Ada Rahasia Dibalik Kenikmatan Sancocho

Bagi sesiapa yang datang dari Indonesia ke Kolombia pasti bakal melontarkan komentar yang senada soal makanan khas Kolombia; HAMBAR. Saya pun berpendapat yang sama. Patut tahu supaya tak salah sangka, saya bukan golongan etnosentris dan selalu mengagungkan Indonesia. Tetapi kalau untuk perihal kekayaan makanan khas, Indonesia memang cukup superior.

Selama dua tahun di Kolombia saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memasak ketimbang makan di warung. Selain bisa berhemat, saya jarang merasa puas kalau makan di luar, bukan karena porsinya tetapi karena rasanya.

Dikarenakan selalu berusaha untuk bertutur jujur walau itu pahit, setiap ditanya oleh orang Kolombia apakah saya suka makanan mereka, jawaban saya cuma, “esta bien” — ya OK OK saja! Ya karena rasanya memang tak wow mantab gitu. Biasanya saya menjelaskan soal bagaimana makanan di Indonesia yang kaya akan rempah, hal ini yang tidak banyak ditemukan pada kuliner Kolombia.

Saya tinggal di Departemento (semacam provinsi) Valle Del Cauca (baca: baje del kauka). Makanan khas departemento ini adalah sancocho (baca: sangkoco). Penduduk departemento ini selalu tergila-gila akan sancocho. Saya beberapa kali mencobanya di warung langganan milik Dońa Heide. Sedikit informasi, Dońa Heide ini jago banget masak, selalu sedap deh menu racikannya. Namun demikian sancocho buatan wanita itu tidak membuat saya paham mengapa penduduk Valle Del Cauca sangat bangga akan menu yang satu itu.

Maaf. Tapi menurut saya biasa saja. Penyelamat makanan satu itu, buat saya, adalah aji picante (baca: ahi pikante–“e” dilafalkan seperti mengucapkan “ember”) sambal asam pedas yang dibuat dari potongan tomat, seledri, daun bawang, sedikit cabai dan disiram dengan jeruk lemon.

Baru-baru ini saya menyadari adanya kesalahan dalam penilaian yang sudah dibuat. Sancocho bukan sekadar semangkuk sup panas di atas meja. Ada rahasia umum yang tidak saya ketahui tentang bagaimana menemukan kenikmatan seporsi sancocho.

4

Sampai sekarang saya sudah dua kali menikmati sancocho terenak dalam hidup. Dan dari dua kesempatan tersebutlah saya tahu rahasia umum yang tak pernah saya ketahui sebelumnya.

1. Sancocho lebih nikmat disantap ramai-ramai. The more the merrier.
2. Gunakan kayu bakar untuk masak sancocho.
3. Lokasi menentukan prestasi, sancocho paling nikmat disantap di samping sungai.

Ada satu lagi rahasia yang sepertinya hanya saya seorang yang tahu, dan sekarang kalian akan tahu juga. Proses pemasakan sancocho butuh waktu berjam-jam. Karena lamanya waktu masak ini akan membuat kita akan kelaparan. Sudah tahu dong, makanan apa saja akan terasa nikmat disantap saat perut kosong? El hambre es la mejor salsa, perut yang lapar adalah sambal terbaik. Hihihihi

bogota tour (1) (1)

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan teman dan kami memasak sancocho di samping sungai. Teman-teman kami sangat sigap dalam menyusun tungku tempat memasak menggunakan batu sungai. Sebagian dari mereka juga mencari kayu bakar yang berserakan dekat sungai. Melihat gerak-gerik mereka, saya menjadi paham kalau mereka sudah terbiasa menjadikan acara makan sancocho sebagai alat rekreasi.

5

6

Sumpah sancocho buatan kami saat itu sangatlah nikmat. Saking enaknya saya dan Si Abang selalu cerita ke orang lain soal pengalaman kami itu. Dan, saat lawan bicara kami tahu kalau sancocho itu dimasak dengan kayu bakar di samping sungai mereka langsung bilang “oooohhhhh” sambil menelan ludah.

1

3

2

Sudah saya jelaskan di atas kan, kalau makanan Kolombia tidak kaya akan rempah? Sancocho merupakan salah satu buktinya. Penganan yang satu ini hanya membutuhkan daging, singkong, pisang tanduk hijau, kentang, kentang kuning kecil (papa amarilla), cimaron, daun ketumbar, garam, dan aracachas. Dan cara memasaknya pun gampang sekali, semua bahan dipotong-potong dengan pisau, kecuali pisang tanduk yang harus dipipil dengan jari dan aracachas harus diparut, dan masukan ke dalam panci. Aduk sesekali sampai daging empuk.

7

8

9

10

Varian sancocho pun ada beberapa, tergantung daging yang digunakan. Sancocho trifásico menggunakan daging babi, daging sapi, dan ayam. Sementara sancocho gallina (baca: gajina) menjadikan ayam betina sebagai daging utamanya. Ada juga sancocho de pescado (baca: peskado) terbuat dari ikan. O iya, di beberapa restoran dan rumah makan mereka menyediakan sancocho en leńa, dimasak dengan kayu bakar, pada hari-hari tertentu. Jikalau kalian datang pada hari yang tepat, saya sarankan untuk mencobanya.

Duh, jadi pengen sancocho-an lagi. Ada yang mau? Yuk, main ke tempat saya. nanti kita masak bareng-bareng. Bukan, bukan saya yang masak, nanti biar teman-teman saya saja yang repot. Kan, bukan hanya rasa lapar yang bikin kita rasa masakan enak, tetapi juga ketika dimasakin. Setuju dong?

 

Iklan

6 Replies to “Ada Rahasia Dibalik Kenikmatan Sancocho”

  1. Membaca uraian di atas, Sancocho akan lebih nikmat kalau di masak pakai kayu, di pinggir sungai, bersama teman, dan taburan merica, garam, cengkeh, daun sereh, plus micin 🙂 Tetep saja ya, lidah Indonesia 😀

  2. Aku kalo nemu makanan hambar, kasih cabe rawit aja rasanya udah nikmat banget haha. Makan rame-rame ya emang enak, apalagi pemandangannya kayak gitu. PATEN KALI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s