TENTANG Penulis

EFI Yanuar

 Efi

MENURUT PIPIT: Saya kenal Efi sejak kuliah. Entah bagaimana mulanya hingga saya dan Efi akhirnya tergabung dalam lingkaran pertemanan yang sama. Yang jelas kemudian, Efi menjadi sahabat saya, Lucunya, bukan karena kami punya cara pikir dan gaya hidup yang sama. Atau, selera musik yang sama. Atau, mimpi yang sama. Atau, selera berpakaian yang sama. Namun, karena kami benar-benar berbeda.

Sehingga, saya tertarik mengetahui cara pikirnya yang tidak biasa dan memahami cara hidupnya yang sama sekali berbeda. Saya akan mendengarkan musik kesukaannya yang terasa asing atau mendengarkan mimpi-mimpinya yang kadang saya pikir terlalu beresiko.

Efi hampir tidak pernah setuju dengan apa yang saya percaya dan apa yang saya lakukan. Begitu juga sebaliknya. Tapi, dia hampir selalu jadi orang pertama yang tahu rencana saya atau kisah cinta saya atau krisis karir yang saya hadapi. Justru karena dia lebih suka bilang ‘tidak’ dari pada ‘iya’. Dia mengenal saya.

Ketika Efi mengambil keputusan, dia tidak akan berbalik lagi. Mungkin tidak akan dilakukan dalam waktu dekat, tapi dia pasti akan mewujudkannya. Efi menunda mimpinya untuk menjelajah negara lain selama beberapa tahun. Tapi, dia tidak pernah berhenti memikirkannya dan berusaha merealisasikan mimpi itu. Hingga akhirnya pada awal April 2014, dia benar-benar melakukannya.

Efi adalah salah satu perempuan paling berani yang pernah saya kenal. Melepaskan segala kemewahan yang dimiliki di negeri sendiri untuk merantau di negara lain, bukan keputusan yang mudah. Namun Efi, dengan kemantapan hati melakukannya. Ini cara Efi untuk memahami makna hidupnya. Perjalanan ini akan jadi pelajaran hidup yang paling berharga baginya. Begitu juga orang-orang yang mendengar ceritanya.


FITRIA Andayani

Pipit

MENURUT EFI: Nama dia tertulis sebagai ‘Pipit Jilbab’ dalam daftar kontak telepon saya. Diferensiasi saya lakukan karena ada dua teman sejurusan kuliah yang biasa dipanggil Pipit. Keduanya sama pintar pembedanya, yah, kain penutup kepala itu.

Jangan tanya bagaimana saya bisa akrab dengan Pipit, sebab semua bermula sekira sepuluh tahun lalu saat semester pertama kuliah dimulai. Kami berada dalam satu kelas yang sama, tetapi tempat duduk kami terpisah jauh. Pipit merupakan golongan terdepan, setiap kuliah duduk di barisan terdekat dosen, sedangkan saya mojok di samping jendela.

Awalnya kedekatan kami lebih dikarenakan sepersukuan, berdarah minang. Hanya saja dia beneran Made in Sumbar, saya dilahirkan di ibu kota. Besar di Bukittinggi, Pipit memang lebih mahir merangkai kata seperti pesohor sastra dari daerah yang sama (walau mungkin derajatnya belum sama). Saat masih berkuliah, tulisannya sering masuk di beberapa koran nasional dan lokal. Nilainya pun ikut terdongkrak karena itu.

Tetapi nilai bukanlah yang menjadi tujuan utamanya, tetapi honor menulis yang lumayan untuk kantong mahasiswa. Benar-benar Minang! Punya seribu satu cara bertahan hidup. Jalur karirnya sudah terlihat sejak masih hijau, menjadi wartawan. Dan, titel itu masih disematnya sampai tulisan ini dibuat sekarang dia mantap meniti karier sebagai dosen.

Satu hal yang menarik dari Pipit adalah bagaimana pasang surut perasaan dapat membawa dia ke jalur kehidupan yang berbeda. Pernah sekali dia sakit hati, demi mengobati perasaan kami berdua membuat rencana impulsif untuk keluar Indonesia selama beberapa hari. Hasilnya, menyenangkan!

Terkadang saya suka bersyukur untuk urusan kegalauan ini. Ya, kalau tidak mungkin Pipit tidak akan mengebu-gebu mengejar beasiswa sampai dua tahun terakhir. Jangan salah sangka, ya, galau bukan bahan bakar utama penyemangat meraih beasiswa, tetapi lebih karena memang ingin belajar lagi. Siapa yang tidak mau menikmati nikmatnya belajar di negara orang tanpa biaya? Saya juga mau, tapi saya malas belajar.

Pipit salah satu contoh dari bukti kegigihan. Niatnya yang terus dijaga untuk terus hangat memberikan hasil akhir menyenangkan, beasiswa ke negeri seberang. Ke negara yang memiliki sebuah grup musik dan novel saga penyihir yang merupakan favoritnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s