Dibalik Layar Buku Anak Rantau Indonesia

Sudah tahu belum salah satu alasan saya dan Pipit bikin blog ini adalah siapa tahu suatu hari cerita kami bisa dibukukan. Niatnya sudah diutarakan dari 2014, tapi sampai sekarang belum ada tuh buku yang terlahir dari “rahim” kami berdua. Hahaha… niat tanpa eksekusi apalah artinya ya kan?

Ah, tapi janganlah kalian mencibir kami dulu. Sebab, buku yang memiliki cuplikan perantauan Efi sudah dibukukan, loh. Fiuh… akhirnya lunas sudah janji pada diri sendiri. Yah, walau buku tersebut masih dikerjakan keroyokan sih, bukan hasil kerja saya sendirian. Tak apa lah ya. Lumayan daripada lumanyun.

Mari kenalan dulu dengan buku Anak Rantau Indonesia: Work and Holiday in Australia.

fc3798d902cf123186b6cedb9f6f4cb3

Sudah kebaca dong dari judulnya buku ini bakal tentang apa. Yo ih sudah pasti tentang pengalaman pemegang Work and Holiday Visa (WHV) di Australia. Masalah pekerjaan, perjalanan, pelajaran, percintaan, pertukaran budaya, pertentangan ideologi, pencarian jati diri, pengorbanan, dan banyak hal lainnya ada di buku ini. Dikarenakan buku ini ditulis oleh 18 orang yang menulis sebebas mereka mau maka banyak sudut pandang yang tentunya mengayakan informasi mengenai WHV di Australia.

Misalnya nih, sudah tahu kan kalau daging yang kita konsumsi di Indonesia sebagian berasal dari Australia. Walaupun bukan negara dengan penduduk muslim mayoritas, Australia merupakan salah satu negara pemasok daging sapi halal di dunia. Seluk beluk penjagalan sapi halal ini diceritakan oleh Ahmad Adib.

Lain lagi cerita Fara Muhammad yang tujuannya ke Australia adalah mencari pekerjaan yang lebih bergaji dibanding di Indonesia. Tujuannya adalah menabung agar bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai bidan dan beralih menjadi cleaner di Australia. Alih profesi yang bertolak belakang tersebut tidak mematahkan semangatnya. Tak menyerah, ia tetap bekerja dan bekerja. Sampai akhirnya dia menemukan cinta. Lah, kok enggak nyambung? Ya emang selalu seperti itu, kan, hidup penuh kejutan.

Kalau kisah Didik Syamsudin lain lagi, sudah harus melintas separuh benua Australia gara-gara iming-iming pekerjaan bagus, eh malah ia terjebak pada janji manis. Mau untung malah buntung. Enlik Tjioe menuliskan cerita yang lucu. Memiliki latar belakang sebagai programer di Jakarta, sesampainya di Sydney ia pun bekerja di perusahaan digital raksasa GOOGLE. Wah, mantab ya! Lalu dimana lucunya? Baca dulu bukunya dong biar tahu dimana letak kelucuannya.

Salah satu tujuan WHV ini, kalau dikutip dari daring imigrasi Australia, adalah pertukaran budaya. Sebelum sampai pada tahap saling bertukar budaya pastilah ada gegar budaya. Kalian yang berjilbab bakal mensyukuri kemudahan berjilbab di Indonesia, tanpa harus dipandang aneh oleh orang lain. Bagi yang cinta makan gaji buta, jangan harap hal serupa bisa dinikmati di Australia. Terbiasa melanggar aturan berlalu lintas di negara tercinta, coba lakukan hal serupa di Australia dan nikmati konsekuensinya.

Buku ini bukan hanya cocok dibaca bagi para calon pemegang WHV, tetapi juga untuk kalian yang ingin tahu seperti apa sih rasanya menyandang status anak rantau di negeri orang. Saya tidak sedang melakukan promosi “kecap saya nomor satu”, loh, tetapi rasa itulah yang muncul saat saya selesai membaca keseluruhan buku ini. Saya pikir saya sudah tahu Australia, tetapi banyak cerita dari teman-teman penulis lain yang membuat saya terus melanjutkan membaca dan berharap bisa kembali tinggal di Australia sebagai anak rantau bukan turis.

Keterlibatan saya dalam proyek ini gara-gara ajakan Arip Hidayat. Pesan pendeknya masuk ke dalam Facebook Mesenger. Ajakan yang kemudian saya iyakan tersebut tercetus pada 2016 silam. Waktu berselang, Arip kembali mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa buku akan segera terbit. Pesan yang saya dapat pada Mei 2018 tersebut membuat saya bereaksi, “HAH! JADI TERBIT?”

Hahahaha…

Buku yang kehadirannya tidak saya sangka-sangka ini bukan panduan bagi kalian yang hendak bekerja dan berlibur di Australia. Tidak pula menjadi acuan ekspektasi di tanah rantau. Mungkin, bagi saya, buku ini pantas dijadikan pegangan bahwa kemungkinan-kemungkinan dalam hidup itu berbagai rupa bentuknya. Dan, tidak sedikit di antaranya akan mengejutkan kita.

Farid Firdaus dalam akhir tulisannya di buku ini bilang: …terbukalah dengan berbagai kemungkinan. Rencana bolehlah
kalian susun matang dan rapi jali. Namun jangan lupa bakal ada kejutan di tiap babak. Kala itu terjadi, biarkan hidup mengejutkan kita.

Baiklah, selamat membaca dan bersiaplah menyambut kejutan dalam hidup!

 

Iklan

7 Replies to “Dibalik Layar Buku Anak Rantau Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s