masyarakat Indonesia. Padahal hampir selama 23 tahun saya tinggal di Indonesia. Pertama kali saya mendarat kembali ke tanah air tercinta, tidak seperti kebanyakan orang yang barang pasti bakal disambut di terminal kedatangan. Karena berbagai alasan tidak ada yang menyambut kedatangan saya.

 

WhatsApp Image 2018-04-28 at 21.50.29
suatu sore di Amsterdam

 

Sesaat setelah saya mendarat di Jakarta. Saya yang meninggalkan Belanda dengan cuaca musim gugur sekitar 19 derajat celcius, dikagetkan dengan cuaca Jakarta yang mencapai diatas 30 derajat. Sengatan matahari langsung lah bikin saya banjir keringat. Selain cuaca panas ala negara tropis yang menyambut, saya juga disambut dengan para porter. Para porter sudah berkerumun saat para penumpang menunggu bagasi keluar.

Terus terang, saat itu merupakan pengalaman pertama saya mendarat di bandara di Jakarta. Jadi sebelumnya saya kurang tahu kondisi di terminal kedatangan. Tentu saja kondisi tersebut berbeda saat saya mendarat di Belanda. Tidak ada porter yang berseliweran menawarkan jasa yang tidak gratis. Semua orang berjalan dengan cepat seperti mau mengambil gaji.

Setelah bisa meloloskan diri dari para porter yang berseliweran, saya menuju loket Damri untuk membeli tiket. Saya sengaja memilih menggunakan jasa angkutan umum Damri untuk menuju ke rumah. Alasannya karena lebih murah dan efisien. Bertindak lebih hemat dan efisien juga salah satu dari kebiasaan banyak masyarakat Belanda. Meskipun sebagian dari mereka kadang terlalu berlebih sehingga terkesan pelit. Pernah saya bertanya mengenai hal tersebut dan mereka menjawab, “Kalau bisa berhemat kenapa harus boros,”

Jadi, setelah membeli tiket untuk naik Damri, saya diarahkan ke Damri yang sesuai dengan tujuan saya oleh petugas berseragam Damri berwarna biru muda. Saat saya hendak naik ke Damri sembari mengangkat koper berukuran lumayan besar. Tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 40 tahunan berdiri di pintu Damri menawarkan jasanya untuk membantu mengangkat koper saya. Saya menolak dengan halus.

Pertama karena saya bisa mengangkat koper sendiri. I’m not that weak. Kedua saya sempat bingung siapa orang ini, bukan petugas Damri juga karena tidak menggunakan seragam seperti beberapa petugas Damri lainnya yang berdiri tidak jauh dari kami. Anehnya, orang-orang berseragam Damri saja tidak ada yang menawarkan bantuan untuk mengangkat koper saya. Meskipun saya sudah menolak, si bapak tetep kekeuh mau membantu. Posisi si bapak yang sudah berada di depan pintu Damri menghalangi saya untuk naik. Akhirnya saya pun menerima bantuan si bapak. Berpositive thinking, ada yang mau membantu kenapa ditolak. Meskipun selama setahun di Belanda saya terbiasa semuanya sendiri.

Setelah si bapak meletakan koper saya dibagian depan bus. Saya memeilih duduk di kursi paling depan. Saya ucapkan terima kasih. Si bapak diam saja tidak menyahut. Masih berdiri di depan saya seperti tengah menunggu sesuatu. Kemudiam saya ucapkan terimakasih kembali. Saya pikir mungkin si bapak tadi tidak dengar. Tanpa sepatah katapun, si bapak mengadahkan tangannya di depan saya sebagai tanda meminta uang bayaran kepada saya.

Saya mengeryitkan kening dengan wajah penih tanya.”Uang tips buat angkat koper,” kata si bapak masih dengan tangan mengadah. “Saya kan tidak minta bapak angkat koper saya. Bapak yang maksa mau angkat,”

Air muka si bapak tidak senang dengan jawaban saya dan masih kekeh mengadahkan tangannya. “Seikhlasnya,” ujarnya dengan nada memaksa. Saya pun berikan lembar lima ribuan karena terus terang saja tidak banyak rupiah tersisa di dompet saja. “Cuma segini?” si bapak ngedumel sambil balik badan dan turun dari Damri. Saya tidak dengar dan tidak mau dengar dumelan panjang lainnya.

Dalam hati saya juga ngedumel seikhlasnya tapi tidak ikhlas juga. Bukan urusan jumlah uangnya tapi cara si bapak yang seolah mau membantu tapi ujung-ujungnya minta duit. Sebuah perilaku yang saya tidak pernah alami selama di Belanda. Selama setahun saya dicekoki dengan sikap tegas dan to the point ala orang-orang Eropa khususnya Belanda. Kalau mereka bilang A ya A bukan B atau C. Lah tadi si bapak yang mau bantu tiba-tiba UUD (ujung-ujungnya duit).

To The Point

Sikap saklek dan to the point orang-orang Belanda ini terbawa oleh saya saat saya kembali ke indonesia. Kalau iya iya kalau tidak tidak. Kalau suka bilang suka kalau enggak ya bilang enggak. Jangan bilang suka di depan tapi di belakang ngedumel atau ngomong beda. Saya memang termasuk orang yang tidak enakan tapi perasaan tidak enakan itu bagai terhempas selama saya tinggal di Belanda atau tepatnya dituntut untuk dihempas. Lingkungan sekeliling yang selalu to the point membuat saya pun lambat laun terbawa juga.

Sekembalinya ke Indonesia, kebiasaan itu masih terbawa. Ternyata ke-to the point-an saya itu justru tidak sesuai dengan lingkungan sekeliling di mana saya tinggal di Indonesia. Saya sempat mendapatkan protes orang terdekat karena dinilai terlalu to the point.

Kalau bukan orang terdekat yang protes mungkin saya abaikan saja. Ini yang protes pacar sendiri (sekarang mantan pacar). Jadi ceritanya setelah kembali dari Belanda, saya hijrah ke Bandung untuk melamar kerja. Selama proses pencarian kerja, saya tinggal bareng teman kuliah di kosan di Jatinangor, kawasan mahasiswa semasa saya kuliah. Dekat tempat kos saya itu ada minimarket yang sejak jaman saya kuliah selalu memberi kembalian recehan rupiah diganti dengan permen. Alasannya karena tidak ada recehan.

Semasa jaman kuliah saya tidak begitu ambil pusing karena hal tersebut semacam menjadi kebiasaan. Namun, entahlah saat hal tersebut terjadi kembali sepulang saya dar Belanda. Saya merasa hal tersebut tidak sesuai maka saya pun menegur si mbak kasir. Saya mau uang kembalian, bukan permen.

 

WhatsApp Image 2018-04-29 at 20.39.41
santai di Bondi

 

Meskipun jumlahnya tidak seberapa tapi dalam aturannya hal tersebut tidak diperbolehkan. Si mbak kasir sempet kekeh kalau tidak ada recehan. Lebih menyebalkan karena si pacar ketika itu malah membela mbak kasir dengan mengambil kembalian permen kemudian mengandeng tangan saya keluar dari mini market.

Sepanjang perjalanan pualng ke kosan, saya malah kena ceramah dari si pacar. Katanya, tidak perlu begitu-begitu banget cuma karena uang recehan. Ujungnya kami pun berdebat semalaman karena saya merasa tidak ada yang salah dengan permintaan saya meminta kembalian berupa uang bukan permen. Sementara si pacar kekeh menganggap sikap saya itu membuat saya keliatan pelit karena meributkan uang recehan yang tidak seberapa. Padahal kalau dihitung, jika setiap pengunjung mini market semuanya dikasih kembalian permen. Berapa banyak uang yang “disimpan” mini market tersebut. Itu baru satu mini market, ada puluhan ribu jumlahnya seantero Jawa Barat dan entah berapa banyak jumlahnya se-Indonesia.

Beberapa hari berselang, di mini market yang sama, hal serupa terjadi kembali dengan kasir yang berbeda. Kali ini petugasnya pria muda yang lagi-lagi memberikan permen sebagai kembalian. Tentu saja kali ini saya yang datang ke mini market dengan teman saya di kampus dulu, kembali protes. Saya tidak mau permen sebagai kembalian. Si mas kasir sempat memberi alasan kalau tidak ada recehan dan saya tetap bersikeras tidak mau permen sebagai kembalian. Akhirnya, si mas kasir memanggil temannya di bagian belakang mini market untuk memberinya uang receh yang kemudian diberikan ke saya sebagai kembalian. Pasti banyak yang menganggap saya menyebalkan karena membesarkan hal sepeleh. Saya hanya meminta apa yang menjadi hak saya. Tidak ada yang salah, kan?

Time is Money

Istilah time is money memang banyak dijunjung oleh masyarakat Eropa. Selama saya tinggal di Belanda dari mulai janjian dengan teman (orang Eropa khususnya orang Belanda) hingga moda transportasi semua harus tepat waktu. Hampir semua moda transportasi dari bus, tram hingga kereta dan pesawat selalu tepat waktu. Mungkin ada kalanya mereka telat itu pun biasanya ada ganguan. Setiap moda transportasi mempunyai jadwal keberangkatannya. Sering kali saya mengejar tram karena kalau telat satu menit saja datang ke halte tram maka tram sudah tutup pintu dan siap berangkat. Walhasil saya pun harus menunggu jadwal tram berikutnya yang kadang datang sekitar 10 hingga 15 menit.

Paling males kalau harus nunggu pas winter, sudah mengigil duluan di halte tram. Kalau sudah begini saya menyesal karena telat datang ke halte tram. Bahkan saking tepat waktunya, moda transportasi ini tidak peduli apakah penuh atau tidak. Pernah juga suatu kali saat saya dan seorang teman Indonesia yang datang ke Amsterdam hendak mengunjungi Volendam, sebuah desa nelayan tidak jauh dari kota Amsterdam yang menjadi daerah turistik. Saat itu bis yang akan membawa kami ke Volendam hanya berisi tiga penumpang, saya dan teman serta seorang pemuda yang duduk di kursi belakang. Sesuai jadwal keberangkatan, bus pun melaju menunju Volendam tanpa berhenti untuk mengangkut penumpang. Saya dan dan seorang teman Indonesia dibuat takjub, serasa diantar dengan sopir pribadi sampai Volendam.

Saat saya yang melakukan perjalanan Eurotrip di beberapa negara Eropa, saya sempat ketinggalan kereta menuju Roma dari Pisa karena telat datang ke stasiun hanya selang beberapa menit. Hasilnya saya harus mutar-mutar naik turun kereta untuk sampai ke Roma keesok harinya. Di satu sisi Eropa “menampar” saya berkali-kali untuk lebih menghargai waktu, di sisi lain saya dimanjakan dengan moda transportasi yang tepat waktu hingga waktu saya tidak terbuang percuma.

Kembali ke Indonesia, saat saya bekerja sebagai wartawan di Bandung yang tidak bisa mengendarai motor maka angkutan umum adalah satu-satunya transportasi yang membawa saya keliling kota Bandung untuk liputan. Pekerjaan saya juga menuntut ketepatan waktu. Namun, sayangnya, angkutan umum atau sering saya sebut angkot ini seringkali tidak bisa bekerja sama. Demi menunggu anggot terisi penuh, para supir angkot suka “ngetem” seenak udelnya sendiri. Tidak main-main kadang bisa sampai satu jam. Kalau sudah begini rasanya kepala mengepul ingin meledak.

Pernah suatu kali, angkot berhenti di depan saya saat saya menunggu angkot dipinggir jalan. Kebetulan memenag angkot yang sesuai jurusna saya. Namum, saya meilhat hanya ada beberapa penumpang di dalamnya. Saat si supir menawarkan saya untuk saya naik, saya pun bertanya, “Jalan kan Mang?” (Maksudnya tidak pakai acara ngetem-ngetem). Si supir pun mengiyakan dan saya pun setuju untuk naik ke angkot. Baru beberapa meter jalan si angkot sudah melipir di pinggir jalan. Padahal tidak ada penumpang yang akna turun ataupun naik.

Lima menit berlalu saya pun sudah mulai gerah karena angkot tidak jalan-jalan. Saya melihat beberapa penumpang di dalam angkot pun ada yang sudah mulai bt. Hampir 10 menit berlalu, saya pun akhirnya angkat bicara. “Katanya tadi jalan,” protes saya. “Sebentar Neng. Kalau buru-buru naik yang lain saja,” sahut si supir pengen nimpuk si supir pakai sepatu.

Saya pun segera turun dari angkot dan menunggu angkot lainnya yang sudah agak penuh sehingga tidak ngetem-ngetem buang-buang waktu saja. Masa-masa awal kembali ke Indonesia, persoalan angkot-angkot ngetem membuat saya terkaget-kaget, seolah lupa kalau moda transportasi di Jakarta dan Bandung yang selama ini saya tinggali memang suka membuang-buang waktu. Kalau sudah begini membuat saya sangat merindukan moda transpotasi umum seperti di Eropa. Rindunya bener-benar sampai ke sanubari loh. Kangen banget.

Soal tepat waktu ini juga terkait persoalan janjian sama orang. Sebelum ke Belanda, saya juga bukan tipe orang yang ngaret-ngaret banget. Paling ga kalau janjian jam 2, jam setengah jam atau sejam sebelumnya sudah berangkat. Paling tidak beberapa menit sebelum waktu janjian sudah ada di lokasi. Ya, walaupun, keseringan saya yang menunggu teman-teman saya datang lewat dari waktu yang ditentukan. Ya, kalau ada istilah jam di Indonesia, jam karet ya ada benarnya juga.

Saat saya di Belanda pun semakin dituntut buat semakin tepat waktu. Sekembalinya ke Indonesia, saya semakin dongkol lah kalau janjian sama orang jam 2 tapi sudah jam 2.30 belum juga nonggol. Semakin dongkol juga kalau lagi tugas liputan, jadwal acara jam 9 pagi, sudah dibela-belain datang paling tidak setengah jam sebelumnya ternyata sampai jam 10 belum dimulai juga. Terlebih banyak para pejabat publik yang kerap kali akan jadi keynote speaker di sebuah seminar yang saya liput datang telat. Tidak tanggung-tanggung telatnya bahkan sampai berjam-jam. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menghela napas sambal berujar, “Oh, Indonesia,”

Budaya Mengantri?

Persoalan yang satu ini, akui saja Indonesia semakin jauh terbelakang. Saat saya tinggal di Belanda dan Australia, mau beli makanan, beli tiket, naik kendaraan umum ataupun berjalan di tempat umum semuanya mengantri dengan tertib. Tidak ada yang barbar desak-desakan. Saat saya kembali dari Australia dan transit di Bali, saya sempat terperanga melihat orang sebangsa yang tidak sabar mau dulu-duluan untuk masuk ke pesawat. Padahal petugas pesawat sudah memberikan pengumuman antrian sesuai dengan nomor antrian yang tertera di boarding pass. Saya pun hanya mengelus dada, merasa asing dengan lingkungan sekitar.

 

WhatsApp Image 2018-04-28 at 20.29.12
Antri demi melihat cherry blossom di kebun botani 

 

Belum lagi kalau melihat ganasnya orang-orang di Jakarta saat naik bus Trans Jakarta. Meskipun sudah ada garis berdiri bagi penumpang sebelum naik. Petugas Trans Jakarta juga selalu berteriak-teriak untuk membiarkan penumpang yang ingin turun untuk dipersilakan turun duluan tapi tetap saja ada yang serobot-serobotan. Entah memang orang-orangnya yang dablek atau memang jumlah manusia di Jakarta lebih banyak dari jumlah bus Trans Jakarta.

Begitu pun saat berjalan, di eskalator di bandara. Kalau di luar negeri biasanya orang yang mau berdiri di eskalator berdiri di sebelah kiri (sebelah kanan untuk di Jepang kalau tidak salah) sehingga orang yang sedang berburu-buru bisa menggunakan jalur sebelahnya untuk jalan. Namun, tidak dengan yang saya temui di negara saya tercinta ini. Masih dari bandara.

Pada 2014, sekembalinya dari Australia setelah working holiday selama setahun, saat saya berjalan di eskalator, saya pun harus berkali-kali bilang “permisi” kepada orang di depan saya. Orang-orang di depan seenaknya berdiri memblokir ekslator di kedua jalur. Beberapa bule di belakang saya terdengar mengeluh dengan orang-orang yang berdiri di kedua jalur eskalator sambal asik ngobrol tanpa mempedulikan orang di belakangnya. Saya yang orang Indonesia saja sampai geleng-geleng kepala. Dalam hati bilang, “Welcome back to Indonesia,”

Mind Your Business

Beberapa penjabaran saya diatas mungkin terlihat seolah membandingkan perilaku antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Eropa. Mungkin ada juga yang sebal dan menganggap saya sok-soak kebule-bulean. Entahlah apa ini yang memang dinamakan dengan reserve culture shock. Saya sebagai orang Indonesia merasa asing dengan budaya saya sendiri. Jangan salah, saya masih berstatus warga negera Indonesia dan cinta dengan tanah air Indonesia tapi jujur saya banyak hal yang membuat saya merasa tidak “fit in” di Indonesia.

Salah satu yang bikin saya “gerah” berada di Indonesia adalah semua orang ikut campur urusan pribadi. Dari tetangga sampe orang ga dikenal juga ikut-ikutan ngurusin urusan orang. Pantas saja infotaiment dan berbagai media gosip sangat laku di Indonesia. Selama saya tinggal di luar negeri, saya melihat interaksi diantara para bule-bule yang selalu “Mind Your Business“. Urusin aja urusan lo, jangan ikut campur urusan gue. Kira-kira begitulah kasarannya. Beda, kalau yang punya cerita atau masalah mau cerita sendiri dan minta pendapat. Kalau enggak mau cerita yaudah orang-orang sekampung ga akan ngeributin komen-komen yang malah bikin suasana makin ga enak.

Selain soal perilaku, saya juga merasa susah “move on” dengan banyak hal yang terkait dengan Eropa khususnya Belanda. Mulai dari makanannya yang saya juga tidak sangka, bisa juga saya kangen dengan masakan Belanda yang rasanya jauh kalau dibandingkan dengan masakan Indonesia mah. Selama saya di Indonesia, saya sangat merindu untuk bisa jalan kaki dengan nyaman tanpa perlu khawatir bakal disenggol angkot atau motor di mana-mana.

Rindu menghirup udara segara tanpa bercampur dengan knalpot dan bau-bauan lainnya. Pastinya, saya kangen dengan negara empat musim. Dari musim dingin bikin baper minta diangetin, spring yang bermekaran, summer berjemur pakaian mini tanpa perlu dikomentarin atau disuit-suitin abang-abang dan musim gugur yang cantik dengan daun-daun warna-warni.

Terlepas dari reserve culture shock yang menggelayuti sekembalinya saya dari Belanda, saya merasakan perubahan sudut pandang dalam melihat berbagai hal. Perasaan ini juga dialami oleh teman-teman saya yang sempat tinggal di luar Indonesia khususnya Eropa. Saat saya curhat dengan mereka, kami berada dalam satu persepsi yang sama. Sementara saat saya curhat mengenai persepsi saya kepada beberapa orang yang selama hidupnya tinggal di Indonesia atau bahkan hanya tinggal di satu kota tertentu, saya merasa sudut pandang kami begitu jauh berbeda.

Saya tidak menganggap semua orang yang belum pernah ke luar negeri itu memiliki sudut pandang sempit sedangkan sudut pandang saya lebih luas. Bukan di situ pointnya. Internet sudah berkembang dan menjamur dengan luas. Setiap orang bisa mendapatkan informasi apa saja tapi “perasaan itu” saat kita berada di luar zona nyaman Indonesia yang membedakannya. Perasaan itu sulit dijabarkan dengan kata-kata (walaupun saya berusaha dengan membuat tulisan ini).

Beberapa orang yang saya kenal mengalami reverse culture shock mencoba menghilangkannya dengan membiasakan diri kembali pada budaya Indonesia. Saya sendiri tidak mencoba menghilangkannya dengan mengalami culture shock lainnya.

Travelling dan tinggal di beberapa negara mulai dari Asia, Australia, Afrika dan sekarang di Amerika Serikat membuat saya pun membuka diri dengan semua jenis budaya. I feel fit with place where I live now. No culture shock or reverse culture shock.

One Reply to “#SeriAnakRantau: Saat Gegar Budaya Kebalikan Menyerang”

  1. AKu suka sekali sama postingan ini, karena aku merasakan hal yang sama.
    Sekitar enam tahun aku kerja di perusahaan Belanda, aku banyak dihadapkan sama hal seperti ini. Reverse Culture Shock.

    Saat itu aku pernah dikirim ke Belanda selama tiga bulan dan salah satu pesan dari kolega adalah “pardon our straightforwardness” , tapi saat di sana aku tidak mengalami hal tersebut (being offended with their ‘to the point’ act) – tapi saat kembali ke Indonesia, I felt like I was worst person because I kept offend people with my ‘to the point’ word.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s