#CelotehTukangJalan: Biar Beda Ladang, Rasa Seramnya Tetap Sama

Ibu saya selalu bilang janganlah pernah takut akan makhluk gaib karena pada dasarnya mereka tidak bisa berbuat aneh kepada manusia. Seharusnya, lanjut ibu, yang paling harus ditakuti adalah manusia jahat. Kalau mereka sudah niat, bisa hilang nyawa kita. Duh, serem ya…

Sebagai orang yang punya muka lempeng dan terkesan “strong” sebenarnya saya ini termasuk cemen. Tapi cemennya enggak ke manusia, seperti anjuran ibu saya, tetapi sama yang gaib-gaib. Pernah yah, sewaktu masanya begal lagi ramai di Jakarta, saya masih dengan santainya berkendara malam hari. Cerita-cerita yang beredar di lini masa soal kekejaman komplotan penjahat itu, saya cuma “ya ampun serem ya!” Ya udah gitu saja, saya enggak gentar sedikit pun untuk tetap pulang malam.

Lain cerita saat saya berkendara dengan seorang teman. Saat kami melewati sebuah lampu merah yang tak jauh dari TPU Karet Bivak, teman saya bertanya seraya menenangkan diri. “Fi, lo lihat ibu-ibu yang berwarna hijau tadi?”

Sebenarnya pertanyaan itu juga ada di kepala saya, tapi enggan dikeluarkan. Karena apa? Ya biar saya tetap konsentrasi menyetir dan tidak berpikir aneh-aneh. jadi gini ya, saat itu memang lampu hijau yang sedang menyala dan mungkin sinarnya memantul ke baju si ibu itu. Tapi pantulannya tuh terang banget. Kebangetan malah, makanya menarik perhatian kami.

Oleh karena itu, untuk pertanyaan teman tersebut saya cuma bisa mengiyakan dan berjanji enggak pulang malam lagi. Ya kan serem kakaaaak…

Soal kecemenan ini sudah saya sadari sedari duduk manis di bangku SMA. Biasalah ya kalau kita gabung dalam ekstrakulikuler di sekolah pasti adalah penataran dan pelantikan. Sebagai calon anggota PMR, saya pun harus melakukan rangkaian pentaran tersebut. Awalnya sih, santai-santai saja. Keadaan berubah ketika sesi jurid(g) malam dimulai. Kami diharuskan menguji nyali dengan masuk ke kompleks pemakaman untuk mengambil syal yang ditaruh di beberapa batu nisan.

Ya Tuhan saya langsung nangis dan memohon pada kakak senior lebih baik saya tidak menjadi anggota daripada harus masuk menjelajah kuburan. Ku tak sanggup, sungguh.

Makanya sejak saat itu saya paling anti untuk tahu soal cerita horor. Ajakan nonton film yang berbau horor pun saya tolak. No, thank you! Prinsip saya, semakin sedikit saya tahu semakin saya tidak takut. Tapi, yhaa… namanya anak muda hidup penuh tuntutan untuk tampil keren, suatu hari saya pun mengiyakan menonton film horor dari seorang teman. Saat itu saya sudah kuliah dan pada awal tahun 2000-an film horor Thailand sedang booming. Jadilah saya dengan deg-degan menonton demi tuntutan zaman. Namun, sungguh hal tersebut membuat saya ketakutan setengah mati ketika suatu kali saya berada di Thailand.

10390538_10203768781237966_8742994750190224589_n

Malam itu saya menginap di pinggir Sungai Mekong, karena saya harus melakukan visa run ke Laos keesokan harinya jadi saya pilih penginapan yang dekat dengan perbatasan. Saat itu, kebetulan sedang minim turis jadilah penginapan saya sepi. Kamar yang saya dan teman perjalanan pilih adalah sebuah ruangan yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun kelapa. Suasana tropis di penginapan tersebut cukup kece dilihat saat siang hari. Namun, saat malam agak mencekam apalagi penerangannya minim.

Teman perjalanan saya memilih untuk berkutat dengan laptopnya di ruang rekreasi, sementara saya memilih rebahan di kamar. Tetiba hujan turun. Angin kencang pun ikutan datang. Lampu yang menggantung di plafon kamar bergoyang. Saya mulai merasa tak enak. Tetiba sekelebat memori adegan seorang penari tradisional dalam sebuah film horor Thailand. Keberadaan penari di film tersebut memang memiliki sosok yang menyeramkan.

“Wahgelasih kalo itu penari ada di luar gimana, nih?” pikir saya saat itu.

Meskipun cemen, tapi kadang saya menjunjung tinggi harga diri, terutama di depan mata teman perjalanan. Walaupun sudah merinding ketakutan saya enggak memanggil si teman perjalanan untuk balik ke kamar. Saya coba menguatkan diri dan berupaya berpikir jernih. Tetiba keberanian di dalam diri membuncah karena saya tahu kalaupun si hantu Thailand berusaha menakut-nakuti, pasti tak akan mempan karena bakal ada miskomunikasi, saya tidak berbahasa Thailand pun saya yakin dia tidak berbahasa Indonesia maupun Inggris.

Huahahaha… sumpah saya lega, terselematkan oleh perbedaan budaya.

Pengaruh film terhadap tindakan orang itu kadang besar juga ya wan kawan. Misalnya nih, di kalangan backpacker di Australia jarang banget ngebahas film Wolf Creek 1 dan 2. Sudah pernah nonton belom? Kalau belum, baca ulasannya di sini dulu deh. Tapi yang saya ulas cuma Wolf Creek 2 yang kata sebagian orang tidak seseram yang pertama. Duh, nonton yang kedua saja saya sudah gemeteran apalagi yang pertama.

Seperti yang sudah saya jelaskan di ulasan, kalau film ini pantang banget ditonton sebelum ke Australia. Saya yang sekadar mendengar cerita orang-orang saja langsung tutup telinga. Prinsip saya kan tetap: semakin tidak tahu semakin tidak takut.

Walaupun cuma sepotong-sepotong cerita yang saya dengar, tetap bikin saya waspada selama di Australia terutama saat harus tidur di dalam mobil. Pisau selalu saya taruh dekat dari jangkauan tangan. Selain itu, setiap mau melakukan perjalanan panjang saya selalu berharap mobil saya tidak mogok di antah berantah. Huhuhuhu sungguh ku takut, tak mau bernasib sama seperti karakter di film itu. Benar juga apa yang dibilang ibu, kalau manusia terkadang lebih seram dibanding hantu. Hiiii….

Australia dengan predikatnya sebagai negara maju memang selalu dianggap “wah”, ya memang sih, kalau kalian mampir ke kota-kota besarnya. Semuanya serba megah. Tapi, cobalah mampir ke kota yang lebih kecil, dan kalau ada kesempatan mampir ke pedalaman Australia. Saya jamin kalian bakal menganga. Jumlah penduduk Australia cuma 20-an juta. Dari jumlah yang tidak seberapa banyak itu 80% di antaranya mendekam di kota-kota besar dan pesisir pantai barat dan timur.

2

Sudah pasti bisa kalian tebak kalau kota-kota kecil di pedalaman Australia bakal sepi penduduk. Saya pernah tinggal di Witton yang jumlah penduduknya cuma 250 jiwa. Kriik… kriik… krik banget deh. Kadang nih, jarak antar rumah itu jauh-jauhan banget. Apalagi kalau tidak tinggal di pusat kota.

Saat saya tinggal di Bundaberg, tetangga yang benar-benar dekat cuma terhalang jalan raya, sementara rumah yang lainnya berjarak 200 meter. Namun, rumah depan itu tak berpenghuni. Kata Bos tempat saya bekerja, Si Istri meninggalkan rumah tersebut tak berpenghuni beberapa saat setelah suaminya bunuh diri. Tempat bunuh diri pilihan Si Suami adalah tiang listrik di depan rumah tempat saya tinggal. YA TUHAN!!!

Bukan cuma itu, Bos saya bercerita kalau rumah yang saya tinggali saat itu sebelumnya dimiliki oleh seorang nenek tua yang meninggal di dalam rumah, tepat di depan pintu masuk. Duh, ngeuri… Sekadar info saja nih, rumah yang saya tinggali merupakan rumah ala queenslander, semacam rumah panggung terbuat dari kayu. Rata-rata umur rumah quenslander itu sudah menyentuh angka ratusan tahun.

Mendengar cerita itu, saya cuma cengar-cengir. Takut sih, sedikit tapi. Sampai suatu kali, setelah pulang kerja, ketika baru membuka pintu, saya dan teman-teman serumah yang juga satu tempat kerja mendengar TV di ruang tengah sudah menyala. Kami saling bertatapan karena kami dengan sangat-sangat sadar kalau TV dalam posisi mati saat kami berangkat kerja.

Kami cuma diam, tapi kami saling tahu apa yang ada di kepala masing-masing tanpa harus mengeluarkan sepatah kata pun. Sejam kemudian Bos kami datang menjemput, kebetulan hari itu adalah hari belanja dan Si Bos akan mengantar kami ke suparmarket terdekat. Saya yang biasanya tidak ikut pergi, langsung ambil posisi duduk manis di kursi belakang mobil.

2016-09-03-14-54-48
Tiang listrik di sisi kanan jalan merupakan TKP bunuh diri

Bos: tumben ikut…
Saya: Oh iya butuh sesuatu
Teman 1: Bohoooong… Dia ketakutan soalnya TV menyala sendiri
Bos: Ya elah… tadi kan listrik mati. Saat kembali hidup, TV akan otomatis menyala sendiri
Saya: -__-

Hahahahaha… ternyata ketakutan saya tidak ada pangkalnya. Namun, memang sering banget kita berhalusinasi dan kenyataannya sungguh jauh berbeda. Misalnya nih, beberapa waktu lalu saya sedang berkendara motor malam-malam. Tiba-tiba saya melihat rambut panjang menjuntai di pinggir jalan. Kalau tidak ingat sedang berada di Kolombia saya pasti sudah menjerit “kuntilanaaaaak!” Tapi enggak mungkinkan Indonesia mengimpor hantu?

Selang beberapa saat saya bisa kembali berpikir jernih dan sadar kalau si empunya rambut tak lain dan tak bukan adalah seekor kuda yang lagi berkeliaran. Maklumlah saat kejadian saya sedang berada di daerah tak berlampu jalan, pun warna kuda yang gelap membuat dirinya tak terlihat jelas pada malam hari. Jadi yang saya lihat adalah rambut ekor kuda.

Saya pun menceritakan soal ilusi ekor kuda dan kuntilanak ke Si Abang. Saya juga menjelaskan jenis hantu macam apa si kuntilanak itu. Respon yang diberikan Si Abang membuat saya menyesal telah bercerita,”oh di sini juga ada yang seperti itu, namanya La Llorona (baca: jorona – Si Tukang Nangis). Biasanya dia nangis di pinggir jalan mencari anaknya yang hilang. Rambutnya panjang warna putih.”

tenor

HUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHU

Apa salahku harus mendengar penjelasan semacam itu?

Sumpah deh, hidup saya sudah sangat aman tanpa tahu cerita aneh-aneh. Walhasil sekarang saya was-was ketika malam menjelang. Soalnya, La Llorona munculnya malam hari dan siapa yang mendengarnya menangis akan ketiban sial bahkan bisa berujung pada kematian.

Si Abang bilang kalau La Llorona ada di Kolombia, sampai saat ini sih saya belum menemukan cerita rakyat La Llorona di sini. Yang saya tahu si hantu satu ini berasal dari Meksiko. Apa iya, si doi tidak berhasil menemukan anaknya di Meksiko dan memutuskan untuk mencari mereka ke selatan?

Auk ah, saya cuma berharap La Llorona segera bertemu dengan anak-anaknya sehingga mereka bisa meninggal dengan tenang dan manusia yang masih hidup pun tak perlu lagi gusar bertemu dengan arwah penasaran.

Boleh di-amin-kan tidak harapan saya di atas?

——

Psst,,, tulisan ini merupakan posbar (yang saya uploadnya telat banget) #CelotehTukangjalan. Cerita man teman saya yang lain bisa dibaca di blog merea masing-masing. Klik aja ya di nama-nama berikut ini: Dita, Nita, Jawa.

 

5 Replies to “#CelotehTukangJalan: Biar Beda Ladang, Rasa Seramnya Tetap Sama”

  1. Bahahahaha inget banget itu film yg ada penari Thailand. Serem sih emang.. Ditto tuh ya kan suka sok-sokan begaya kayak itu penari.. 😂😂 Fiiii, itu yang di Ostrali kok ngeriii yaaa.. Ada yg bunuh diri segala di tiang listriknyaaa..

  2. Ternyata, kuntilanak bukan hantu khas Indonesia ya, ada juga di Amerika Latin. Tetapi, bagaimana dengan pocong? Saya yakin, itu adalah hantu khas Indonesia yang susah diclaim oleh negara lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s