#CelotehTukangJalan: Traveling dan Kuliner Favorit

Alasan mengapa traveling mengasyikan adalah kemungkinan tereksposnya indera kita dengan segala hal yang berbeda. Ya, penyegaranlah. Nah, buat saya traveling juga memungkinkan untuk mengecap rasa makanan baru yang ditawarkan tempat berkelana kita itu.

Buat saya yang sehari-hari harus masak sendiri, bisa mencicip makanan racikan orang lain adalah anugerah. Plus, saya tak perlu repot membersihkan peralatan masak dan makan sesudahnya. Hihihi…

Berhubung bujet yang terbatas, biasanya saya mengincar penganan kaki lima. Warung kecil pun menjadi opsi lainnya. Selain ramah di kantong, tempat-tempat seperti itulah yang biasanya punya cita rasa otentik.

Nah, kalau untuk urusan penganan kaki lima, buat saya, Thailand adalah rajanya. Variasinya sangat beragam plus rasa olahannya sesuai dengan lidah saya.

Khao Soi Sang Jawara

Sebutlah pad thai, som tam (papaya salad), mango sticky rice, dan tom yam gong sebagai ikon kuliner negeri gajah putih. Namun, permisi, buat saya khao soi menduduki peringkat pertama makanan Thailand favorit saya.

Pertama kali saya mencoba kenikmatan khao soi adalah ketika berkunjung ke Chiang Mai. Berbekal informasi dari internet, mulailah saya berburu khao soi. Ternyata apa yang dideskripsikan dalam artikel yang saya baca sangatlah tepat. Khao soi memang nikmat.

Baca juga: Memanjakan Lidah dengan Kuliner Thailand

Sama seperti Indonesia, tiap regional di Thailand memiliki cita rasa kuliner yang khas. Sajian mie berkuah sangatlah mudah ditemukan di seantero Thailand. Namun racikannya ternyata berbeda baik mie kuah dari Utara dibanding dari Selatan negeri siam ini.

Pokiknya harus coba khao soi!

Nah, yang membedakan khao soi dengan mie kuah lainnya di Thailand adalah kuahnya yang bersantan dan kaya akan rempah. Mie yang digunakan untuknl sajian satu ini adalah mie kuning, sedangkan daging pelengkapnya bisa dipilih antara ayam, bebek, atau babi. Favorit saya adalah bebek. Dagingnya yang legit terasa sangat lezat saat disantap dengan kuah santan yang nikmat.

Kelezatan khao soi semakin bertambah dengan irisan acar bawang merah. Perasan jeruk nipis pun menambah kesedapan mie satu ini juga menurunkan level “berat” kuah santan.

Saat pertama kali mencoba khao soi di pasar tradisional yang berada tak jauh dari kawasan kota tua Chiang Mai, sensor perasa di lidah saya memberikan sinyal kepada otak: eh, ini loh rasanya seperti mie aceh!

Ya memang, khao soi ini sekilas rasanya mirip mie aceh yang juga kaya rempah. Hanya saja mie ini tidak didampingi emping, melainkan kriuk-kriuk seperti mie kering.

Duh, saya jadi ingin kembali ke Chiang mai untuk berburu khao soi seperti Mark Wiens.

Barbie Asik ala Australia

Kenangan kenikmatan kuliner saya bukan melulu soal enaknya suatu makanan, tetapi juga soal bagaimana makanan tersebut dibuat dan dihabiskan.

Australia memang sebuah negara yang nyaman untuk ditinggali. Untuk hal itu, saya mau bertepuk tangan untuk pemerintah negeri kangguru tersebut yang bersusah payah memberikan fasilitas yang baik untuk penduduknya. Salah satunya adalah barbecue plate yang mudah ditemukan di tempat publik seperti taman kota, taman nasional, tempat kemah, dan lain-lain. Dan, umumnya fasilitas tersebut bebas digunakan tanpa bayaran. Kita cuma harus membersihkannya setelah dipakai.

Keberadaan barbie buat saya yang pernah hidup pas-pasan adalah suatu berkah. Berbekal papan panas tersebut, saya bisa menghemat pemakaian gas untuk memasak. Cukup berbekal sosis atau daging murah yang ditaburi garam dan lada, irisan bawang bombay, sayur, dan juga roti maka siaplah seporsi roti isi. Membuat telur mata sapi pun bisa dilakukan di atas papan barbecue.

Taruh semua di atas papan barbecue sampai matang

Barbie alias barbecue lazim dilakukan oleh aussies (sebutan untuk penduduk Australia, kecuali aboriginal yang biasanya dipanggil “abo”). Mungkin karena alasan itulah barbecue plate tersebar dimana-mana. Saya sendiri belum pernah mencicipi barbecue ala Australia yang W.O.W. Namun, tak masalah, karena barbie tidak melulu soal apa yang ada di atas pemanggang, tetapi dengan siapa kita menghabiskannya.

Yes, barbie, menurut saya, adalah kegiatan komunal untuk para keluarga maupun teman sejawat. Berkumpul makin asik sambil makan toh?

Menyantap barbecue di pinggir pantai menjadi aktivitas seru tiap akhir pekan

Baca juga: Foya-Foya Setelah Australia

Kalau di Indonesia ada tidak yah budaya seperti barbie? Bukan nyate yah. Sebab nyate biasanya dilakukan pada kejadian-kejadian khusus seperti perayaan tahun baru atau Idul Adha, sementara barbie bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu alasan khusus.

Berbicara soal barbie saya jadi ingat saat seorang kolega mempersiapkan barbie sehari sebelum saya purna bakti. Sambil membolak-balik sosis, dia menatap saya dan berkata, “do not tell anybody that aussies don’t treat you well.”

Barbie paling sederhana terdiri dari sosis, bawang bombay, dan salad.

Segaris senyum tersungging di mulutnya yang hanya bisa saya balas dengan senyuman dengan pipi sedikit memanas.

You’ve treated us well, Mate. I appreciate it. Thanks heaps!”

Memori Kari Terpatri di Hati

Mengetahui akan menapaki India, hati saya riang bukan kepalang. Negara yang satu itu memang selalu saya bayangkan untuk bisa disambangi. Tidak ada alasan khusus, saya hanya ingin pergi ke sana.

India merupakan negara yang bikin saya geleng-geleng kepala, eits bukan karena saya berhasil meniru gestur masyarakat sini ya. Melainkan keunikan di segala lini yang bikin saya suka dan benci sekaligus dengan India. Namun, jika ada kesempatan saya tidak akan menolak untuk kembali ke India, the incridible India!

Aneka bumbu masak khas India. (Pexels/ Eduardo Colombo

Banyak alasan mengapa saya ingin kembali ke tanah hindustan tersebut. Salah satunya adalah saya ingin kembali merasakan kenikmatan racikan kari buatan Joobi (baca: juubi). Nama yang saya sebut itu adalah seorang pekerja di tempat tuan rumah saya di Kerala waktu itu

Baca juga:Diinterogasi “Inspektur Vijay” di India

Joobi sangat handal dalam mengolah kari. Saat itu kami berada dalam musim hujan. Saking lebatnya curah hujan, tak ada sayuran hijau yang bisa kami konsumsi. Jadi kami hanya mengonsumsi kacang-kacangan. Hampir tiap hari Joobi menyiapkan kari dengan kacang-kacangan sebagai bahan bakunya.

Tidak sedikit orang Indonesia yang merasa blenger ketika berada di India. Sajian India yang sangat kuat akan rempah terkadang terlampau berat. Namun, tidak dengan kari hasil olahan Joobi. Saya tidak pernah merasa begah dengan masakannya. Pernah satu kali dia membuat kari ikan yang agak masam dan mengingatkan saya akan asam padeh buatan ibu di rumah.

Mantan suami Joobi juga seorang tukang masak. Dia mengklaim dirinya sebagai si jago masak satu kelurahan. Klaim tersebut diucapkan ketika dia sedang mempersiapkan pesanan nasi biriyani daging kerbau.


Saya sempat melihat proses pembuatannya dan ikut mencicipi setelah semua masak. Patutlah memang mantan suami Joobi tersebut jumawa, nasi biriyani buatannya memang mantab! Oh, iya beberapa hari kemudian kami juga diajarkan cara membuat chicken 65 yang juga tak kalah lezatnya.

Duh, kok jadi lapar ya?

Sudahlah yah, tulisannya selesai di sini saja. Saya mau makan dulu. Hihihi…

Eh, jangan lupa yah mampir ke postingan man teman saya yang juga menulis soal kuliner favorit mereka saat traveling. Tautan tulisan mereka ada di bawah, ya!

Dita

Nita

*header pict: Pexels/ it’s me neosiam

7 Replies to “#CelotehTukangJalan: Traveling dan Kuliner Favorit”

  1. Setujuuuuuuuuuuh… Thailand memang juaranya kuliner enak, palagi murah-murah ehehehe. Tapi jenis makanan di atas aku belum pernah nyobain. Tahunya itu-itu aja, pad thai dan kawan-kawannya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s