Mengenal Indonesia Lewat Festival Indonesia

Sudahlah jangan tanya berapa kali saya nelangsa saat orang Kolombia tidak tahu dimana letak Indonesia. Setiap menjawab pertanyaan mereka soal negara asal, saya harus perhatikan reaksi mereka setelahnya. Jika menampilkan gelagat pura-pura tahu saya harus memberikan pelajaran geografi singkat soal Indonesia.

“Indonesia terletak di Asia, dekat dengan Thailand. Tahu Australia? Nah, Indonesia itu tetangga utaranya benua tersebut.”

Kalau penjelasan di atas belum diterima dengan baik ya sudah, saya diam saja. Tak ada guna panjang lebar menambah informasi keindonesiaan kepada orang yang hanya mengasosiasikan Asia dengan China dan Jepang saja. Lelaaaaah…

Sebenarnya bukan barang baru sih, kalau banyak orang di luar negeri yang tidak tahu banyak perihal Indonesia. Ya umumnya sih, mereka yang tidak berpendidikan tinggi, tidak pengaruh asal negaranya. Sebab, siapa sih yang tidak tahu seberapa mapannya negara Australia itu? tapi tetap saja saya pernah bertemu seorang aussie yang mengernyitkan dahi sambil berkata, “Indonesia itu dimana?” Oh baiklah, padahal sebelahan.

Saya enggak sedang mengeluh soal betapa tidak terkenalnya Indonesia, ya memang pada dasarnya kan memang semua orang tidak perlu tahu soal negara asal tercinta itu. Maksudnya gini, Kolombia dan Indonesia itu kan berjauhan secara geografis dan budaya. Jadi ya anggap santai saja kalau orang Kolombia tak tahu menahu soal Indonesia. Toh, orang Indonesia pun masih sering nulis KolUmbia (bukan karena typo).

Banyak yang bilang setiap WNI adalah duta Indonesia di luar negeri. Saya enggak terlalu memegang omongan tersebut. Loh, kok gitu? Iya, hidupku sudah penuh dengan tanggung jawab pribadi, eh ini harus menanggu beban skala negara. Lelaah lagi. Hehehe…

Meski demikian ketika 11 Agustus yang lalu saya ikutan repot dalam acara Festival Indonesia 2018 yang diadakan KBRI Bogota, saya otomotis memosisikan diri sebagai duta Indonesia. Wohoooo gak perlu ikut kontes miss-miss-an tapi tetap tanggung jawabnya enggak beda jauh.

Festival Indonesia 2018 diadakan masih dalam rangkaian perayaan HUT Indonesia ke 73. Di beberapa negara lain festival ini sering banget diadakan, sementara di Kolombia baru kali pertama. Acara dilaksanakan di Wisma Indonesia (rumah kediaman duta besar Indonesia) di Bogota. Kegiatan dimulai sekira pukul sembilan dan diawali dengan kata sambutan dari Pak Priyo Iswanto, duta besar Indonesia untuk Kolombia. Duh, hati ini agak kebat-kebit. Apakah acara ini akan formal dan kaku seperti acara yang digarap orang-orang pemerintahan sebelumnya.

Hah! ternyata saya salah saudara-saudara! Sambutannya terasa santai, ketakutan saya pun hilang.

Saya ceritakan inti kata sambutannya ya, mau ya? Intinya saja, kok, soalnya (menurut saya) penting. Jadi ya, kata Pak Priyo, festival ini diadakan untuk mendekatkan Indonesia kepada masyarakat Kolombia. Disebut juga walau jauh secara jarak, Indonesia dan Kolombia memiliki beberapa kemiripan yang tidak disadari. Misal, ada beberapa permainan tradisional yang serupa, minuman yang juga memiliki kemiripan rasa, tarian pun juga bisa dimirip-miripin dan beberapa hal lainnya.

Festival Indonesia memang merupakan ajang promosi Indonesia untuk warga negara asing. Beberapa waktu yang lalu saya baca status Facebook Si Mbok Olenka backpackology soal soft and hard diplomacy. Menurut Mbok Olen, setiap negara pasti melakukan diplomasi tapi enggak melulu dengan cara invasi, embargo, sanksi dan lain sebagainya (hard diplomacy). Mereka juga bisa memberikan beasiswa, melaksanakan pertandingan olah raga skala internasional, dan juga pertukaran budaya (soft diplomacy). Nah, menurut saya Festival Indonesia pun merupakan soft diplomacy. Halus dan mengena. Eh, bukan karena saya orang Indonesia ya jadinya berpendapat bagus-bagus. Tetapi, kenyataan di lapangannya memang demikian.

Sini, sini, saya ceritakan detilnya ya kenapa Festival Indonesia 2018 itu bisa dikatakan berhasil memikat hati pengunjung yang kebanyakan masyarakat Kolombia

Pameran Instrumen Musik dan Kain Tradisional

18

Orang Indonesia mah, sudah pasti tahu ya kalau dari ujung barat ke ujung timur tiap daerah punya budayanya masing-masing. Tak heran kalau alat musik tiap-tiap daerah pasti berbeda-beda. Tak hanya itu semua kain yang membalut tubuh manusia Indonesia di provinsi Sumatera Selatan memiliki corak yang berbeda dibanding penduduk Jawa Tengah.

Nah, dalam festival ini dipamerkan beberapa alat musik seperti kendang dan gamelan. Pun beberapa kain batik serta sarung khas Samarinda juga ikut dipamerkan. Banyak yang terkagum-kagum dengan corak batik yang dipamerkan. Bahkan ada loh yang mau beli kain tersebut. Sayangnya batik masih jarang ditemukan di Kolombia.

Ada yang berminat jualan?

bogota tour

Permainan Tradisional yang Memiliki Kemiripan

Meskipun Kolombia merupakan negara terjauh yang bisa ditempuh dari Indonesia, ternyata kedua negara ini sama-sama memiliki kemiripan terutama di beberapa permainan tradisional.

Di Kolombia ada carrera de costales atau yang biasa disebut balap karung. Lomba bawa kelereng pakai sendok juga ada loh, tapi di sini kelerengnya diganti dengan telur. Beuuuraaaaat…

15

Tidak hanya itu, lomba layang-layang dan gasing juga ada di sini.

Sajian Makanan Khas Indonesia

16

Apalah arti hidup ini tanpa makanan enak, ya kan?

Dan, makanan Indonesia itu memang enak-enak, baik yang terbuat dari bahan-bahan segar maupun yang bermandikan micin.

SAYA GENERASI MICIN!!!!! hihihihi…

Seneng banget deh saya bisa datang ke Festival Indonesia kali ini karena ada sajian mie goreng yang memang selera gue banget. Plus ada sate maranggi yang berbalur kecap manis serta bawang mentah. Duuuuhhhh… ena-ena sekali.

Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang Kolombia yang icip-icip mie goreng, mereka suka banget dengan mie yang satu itu. Rasanya nikmat dan berbeda dengan mie instant yang sudah beredar di Kolombia.

FYI, di Kolombia tidak ditemukan mie goreng instant asal Indonesia. Kayaknya persebaran mie itu mandek di Amerika Utara, mudah-mudahan si produsen akan segera turun ke selatan dan ku akan menyambutnya.

14

Tarian dan Pertunjukan Musik

Menari adalah bagian dari kehidupan orang Kolombia. Apa pun jenis musiknya mereka pasti bergoyang. Maka tak heran kalau mereka menikmati benar sajian tarian dan musik yang ada di Festival Indonesia.

Untuk tarian, mereka diajak memecahkan rekor tari poco-poco massal di Kolombia. Kabarnya nih, pesertanya menembus angka 300 orang. Wuiiih banyak juga.1713

Penampilan tarian dari Aceh (yang saya ragu apakah namanya Saman atau Ratoh Jaroe) juga memukau pengunjung. Tapiiii,,, gongnya sih saat lagu dangdut didendangkan oleh teman saya si Handi. Jago juga dia nyanyi.

View this post on Instagram

Festival Indonesia 2018 tahun ini, mengusung misi salah satunya adalah untuk mengenalkan Musik Dangdut sebagai musik asli Indonesia kepada masyarakat Kolombia..Terimakasih @visitaindonesia atas kesempatan yg diberikan sehingga saya bisa bekerjasama dengan musisi asal Kolombia membawakan beberapa lagu Dangdut paling hits😁😁. Misi berhasil para penonton banyak yg gak jaim buat joget Dangduttttt….Tarikkkk Mangggg….. @indomusikgram @musikindonesia.id #dangdutisthemusicofmycountry #terajana #therealband #coverlagudangdut #unacanciondedangdut #bailar #festivaldeindonesia2018 #embajadadelarepublicadeindonesia #11agustus2018 #menyambuthutrike73 #nasibperantau #sibotakboninyanyi #festivalindonesiabogota

A post shared by sibotakboni (@sibotakboni) on

Awalnya nih hanya orang Indonesia saja yang berjoget. Yah, buat pancingan gitu deh. Duh, sepi banget tidak ada WN asing yang melantai. Apa mungkin mereka kalem karena mendengar lagu Begadang dan mereka takut ditegur Om Oma kalau berjoget berlebihan?

Suasana memanas saat lagu Terajana dan Sayang didendangkan. Satu persatu banyak WN asing yang berjoget dangdut. Keadaan tambah panas saat kompetisi joget dangdut dimulai. Ya ampun itu semua orang pada kayak kesetanan joget. Pun ada yang berjoget saldut, perpaduan tarian khas Kolombia yaitu salsa dengan iringan musik dangdut.

Btw, saya itu kan enggak bisa joget ya, tapi entah apa yang merasuki saya saat itu, eh malah ikut-ikutan joget. Ah, iyalah dangdut is the music of my country!

*

Kalau boleh menilai nih, walau baru sekali diadakan Festival Indonesia ini cukup meninggalkan bekas di hati beberapa orang. Uhuk… maksudnya saya sendiri. Eh, enggak ding. Pastinya di hati-hati para pengunjung yang merupakan warga Kolombia.

Siapa sih yang tidak menikmati kegiatan yang punya banyak hal yang ditawarkan. Mulai dari makanan, musik, tarian, dan kesenian lainnya. Yah, mungkin masih ada kekurangan di sana-sini tapi sejauh yang saya lihat masih bisa ditolerirlah. Salut juga dengan staf KBRI Bogota yang orangnya cuma itu-itu doang tapi bisa melakukan pekerjaan besar seperti kemarin.

Semoga yah, kegiatan ini bakal jadi acara tahunan dengan kegiatan yang lebih seru dan menarik supaya makin banyak yang kenal Indonesia.

Oh iya, saya juga berharap agar tahun depan tidak hanya WN asing yang bisa ikutan door prize perjalanan ke Indonesia dari Kolombia. Saya juga mau ikutan. Huhuhu kuingin pulang biar bisa makan mie instant dan sate sebanyak-banyaknya sambil dengerin lagu dangdut sepuas-puasnya.

Iklan

7 Replies to “Mengenal Indonesia Lewat Festival Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s